
semua sudah menunggu kedatangan Faraz, Wulan yang tau semua cerita dari suaminya pun gregetan sendiri.
pasalnya Raka terlalu ceroboh karena tau jika cucunya itu memiliki bakat yang istimewa tapi malah teledor begini.
Tasya dan arkan kebetulan pulang berbarengan, dan mereka heran melihat Amma dan ayah mertua duduk di luar rumah.
keduanya pun menyapa, dan tak lupa mencium tangan keduanya, "tumben Amma dan ayah masih di luar di jam segini, tuh anak-anak belum mandi loh yah," kata arakan bingung.
"tolong mandikan ya," kata Raka cuek.
"tunggu sebentar, ini kurang satu, dimana Lily, biasanya dia akan sangat senang saat mendengar suara motorku datang," kata Arkan.
mobil Faraz datang, mereka alun menoleh ternyata gadis kecil itu sudah melambaikan tangan dari mobil.
"mami... papi..." panggilnya.
melihat itu, tasya langsung menghampiri putrinya dan menggendongnya
"bagaimana bisa Lily bersama mas Faraz, bukankah main bersama ayah," tanya Tasya heran.
"aku juga tak tau, tanya anaknya deh," jawab Faraz yang juga bingung mau jawab apa.
tapi tatapan Arkan tau jika saudaranya itu menyembunyikan sesuatu, "malam ini, aku akan membantumu," kata Arkan menepuk bahu Faraz.
"tentu, karena aku memang membutuhkannya," jawab Faraz.
"jadi Lily... kamu kok bisa sama ayah besar, bukankah tadi kamu main bersama embah?" tanya Tasya pada putrinya itu.
"tadi Lily memang .ain dengan embah, tapi Lily mau main mandi bole, jadi Lily ke tempat mandi bola, eh pas Lily buka pintunya, Lily sudah ada di tempat luas, terus ayah besar peluk Lily," jawab gadis itu.
mendengar ucapan gadis kecil itu Arkan langsung menyentuh ubun-ubun putrinya.
setelah itu dia melihat bahu dari Lily, semuanya normal, "bagaimana bisa, siluman kera," batin arkan.
"maaf tuan, aku tadi tak sengaja membawa Lily berteleportasi, karena aku merasakan hawa yang mencekam, aku hanya ingin melindungi putrimu yang terlalu aktif ini," jawab kera itu dengan suara batin juga.
"baiklah kalau begitu, Lily kamu jangan suka lari-larian sendiri kalau di tempat ramai oke, kamu bisa dalam bahaya," kata Arkan mengingatkan putrinya itu.
"baik papi... maafkan Lily ya Mbah kung," kata bocah itu dengan lucu.
"baiklah, sekarang ayo kita mandi karena sudah sore, dan Anand mau mandi di sini atau pulang, pasti bunda mu khawatir juga," kata Tasya mengandeng bocah itu.
__ADS_1
"tidak, bunda lagi pusing putar-putar, ayah juga pusing," jawab bocah kecil itu.
"eh kenapa nak kok bunda pusing putar-putar?" tanya Wulan yang khawatir.
"soalnya bunda ingin ketemu BTS Mbah uti," jawab anand polos.
"mampus... sampai lahir juga susah itu," kata Arkan tertawa.
Raka pun tertawa juga, tapi dia tak bisa berkomentar banyak, karena Aryan memang sudah sibuk dengan keluarganya.
Niken baru pulang dari kampus, dia pun melihat sang ayah yang sedang merapikan beberapa tanaman
"assalamualaikum ayah, sedang apa?" tanyanya.
"waalaikum salam, kamu sudah pulang, ayah sedang merapikan tanaman cincau hijau ini, biar gak merambat di rumah," jawab Aris.
"owh... bunda dimana?" tanya Niken yang duduk di teras.
"ada apa mencari bunda, sudah kangen ya?" tanya ayu yang keluar membawa es cincau yang baru di buatnya.
"wah apa ini? kebetulan sekali aku sedang haus," jawab Niken yang langsung meminum es itu.
mereka pun tertawa bersama, Aris dan ayu merasa senang putrinya sudah kembali ceria.
Niken pun memilih mandi karena merasa gerah, tapi pas dia mandi adalah pas senja kala.
Niken mandi di bawah guyuran shower, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuhnya.
sebuah tangan terasa memeluknya, dia menoleh dan tak melihat siapapun.
"mungkin hanya perasaanku," gumamnya.
dia pun melanjutkan mandi, tapi tiba-tiba sesuatu mendorongnya hingga menabrak dinding dengan keras.
"argh..." teriak Niken yang kesakitan memegang dadanya.
entah apa yang mendorongnya, tapi itu sangat sakit baginya, ayu datang dan menantu Niken yang terduduk lemah di bawah shower.
"kamu kenapa nak!" kata ayu.
"tidak tau bunda, ada sesuatu yang mendorongku dengan keras, tapi aku tak tau apa itu," jawab Niken.
__ADS_1
ayu membantu putrinya keluar dari kamar mandi, Aris memeriksa tempat itu tapi kosong.
dia pun menabur garam, tapi di sudut kamar mandi itu tersenyum sosok hitam yang begitu besar.
Niken pun masih merasakan sakit, tapi ayu meyakinkan wanita itu juga Semuanya baik-baik saja.
"malam ini kamu tidur bersama Niken ya Bun," kata Aris
"tidak perlu ayah, Niken bisa tidur sendiri, lebih baik ayah dan bunda nikmati waktu kalian," kata Niken yang tak mau mengganggu.
"tapi ayah khawatir nak," jawab Aris.
"sudah ayah,mungkin tadi Niken cuma terpeleset tapi merasa terdorong, mungkin hanya halusinasi Niken saja," katanya meyakinkan kedua orang tuannya.
"baiklah kalau begitu, lain kali jangan mandi pas magrib ya pamali," kata ayu mengingatkan.
"iya bunda, iya," jawab Niken
dia pun mulai mengerjakan semua tugas kuliahnya yang di berikan oleh Faraz.
di saat itu juga Niken merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya.
tapi setiap di cari itu pasti tak ada karena dia cuma sendirian di dalam kamar.
"haih... kenapa aku merasa ada yang mengawasi ku dari tadi," gumamnya.
tapi dia pun menampiknya, dan mulai menyetel suara orang mengaji dari ponselnya.
tiba-tiba suasana berubah menjadi begitu adem, dan Niken sangat menyukai aura positif itu.
makhluk itu pun pergi karena tak kuat mendengar lantunan ayat kursi, dia datang untuk menuntut balas.
pasalnya gara-gara Niken, dia kehilangan seseorang yang dia cintai demi menebus semua.
dia menunggu di sebuah pohon mangga di depan rumah Aris yang kebetulan kosong.
tapi sosok itu terkejut saat melihat makhluk berbentuk harimau putih yang keluar dari rumah itu.
bahkan ada juga sosok burung yang bersamanya, keduanya pun seakan tau kedatangan durinya.
mereka pun berusaha mengejar dirinya tapi beruntung dia bisa bersembunyi.
__ADS_1
"sialan... kenapa sekarang wanita itu di jga lagi oleh harimau itu, padahal pemiliknya sudah menikah," kata makhluk itu marah.
padahal dia salah, karena harimau itu bukan milik Arkan tapi milik seseorang yang khusus menjaganya karena permintaan dari ustadz Arifin.