
Tasya sedang menemani suaminya itu makan malam, terlebih pria itu baru saja memuntahkan semua isi perutnya.
"mas makan dulu, biar aku menidurkan Lily di kamarnya," kata Tasya yang madih mengendong putri kecilnya.
"tidak, bisakah dia tidur di tempat kita sayang," kata Arkan.
"baiklah," jawab Tasya.
setelah menidurkan putrinya, dia pun kembali ke meja makan, tapi ternyata Arkan sudah selesai makan, Tasya pun memberikan minuman pada suaminya itu.
"sebenarnya kalian ini dari mana, dan kenapa sampai ada mahluk yang mengikuti seperti tadi?" tanya Tasya tak habis pikir.
"aku baru selesai menolong arwah pria bopeng itu sayang, tapi ternyata kami masuk desa yang terkenal dengan ilmu hitamnya," jawab arkan.
"terus ?"
"kami sedikit kurang waspada dan akhirnya kami hampir di jadikan tumbal, dan mahluk tadi itu adalah pemilik warung yang kami sempat berhenti untuk makan," kata arkan menerangkan.
"memang kalian tak baca doa, kenapa begitu mudah?" tanya Tasya heran.
"bukan begitu, mungkin karena ilmu mahluk itu yang bisa menyesatkan, itulah kami jadi sedikit kurang waspada," jawab Arkan lagi.
"tapi ini bisa dijadikan pelajaran untuk mas dan mas Faraz, jika tak semuanya mahluk itu baik, menurut ku aneh saja dengan makhluk itu dari awal," jawab Tasya.
"ya kamu benar, sudahlah sekarang kita tidur dulu yuk," ajak Arkan.
malam itu saat Arkan dan Tasya bergabung dengan Lily untuk tidur, tapi tanpa terduga ada seseorang melihat rumah keduanya.
saat ingin melemparkan sebuah santet melalui media tanah kuburan, Suni muncul dan langsung menyerang pria itu.
pria itu pun terluka parah, dia tak mengira jika rumah itu memiliki penjaga sekuat itu.
bahkan tanah yang seharusnya dia lemparkan malah jatuh mengenai dirinya sendiri.
"semoga tak terjadi apa-apa padaku, dasar mahluk sialan," gumam pria itu.
pria itu kembali pada dukun yang dia percaya, dan dukun itu menyembuhkan luka yang di sebabkan oleh Suni.
tapi bodohnya pria itu, dia tak bilang jika tanah kuburan yang sudah di mantrai itu kena Padanya.
keesokan harinya, Arkan sudah tak menemukan istrinya, "sayang sudah bangun?" sapa Arkan melihat kedalam kamar mandi.
tapi Aris melihat Tasya sedang memegang sesuatu, "ada apa?"
__ADS_1
"sepertinya keinginan Lily terkabul," jawab Tasya menunjukkan benda itu.
Arkan yang sadar pun langsung memeluk istrinya itu, dia tak mengira jika keduanya akan secepat ini di percaya lagi
"Alhamdulillah, tenyata kabar bahagia lagi, sepertinya Daddy harus tau karena dia sudah sering bertanya tentang cucu lagi," jawab Arkan.
"baiklah, nanti kita beritahu, dan lagi aku harus melakukan adat dodolan bukan, kalau tidak salah Amma pernah membahasnya," kata Tasya.
"iya, dan itu harus terjadi lagi bersama dengan Nayla," jawab Arkan.
"papi .. mami... sedang apa di kamar mandi?" tanya gadis kecil itu yang baru bangun.
"putri cantik Papi sudah bangun, Lily mau adik tidak?" tanya Arkan dengan senang.
gadis itu mengangguk, "sekarang di perut mami ada calon adik kecil Lily, jadi mulai sekarang Lily harus menjaga mami ya," pesan arkan.
"iya papi," jawab Lily yang langsung terlihat ceria.
akhirnya Arkan bergegas ke dapur untuk masak dan Tasya menyiapkan putrinya itu untuk sekolah.
tapi hari ini dia juga ikut ke sekolah untuk menemani dan melihat kegiatan di sekolah putrinya itu.
hari ini ada acara pertunjukkan bakat yang dilakukan oleh semua murid TK itu.
setelah mengantarkan Tasya dan Lily, dia pun langsung pergi, terlihat anand yang datang bersama ibu dan ayahnya.
"selamat pagi bunda, ayah kecil," sapa Lily dengan sopan pada keduanya.
"selamat pagi cantik, kemana Arkan? apa dia tak datang?" tanya Aryan.
"tentu saja datang, dia sedang ada sedikit masalah yang harus di selesaikan, mari kita masuk bersama," kata Tasya.
"ayo kakak ipar," jawab Nayla yang tersenyum merangkul Tasya.
sedang dua bocah itu sudah di panggil untuk bersiap, Aryan sekarang memang memilih untuk fokus dengan dunianya sendiri tak ingin ikut campur seperti dulu.
dia ingin fokus membesarkan Anand dan calon anaknya nanti, terlebih Nayla juga tak bisa terus terancam jika dia terus ikut campur dengan masalah orang lain.
Arkan sampai di rumah Faraz, yang ternyata sedang ada Niken di dalam rumah itu.
"maaf apa aku menganggu?" tanya Arkan
"tidak, masuklah, ada apa ini ngomong-ngomong sampai kamu datang kesini," tanya Faraz melihat adiknya itu.
__ADS_1
"cuma mau menyampaikan undangan dari ustadz Arifin, kepada mu dan keluarga om Aris, dan bagaimana kondisi mu Niken? apa Semuanya baik?" tanya Arkan yang menaruh dua undangan itu.
"Alhamdulillah baik, dan aku sudah tak mengalami mimpi buruk atau apapun itu," jawab Niken.
"apa gangguan-gangguan juga sudah tak ada?" tanya Arkan.
"ya beberapa kali masih ada gangguan, sepertinya keluarga makhluk itu masih tak terima," jawab Faraz.
"tapi sebenarnya ada yang aneh, aku sedikit merasa heran, karena keluarga itu tak sedikitpun mencari Niken, padahal masih ada dua anak pada mereka?" kata arkan.
"mungkin mereka fokus besarkan sendiri, itulah kenapa mereka tak mencari Niken," jawab Faraz.
"semoga saja, kalau begitu aku pamit, karena hari ini ada acara di sekolah Lily, permisi ya," kata Arkan yang langsung pergi.
"bilang besok ayah besar akan mengajaknya main," kata Faraz pada arkan.
"baiklah, dan terima kasih karena besok aku harus membawa Tasya ke dokter," jawab Arkan yang menjawab sambil turun dari lantai atas
Faraz melihat wajah Niken yang sedikit murung, "sudahlah,dia sudah bahagia dengan keluarganya, sekarang kamu juga harus maju dan mencari kebahagian mu," kata Faraz melihat Niken.
"bagaimana bisa, aku bukan gadis suci lagi, bahkan aku sudah tercemar oleh makhluk ghaib," jawab Niken sedih.
"percayalah, jodoh pasti sudah ada yang mengatur, mungkin di suatu tempat jodoh mu sedang mencari mu," kata Faraz.
"baiklah pak dosen aku harap begitu, dan sepertinya kita harus berangkat jika tak ingin telat masuk," kata Niken yang mengambil tugas skripsinya yang sedang dalam pengawasan dari Faraz.
"ah iya aku hampir lupa," jawab Faraz
keduanya pun pergi dengan membawa mobil masing-masing, Niken ke kampus karena ada sesuatu yang penting
sedang Faraz harus memenuhi tugasnya pada seluruh mahasiswa yang sudah menunggunya.
mereka berangkat dan Niken memilih mampir untuk membeli ayam goreng kesukaannya.
tapi tak terduga ada dua orang anak laki-laki yang menyapanya. "mama..." panggil Keduanya
Niken pun kaget, tapi seorang wanita setengah baya datang menghampiri keduanya, "ah maafkan kedua cucuku, mereka mungkin merindukan mamanya," kata wanita itu.
"iya Bu tidak apa-apa, kalian mau ayam krispi ini enak loh, kebetulan Tante beli banyak, ini untuk kalian," kata Niken memberikan ayam itu.
"terima kasih Tante," jawab keduanya yang kemudian pergi.
sesaat perasaan Niken begitu akrab dan merasa begitu tersentuh mendengar sebutan mama itu.
__ADS_1
tapi dia harus sadar dan tak boleh terbuai, dia pun kembali membeli ayam dan setelah itu pergi ke kampus.