
ustadz Arifin yang tau kejadian dari Niken terjadi lagi, wanita itu hilang tanpa jejak lagi dan membuat heboh satu pondok.
tapi ustadz Arifin langsung mendatangi rumah dari keluarga Rakasa.
pasalnya hanya keluarga itu yang bisa membantu mereka, bahkan mungkin dia harus melakukan apapun.
Anastasya sedang bermain dengan putri dan keponakannya, mereka sedang bermain ketangkasan sambil belajar.
"assalamualaikum..." sapa ustadz Arifin.
"waalaikum salam ustadz Arifin... maaf apa ada yng bisa di bantu?" tanya Anastasya dengan sopan.
ustadz Arifin sedikit menundukkan kepalanya, karena Anastasya yng belum memakai jilbab.
ya wanita itu belum siap untuk menutup auratnya, sedang Arkan juga tak mempermasalahkan hal itu.
terlebih istrinya itu juga baru saja belajar menjadi seorang muslimah.
"ah maaf, apa suamimu atau saudara ipar mu ada, aku ingin bertanya sesuatu dan mungkin akan butuh bantuan mereka," kata ustadz Arifin.
"ah begitu, baiklah silahkan masuk dulu, Lily... anand kalian main dulu ya," kata Lily pada kedua bocah itu.
"baik mami.." jawab keduanya.
Anastasya langsung menuju ke belakang untuk memanggil suaminya dan mertuanya.
"ayah... papi... ada ustadz Arifin di depan, sepertinya ada hal yang penting untuk di katakan," kata Anastasya.
"baiklah nak, tolong buatkan minum," kata Raka yang langsung berjalan ke arah depan.
sedang Arkan masih sempat mengecup pipi Anastasya, dan karena kesal dia pun memukul suaminya itu.
"dasar," kesal Anastasya.
Wulan hanya tersenyum saja, dia melihat Anastasya sibuk membuat minum untuk tamu.
"Amma... boleh aku bertanya sesuatu?" lirih Anastasya.
"iya sayang ada apa?" kata Wulan yang heran melihat menantunya.
"itu Amma, tadi saat ustadz Arifin datang, dia menunduk melihat ku, memang apa pakaian ku salah?" tanya Anastasya.
dia meras tak nyaman saat ada orang yang terlihat tak nyaman di sekitarnya, itu berarti ada yang salah padanya.
"tidak sayang, itu hanya ustadz Arifin sedang menghindari tatapan yang bukan pada mahramnya, terlebih kamu belum berhijab dan takut akan berdosa dan yang menanggungnya adalah suamimu," kata Wulan.
"apa... mas adakan yang menanggung dosanya?" kaget Anastasya.
__ADS_1
"iya sayang, tapi kamu juga baru saja masuk Islam jadi masih tahap belajar jadi tak usah risau ya," kata Wulan.
Anastasya pun mengerti, dan seharusnya dia menutup auratnya, tapi dia belum siap.
"sudah sekarang biar amma atau kamu yang mengantarkan minuman ini ke depan?" tanya Wulan.
"bisa tolong Amma," lirih Anastasya.
Wulan tersenyum dan membawa minuman dan kue itu ke depan, sedang Anastasya memilih ke dalam kamar.
dia melihat dirinya kedalam cermin di dalam kamar. meski dia sudah memakai baju tertutup.
tapi jilbab belum bisa dia pakai, dia pun mencari di lemari, sebuah jilbab yang pernah di berikan oleh Wulan.
itu jilbab berbahan kaos yang dingin, dan simpel, Anastasya pun memakainya setelah mengikat rambutnya dengan rapi.
dia nampak begitu manis dengan setelan kulot dan kemeja berwarna biru dan jilbab instan yang senada.
dia pun memutuskan untuk mencoba memakainya, dan keluar mengantikan Wulan yang tadi sedang memecahkan kacang Kren ingin membuat rempeyek.
"mami... kami haus," kata Lily yang masuk kedalam.
gadis itu melihat Anastasya yang berjilbab pun diam, tapi matanya langsung berbinar.
"wah mami memakai jilbab, dan itu jilbabnya persis seperti punya Lily," kata gadis itu.
"aduh-aduh reaksi kalian berlebihan, mami cuma mencoba jilbab pemberian Mbah uti, dan anand mami memang mami Anand dan Lily kan," kata Anastasya.
"iya mami!!" jawab keduanya.
Anastasya mengambilkan jus mangga kemasan untuk kedua bocah itu.
keduanya tenang karena ada kue coklat kesukaan Keduanya juga, sedang Anastasya masih memilih beberapa kacang tanah.
setelah selesai kini giliran kacang kedelai yang jug harus di sedikit di tumbuk kasar agar bisa matang.
terlebih suaminya memang suka kacang kedelai yang kasar di banding yang utuh saat di buat peyek.
dia juga mengiris tipis daun jeruk yang akan di jadikan campuran peyek.
sedang di depan, suasana tegang terjadi, pasalnya ustadz Arifin tak mengira akan melihat Arkan yang marah dan langsung menolak permintaannya.
"berhenti, aku tak bisa membantu lagi, aku tak mau kehilangan istriku, kenapa aku sudah susah payah dan kalian begitu teledor, kenapa dia sampai hilang lagi!!" kata arkan tak habis pikir.
"maafkan kami, tadi Anna tak sengaja meninggalkan dia sendirian sebentar, dan saat Anna kembali Niken sudah hilang, dan sepertinya suami ghaibnya yang menariknya lagi," kata ustadz Arifin.
"apa saat ustadz Yunus mengambil jiwanya, dia tak memisahkan mereka, putus hubungan suami istri?" tanya arkan.
__ADS_1
"tidak, saya lupa melakukan itu," jawab ustadz Yunus jujur.
"maaf, saya tak bisa," jawab Arkan.
Anastasya yang tak seindah mendengar pun merasa bersalah, karena dirinya Arkan tak bisa membantu orang, terlebih nyawa itu dalam bahaya.
"tolong Arkan, jika dia tak segera di keluarkan dia bisa benar-benar tak di ketemukan lagi," kata ustadz Yunus memohon.
"aku tidak bi-," kata Arkan terhenti karena sentuhan di bahunya.
"tenang mas, aku mengizinkan asal ini hanya murni membantunya, dan maaf, seharusnya aku sadar jika suamiku ini memang spesial," kata Anastasya tersenyum.
Wulan dan Raka merasa senang, tapi Arkan tak mau menyakiti hati istrinya lagi.
"tapi kamu akan sedih, dan aku tak mau itu terjadi,kamu yakin mengizinkan aku membantu mereka," kata Arkan.
"aku percaya ada mu mas, dan ustadz Yunus yang harus menjamin ini hanya sekedar bantuan," tantang Anastasya.
"baik nona, saya akan pastikan itu, terlebih saya tau perasaan istri yang sedang cemburu," kata ustadz Yunus mengiyakan.
"baiklah, kapan akan di cari, bukankah hal seperti ini lebih cepat lebih baik," kata Anastasya.
"anak Anastasya benar, malam ini, dan saya harap nak Anastasya ikut dalam semua ini, karena saya lihat kamu begitu melindungi keluargamu," kata ustadz Arifin.
"baik ustadz saya akan ikut bersama suami saya," jawab Anastasya.
"lihat putra dan menantimu, bisa mengingatkan kita seperti apa perjuangan kalian dulu," kata ustadz Arifin.
"tapi ada satu lagi kesatria yang akan membantu mereka, Faraz ... dia selalu cepat dalam bertindak," kata Raka.
"tentu, mas Faraz adalah pilar kekuatan dari kami, dia memiliki ketenangan dalam menghadapai musuh," jawab arkan.
akhirnya kedua orang itu pun pamit, Arkan melihat istrinya dan baru sadar jika Anastasya berjilbab.
"ah ini tadi istriku, ah... kenapa begitu cantik, persis Lily," kata arkan mencubit pipi Anastasya.
"nak, kemarilah, Amma ingin mengajarkan kamu sesuatu," kata Wulan memanggil menantunya.
"eh... mau apa Amma, aku boleh ikut?" tanya Arkan.
"tidak boleh, kalian harus mulai membuat rempeyek, terlebih Husna dan Aluna akan selesai les jua, jadi lekas buat, bersama ayah," perintah Wulan.
"tapi Amma," rengek Arkan.
"tak ada bantahan," kata Wulan.
keduanya pun tak bisa menolak, terlebih Wulan sudah memberikan ultimatumnya. itu berarti benar-benar tak bisa di bantah lagi.
__ADS_1