
Arkan langsung tertarik masuk kedalam tubuhnya, begitupun Aris yang langsung muntah darah.
"ada apa Amma, kenapa Amma memaksa mu untuk kembali," kata Arkan.
tapi pria itu kaget dan langsung berdiri saat melihat Niken di sebelahnya.
tanpa bicara Wulan menarik Arkan, "tugas mu selesai, sekarang kita tak harus berada di sini."
Wulan nampak marah, Aryan dan Faraz pun mengikuti sang Amma yang pergi, semua anak didik ustadz Arifin kaget dan memberikan mereka jalan.
"tunggu tapi roh dari wanita ini belum kembali, itu tugas mu Arkan yang menjemputnya," kata ustadz Yunus.
"cukup sekarang jasadnya sudah di sini, itu sudah lebih dari cukup," kata Wulan.
"apa maksudnya, Arkan bagaimana dengan Niken," kata Aris yang kemudian memeluk putrinya yang terlihat begitu pucat.
"maaf Amma, aku harus menyelesaikan ini," kata Arkan yang melepaskan genggaman tangan Wulan.
Wulan pun melihat putranya, dia pun tersenyum kearah Arkan, "baiklah selesaikan saja, toh istrimu juga akan pergi, kenapa dia harus bersama keluarga yang tak tau diri, bahkan baru saja dia menyelamatkan Faraz," kata Wulan yang berhasil menghentikan langkah dari Arkan.
"apa maksud Amma," tanya Arkan.
"semua orang di sini tak buta Arkan, mereka bisa melihat bagaimana dia, tapi kamu memilih Niken bukan, silahkan, tapi Amma memilih menantu amma dan cucu Amma," kata Wulan yang langsung meninggalkan tempat itu.
"Amma gawat, Anastasya di bawa pergi sekarang juga, bahkan Daddy Anastasya menyewa pesawat agar mereka bisa kembali ke Singapura," kata Nayla yang membaca pesan dari pria itu.
"tidak boleh, ayah kita ke bandara," kata Wulan.
"apa yang terjadi, tidak bisa dia istriku!!" kata Arkan yang langsung pergi berlari dari tempat itu.
"maaf ustadz Yunus, keluarga kami berantakan, maaf... silahkan anda yang melanjutkan, tapi aku tak bisa, terlebih melihat adik iparku terluka seperti ini,ini terlalu jauh," kata Faraz dan Aryan yang pergi dari sana.
__ADS_1
Anna menenangkan ayu yang nampak syok, sedang Aris memeluk tubuh putrinya.
"semuanya.. kita lanjutkan, Gus tolong santri di bimbing," kata ustadz Yunus.
pria itu masuk kedalam alam ghaib, dan ternyata roh dari Niken di tahan oleh suami ghaibnya.
"lepaskan wanita itu, atau aku tak segan-segan lagi," kata ustadz Yunus.
"cih manusia biasa berani mengancam ku, kamu tak tau siapa aku," kata Azam menantang ustadz Yunus.
tak terduga ki item datang setelah membereskan semuanya, "sudah ku katakan,jangan membuatku marah, lepaskan dia!!" teriak ki item yang langsung membanting sosok Azam.
"baiklah ustadz bawa pergi wanita itu, dan pastikan dia tak mendekati tuan kami dan menggoda dia, atau kami akan membuatnya menjadi gila," kata Ki item.
"baik, semoga Allah membalas kebaikan anda," jawab ustadz Yunus.
pun mengajak Niken untuk pergi, tapi langkah wanita itu nampak begitu berat.
"nak pulang... bunda dan ayah begitu merindukan mu..." tangis Keduanya.
Niken pun terbatuk-batuk dan sempat muntah darah hitam, Anna memberikan air untuk wanita itu.
"tolong jaga dia, dan pesan dari khodam penjaga keluarga Rakasa, jangan biarkan dia mendekat atau bahkan berani menggoda Putra-putra keluarga itu, jika tak ingin gila atau yang terburuk, dia akan mati jika tetap nekat," kata ustadz Yunus yang bangun.
akhirnya Niken pun di bawa ke pondok untuk melakukan rukyah, wanita itu terus menjerit.
bahkan suara jeritannya begitu keras, dan setiap muntah pasti yang keluar adalah darah hitam pekat, dengan aroma busuk yang begitu menusuk.
"pak Aris dan ibu, sebaiknya Niken biarkan tinggal di sini untuk menjaga kondisinya, dan agar dia tak di ganggu lagi oleh makhluk itu, terlebih tiga bulan kedepan adalah waktu yang sangat riskan untuknya," kata ustadz Arifin.
"baik ustadz, kaki mempercayakan putri kami di sini, pasti itu adalah pilihan terbaik," jawab Aris
__ADS_1
keduanya pun pulang, "ayah, kita juga harus berterima kasih pada keluarga Rakasa, bahkan berkat Arkan jasad Niken kembali," kata ayu.
"iya bunda, bahkan di alam sana tadi, dia begitu melindungi Niken, tapi memang dia tak ingin bersentuhan sedikitpun dengan putri kita," jawab Aris.
"tapi bagaimana saat dia kembali mereka malah berpegangan tangan?" tanya Ayu.
"mungkin ini takdir," kata Aris.
"tidak ayah, ini bukan takdir karena aku tadi bisa melihat bagaimana istri Arkan begitu melindungi keluarga suaminya, bahkan dia yang sedang sakit rela melakukan itu," kata ayu yang merasa bersalah pada Anastasya.
"memang apa salahnya, hanya pegangan tangan," tanya Aris.
"jika bunda di posisi wanita itu, mungkin bunda tadi sudah membunuh dan menghabisi wanita yang berani menyentuh suamiku," kata ayu dingin.
Aris terdiam, dia juga tau sebaik apapun wanita, jika sudah cemburu pasti mengerikan.
rombongan mereka memutuskan untuk pulang, ternyata mobil itu masih berada di rumah.
dan benar Anastasya susah mengemas semua barangnya, Lily yang melihat kedatangan Arkan pun berlari ke arah ayahnya itu.
"sayang tolong jangan pergi," kata Arkan memohon.
"mas janji hanya menolongnya, tapi kenapa harus kalian menunjukkan cinta kalian lagi, kenapa!" kata Anastasya.
"tidak seperti itu, itu aku juga tak mengerti, mungkin tanpa aku sadari dia menyentuhku saat perpindahan alam tadi," kata Arkan menjelaskan.
"tapi aku lelah.... aku capek..." tangis Anastasya.
"tolong jangan bilang seperti itu, aku tau jika ini sangat melukaimu, tapi jika kamu meninggalkan aku dan Lily, aku bisa gila, maafkan aku... ini terakhir kali.." mohon Arkan yang mendekat ke arah Anastasya.
"susah Anastasya, kamu masih dalam kondisi yang baik, pikiran mu masih kacau, kondisimu juga masih sangat buruk, Daddy akan pulang sendiri, karena pekerjaan tidak bisa di tinggal. Daddy tau kamu begitu mencintai suamimu, kamu hanya cemburu nak, jangan seperti ini, kamu kuat, jika kamu pergi dari sisinya, Daddy yakin kamu akan sedih dan mengurung diri lagi seperti dulu," kata tuan Alan.
__ADS_1
"Amma mohon ya sayang, kita bicarakan ini baik-baik," kata Wulan membujuk menantunya itu.