
sedang di rumah keluarga Raka, sosok Aryan sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, begitupun dengan putranya Anand yang nampak sibuk membaca buku.
"assalamualaikum... anand dan ayah kecil sedang apa?" tanya Lily yang langsung melihat kegiatan Aryan.
"waalaikum salam putri cantik ayah kecil, ayah sedang mengerjakan beberapa soal untuk ulangan, Lily mau bantu?" tanya Aryan yang memeluk bocah cantik itu.
"tidak ah, Lily pusing lihat angka punya ayah kecil, Anand ayo main," ajak gadis itu menarik bocah laki-laki yang dari tadi diam.
"mau main apa, panas di luar Lily.." kata Anand yang melihat suasana di luar rumah.
"ayo kita ke belakang saja, kita cari gedebong pisang atau apa gitu, aku ingin main," kata Lily memohon.
"baiklah, ayo kita main di belakang, dan membuat Mbah uti membuatkan pisang goreng," ajak Anand menarik Lily.
mereka pun lari, sedang tuan Alan duduk di samping Aryan, "kamu sepertinya sudah bangkit ya nak, karena terpuruk terlalu lama juga tak bagus, terlebih kamu memiliki seorang anak yang masih membutuhkan mu," kata tuan Alan.
"iya Daddy, tapi beruntung aku memiliki keluargaku yang sangat mendukungku, terlebih Aryan dan kakak ipar yang sudah membuatku sibuk dengan usaha ku yang kini makin besar," kata Aryan.
"syukurlah kalau begitu, sekarang fokus pada putra mu dan menata hidupmu, dan jangan memikirkan apa-apa dulu, karena kamu hrus bahagia terlebih dahulu bersama putra mu," kata tuan Alan.
"iya Daddy, terima kasih," jawab Aryan.
"wah pak besan sudah datang, bagaimana tidak kesasar?" tanya Raka.
"Alhamdulillah tidak, aku bawa navigasi kecil ku, tapi sudah hilang entah kemana, memang ada apa ini, kenapa meminta ku kesini?" tanya pria itu langsung.
"ah tidak ada, hanya saja nanti sore ada acara di rumah, kamu mau ikut, hanya kumpul-kumpul saja bareng orang-orang," ajak Raka.
"ayah ingin mencalonkan diri jadi lurah Daddy, tapi sepertinya dia mundur duluan karena tau musuhnya," ledek Aryan
"loh kenapa? aku bisa bantu kalau masalah biaya," kata tuan Alan.
"bukan masalah dana, aku sudah memiliki semuanya, tapi masalah perebutan kursi dengan cara ghaib, kamu tak tau dua dari tiga calon lawan ku memiliki dukun santet yang sangat kuat," jawab Raka menghela nafas.
"kamu bahkan punya tiga pria hebat, aryan bisa jadi juru kampanye, dua putra mu bisa menjagamu, menantu mu juga bisa menjaga dirimu, bahkan cucu perempuan mu itu juga bisa melihat orang yang berniat buruk," kata tuan Alan yang memang sedikit terkejut.
"ah kalau Lily tak kaget aku," jawab Raka.
"kami bawa pisang goreng," kata Lily yang membawa nampan berisi pisang goreng panas.
tuan Alan mengeleng pelan melihat cucunya itu, tak butuh waktu lama untuk gadis itu untuk makan lagi.
"Lily kamu baru selesai makan," tegur tuan Alan.
"tapi ini kesukaan Lily opa..." kata gadis kecil itu sedih.
__ADS_1
"sudah tuan tidak apa-apa, makan saja nak, ini memang sengaja embah buat untuk kalian, jadi nanti sore jadi acaranya?" tanya Wulan memastikan saja.
"pasti sayang, karena itu acara pengunduran diriku yang tak jadi ikut pemilihan kepala desa dari pada keluarga ku dalam masalah," kata Raka.
"baiklah, tadi aku juga sudah minta Arkan membeli buah dan Aryan tugas mu sekarang-"
"membantu Amma memasak, kalian berdua jangan ke dapur oke, main di sini bareng opa dan embah Lanang ya," kata Aryan.
"siap ayah," jawab keduanya.
Arkan dan Tasya sedang berada di toko buah untuk membeli jeruk dan semangka.
setelah selesai, mereka juga membeli kue untuk di bagikan nanti, tak hanya itu untuk membeli beberapa suguhan tambahan.
setelah selesai mereka pun memutuskan untuk pulang karena tak ada yang ingin di beli lagi.
sedang tuan Alan terlihat membantu Raka mengelar terpal di pelataran baru kemudian karpet.
dari kejauhan terlihat sosok Utami yang datang membawa sesuatu, "bude Utami!!!"
"halo cantik," kata wanita itu menyapa Lily.
tapi saat berjalan tak sengaja kaki Utami menyandung terpal hingga hampir jatuh tersungkur.
Utami pun menoleh ternyata itu adalah tuan Alan yang menahan tubuhnya, "hati-hati mbak, kamu bisa terluka,"
"ah terima kasih," jawab wanita itu dengn malu.
tuan Alan membantunya bangun, kebetulan mobil arkan dan Tasya juga sudah datang.
"aduh sepertinya ada yang jatuh cinta nih," kata Tasya melihat adegan itu.
"kamu ini ngomong apa, aku hanya membantunya," jawab tuan Alan.
"maaf saya harus kebelakang," kata Utami yang bisa makin malu jika terus di sana.
tuan Alan tak mengira jika wanita itu begitu cantik saat tak memakai baju dinasnya, bahkan aromanya begitu wangi.
"ciye opa ... lihat bude Utami begitu banget," ledek Lily.
"ssttss ... kamu masih kecil," kata tuan Alan tertawa mendengar ledekan cucunya itu.
setelah semua siap, Aryan juga sudah mandi, karena tubuhnya sudah penuh keringat karena membantu memasak.
satu persatu tamu berdatangan, semua pun nampak sedih saat mendengar keputusan dari Raka yang mengundurkan diri dari pemilihan.
__ADS_1
tapi itu sudah keputusannya, karena tak ingin menyeret keluarganya dalam perang ghaib yang mungkin bisa terjadi.
Tasya melihat Utami, "mbak mau tidak jika menjadi ibu sambung ku?" lirih Tasya.
"apa yang kamu bicarakan ibu juragan, saya hak pantes terlebih ayah sampean begitu tampan," kata Utami minder.
"aduh sayangnya cinta tak memandang fisik dan harta, tapi jika kalian berjodoh pasti bersatu," kata Tasya yang berdoa semoga wanita baik itu bisa menjadi ibu sambungnya.
semua tamu pun menikmati acara, terlebih Faraz juga memberikan sepatah dua kata untuk menghibur semuanya.
mereka pun makan bersama,setelah makan mereka sedang duduk sambil mengobrol.
tapi seseorang berjalan mendekat mengejutkan semua orang, dia berjalan pincang sambil membawa sesuatu di tangannya.
di antara kakinya mengalir darah, bahkan kondisinya terlihat menyedihkan dengan tubuh dan rambut acak-acakan.
Aryan dan semua orang pun kaget melihatnya, bahkan para tamu mundur dan para keluarga Raka yang kini melihat wanita itu, "Nayla ..."
"ya Tuhan kamu kenapa nak," kata Wulan yang ingin menghampiri wanita itu karena khawatir melihat kondisinya, tapi di tahan oleh wanita itu.
"tak perlu kamu sok peduli padaku, ini yang putra mu inginkan bukan, lihat kondisiku begitu menyedihkan bukan, aku mendapatkan perlakuan buruk dari pria busuk itu, dan aku ingin mengantarkan bayiku untuk keluarga mu sebagai hadiah perpisahan kita," kata Nayla yang begitu menyedihkan.
Tasya memeluk dua anak itu agar tak melihatnya, Nayla melempar mayat bayi yang di bawanya dengan wajah datar.
bahkan bayi itu masih lengkap dengan ari-ari menempel dan masih penuh darah.
"kau gila!!" bentak Aryan melihat itu.
"itu hadiah dariku, kita tak memiliki hubungan lagi, dan aku juga tak Sudi membesarkan putra bodoh seperti Anand juga, jadi itu tanggung jawab mu," kata wanita itu yang langsung pergi.
bahkan wanita tak peduli dengan darah yang mengalir diantara kakinya itu, dari kejauhan tampak seorang pria menariknya masuk kedalam mobil dan membawanya pergi.
sedang Wulan mengambil mayat bayi itu, kenapa Nayla bisa melakukan hal sejahat ini, bahkan bayi ini bukan mati sendiri, tapi terlihat bekas jeratan tali di lehernya.
"ya Allah, bayi ini di bunuh setelah di lahirkan," tangis Wulan melihat kondisi bayi di tangannya.
tak terduga, melihat itu tubuh Tasya limbung karena syok. Lily dan Anand pun kaget melihatnya pingsan.
"mami!!" teriak dua bocah itu.
"Tasya!!" kaget Utami yang melihat tubuh Tasya sudah di lantai.
mendengar itu Arkan menerobos kerumunan orang dan kaget melihat istrinya.
bahkan dari sela kaki Tasya juga mengalir darah, "Lily di rumah, ayah harus ke rumah sakit," panik Arkan.
__ADS_1