
Aryan masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, terlebih kedua mertuanya selama ini begitu baik.
"kenapa...." tangis Aryan yang terisak sedih.
"aku juga tak tau, aku harus menyentuh sesuatu dulu baru bisa melihatnya,tapi istriku," kata Arkan yang bimbang.
tuan Alan pun menghampiri mereka,"biar Daddy yang jaga, kebetulan tadi Tasya juga menelpon Utami untuk menjaganya, karena sepertinya dia sadar sesuatu, tapi tolong bawa Lily ya, tak baik jika dia berada di sini,"
"baiklah ayah, aku akan mengajaknya dan menyelesaikan semua masalah ini," kata Arkan.
Aryan juga bangkit dan Faraz langsung mengendong Lily untuk mengajaknya pulang.
mereka pun bersama untuk mengetahui apa yang terjadi, Arkan juga sudah berpamitan pada istrinya itu.
mereka pertama-tama menuju ke rumah dari orang tua dari Nayla, saat sampai terlihat begitu sepi.
Arkan pun mencoba menyentuh dinding rumah, Arkan terduduk bersandar di dinding
orang tua Niken keluar dengan wajah ketakutan, mereka juga melihat ada sebuah mobil yang menunggunya.
sedang Nayla berdiri di pegang seseorang, dua tak bisa lari atau mengejar orang tuanya.
"ayo Bu, itu tak di online sudah menunggu," kata ayah Nayla yang panik.
mereka pun langsung pergi dari rumah itu, Arkan pun kembali ke tubuhnya.
dia melihat Lily sedang bermain melihat bunga, gadis itu pun menemukan sesuatu, sebuah kalung.
"papi!!!" panggil Lily menunjukkan benda itu.
Arkan yang baru bangun pun bergegas menghampiri putrinya itu sebisanya.
dia terlihat begitu khawatir, dan saat menyentuh Kakung itu tiba-tiba Arkan kembali melihat kilasan-kilasan.
dia melihat kedua orang tua dari Nayla yang ketakutan. Arkan pun akhirnya pingsan.
Faraz dan Aryan membawanya pulang, tapi mereka lupa dengan kalung yang di pegang pria itu.
Arkan pun berada di kenangan yang tertinggal di kalung itu.
"kamu gila Nayla, kenapa kami harus menyerahkan rumah ini padamu, bahkan kamu tau jika rumah ini tak di minta juga oleh Aryan karena menghormati kami, sedang kamu," marah ayah Nayla.
__ADS_1
"aku mohon pak, jika tidak dia bisa membunuhku, kenapa kalian begitu keras kepala," kata Niken yang sudah menangis.
"apa maksud mu?"
"dia bilang aku bisa membunuhnya, jika malam ini dia tak menyerahkan rumah ini kepadaku, kenapa seperti itu, karena gara-gara anak bodoh kalian berdua, aku juga dikeluarkan dari sekolah tempat ku mengajar, dan di usir dari rumah, sudah kewajiban kalian orang tuanya untuk menggantikan semua hutang-hutang anaknya," kata pria itu tersenyum sambil mencekik ayah Nayla.
"pak Anas tolong jangan sakiti mereka, mereka akan pergi, itu janjinya bukan," kata Niken.
"baiklah aku tunggu buktinya, karena kami tau aku bukan pria yang bisa bersabar bukan," kata pria itu.
"baiklah aku mengerti," jawab Nayla.
pria itu kini duduk sambil berongkang-ongkang kaki, dan menunggu kedua orang itu pergi dari rumah itu.
Nayla menarik kedua orang tuanya ke dalam rumah, mereka pun berbicara sambil berbisik, "ayah, ibu aku mohon tolong pergi dan cari mas Aryan atau mas Arkan minta perlindungan mereka, jika tidak kalian bisa di habisi, karena pria itu sangat kejam,"
"Nayla dia itu siapa, apa ayah dari anak ku?" tanya ayahnya.
Nayla mengangguk sedih, "dia tidak seperti itu selama kami melakukan hubungan gelap ayah, tapi semuanya berubah dengan cepat, aku juga bingung kenapa dia jadi sejahat ini, tapi kalian harus benar-benar pergi dan meminta pertolongan, mengerti,"
"baiklah aku mengerti," jawab ayah Niken.
mereka pun bersiap kemudian bergegas pergi, mobil online yang akan membawa mereka juga susah datang dan mereka pun pergi dengan ketakutan.
melainkan mobil yang sudah di siapkan oleh pria jahat itu, dia begitu dendam pada Nayla karena dia kehilangan segalanya karena wanita itu.
sesosok arwah datang dan mengajak Arkan pergi melihat sesuatu, "kenapa ini begitu gelap?"
"ikuti saja, kamu akan tau selanjutnya," jawab arwah itu.
mobil itu tak membawa keduanya ke rumah sang besan, "kamu ini gimana, kami ingin pergi ketitik lokasi," marah ayah Nayla.
"tapi sayang kalian harus ke tempat kami dulu sebelum pergi," jawab pria itu tersenyum menyeringai.
sebuah pukulan keras membuat kepala dari ayah Nayla pecah dan mengucur darah segar.
melihat itu ibu dari Nayla kaget dan langsung pingsan melihat suaminya yang mati berlumuran darah dengan luka parah.
mereka sampai di sebuah bukit yang terkenal karena pesugihannya, terlebih tempat itu juga cukup jauh dari pemukiman.
mereka pun sudah menyiapkan sebuah lubang di sana, mayat ayah Nayla di buang begitu saja.
__ADS_1
sedang ibu Nayla sudah di bawa ke sebuah gubuk di samping lubang itu, mereka bersepuluh sedang menggilir wanita itu.
bahkan mereka seakan tak ada puasnya, setelah itu mereka melempar tubuh wanita itu yang masih hidup bersama mayat suaminya.
kemudian menguburkannya hidup-hidup, mereka bahkan tertawa saat melakukannya.
"siapa pria itu, kenapa begitu biadab," gumam Arkan.
"dia sudah mati, tinggal mereka bersepuluh yang tak tersentuh hukum, tolong buat mereka mengakui semuanya," mohon arwah itu.
"baiklah Bu, aku mengerti ..." kata Arkan yang di tarik sesuatu hingga kembali ke tubuhnya.
dia pun muntah, tapi hanya air yang keluar dari mulutnya terlebih dia memang tak makan apapun dari pagi.
tubuhnya bahkan sudah sangat lemas karena melakukan perjalanan tadi.
"bagaimana keadaan mu," tanya Faraz khawatir.
"mereka di bunuh dengan kejam, bahkan ibu Nayla di kubur hidup-hidup oleh pria suruhan dari kekasih gelap Nayla,"kata Arkan yang melepaskan kalung itu dari tangannya.
"apa, manusia mana yang bisa melakukan hal sekejam ini, aku harus menuntut balas," kata Aryan.
"kamu tau rupanya memang," kata Arkan yang masih sedikit kelelahan.
"tapi dia bisa menggambar nya," sakit Faraz.
Arkan pun menaruh tangannya di pundak Aryan, dan pria itu mulai menggambar apa yang di lihat arkan.
sedang Faraz menjaga aekan agar tak kembali pingsan karena kondisi pria itu masih sangat lemah.
sudah sembilan gambar yang jadi, tapi satu lagi wajah yang tak bisa di ingat olehnya.
terlebih pria itu tak sepenuhnya di lihat oleh arkan, dan dia sekilas hanya melihat matanya.
Lily tersenyum sambil bermain dengan Kong, gadis itu melihat sesuatu tapi mengabaikannya karena dia tak peduli sedikitpun.
sedang Ki Sesnag menariknya dan membuat makhluk itu pergi. Aryan masih melukis mata itu saja, dan tak bisa menggambarkan keseluruhan wajah pria itu.
"kenapa Arkan?" tanya Faraz
"maaf, aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena dia begitu misterius," jawab Arkan.
__ADS_1
"tak masalah, kita sudah mendapatkan sembilan orang, tapi bagaimana cara mencari dalang itu?" bingung Aryan.
"kita coba ke rumah guru bernama Anas Ubaidillah, kamu harusnya tau karena kalian berada di sekolah yang sama," kata arkan.