Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
perang dingin


__ADS_3

Arkan pun hanya diam melihat istrinya, Lily terus menggenggam erat tangan Anastasya.


"sudah sekarang kalian istirahat dulu, kita bicarakan lagi nanti," kata Wulan.


"Lily, dimana kamar kamu nak, mami ingin melihatnya," kata Anastasya yang langsung berjalan bersama Lily.


dia pun melihat kamar yang cukup besar, itu adalah kamar bekas Aryan dan sekarang jadi kamar Lily.


"mami boleh tidak tidur bersama Lily, mami masih sangat merindukan Lily," kata Anastasya.


"boleh mami, Lily akan sangat senang saat mami tidur bersama Lily," jawab gadis kecil itu.


sedang Arkan, Faraz dan Aryan sudah di tarik Raka dan Wulan ke area belakang rumah.


"apa kalian bertiga yakin akan melakukan ini, ingat Arkan, Aryan kalian sudah menikah, terlebih istri Arkan juga baru pulih, dan kamu selalu dapat luka paling parah Arkan, tolong pikirkan lagi," kata Raka pada ketiga putranya.


"tapi dari kecil, ajaran ayah dan Amma kita harus menolong orang yang membutuhkan," jawab Arkan.


"tapi tidak dengan berkali-kali mengorbankan nyawamu, cukup amma tak mau ada kesedihan lagi," kata Wulan yang tak jauh di bantah.


"tapi Amma.." kata Arkan.


Wulan memberikan isyarat untuk diam, tiba-tiba Ki item datang dengan panik.


"ada apa?" tanya Arkan


"ketiwasan prabu, gagis yang di cari tuan Faraz, besok malam pas bulan purnama akan melahirkan, dia ada di rumah kediaman keluarga Broto, dan dia di sembunyikan di sebuah ruangan dengan perlindungan," kata mahluk tinggi besar itu.


"Arkan..." lirih Faraz.


Raka membaca ayat pemusnah jin, Ki item tiba-tiba kesakitan, ketiganya menoleh ke arah Raka.


"ayah hentikan, kamu bisa membunuhnya," kata Arkan.


tapi Raka tetap membaca ayat itu, Arkan mendorong Ki item pergi dari sana.


"jangan kira setelah ayah kehilangan kemampuan, kalian akan bisa menyembunyikan semuanya, aku bisa merasakan sosok apa yang datang," kata Raka dingin


"Amma peringatkan pada kalian bertiga, jika kalian tetap nekat, maka Amma sendiri yang akan mengantar istri-istri kalian pulang ke rumah orang tuanya," jawab Wulan yang langsung pergi.


"tidak bang, jika tanpa restu Amma, kita tak bisa melakukan ini, lihat akibat dari kejadian terakhir, kamu terluka parah dan hampir mati, bang Faraz juga," kata Aryan.


"tapi ada orang yang membutuhkan bantuan kita, jika kita bisa membantunya, kenapa kita malah menutup mata," kata Faraz.

__ADS_1


"tapi jika itu orang baik, bahkan pria itu datang selalu pergi setelah menghina keluarga kita," kata Aryan.


"tolong hentikan, semua pertikaian ini tak akan pernah ada habisnya," kata Arkan melerai Keduanya.


dia sendiri sedang pusing, dia tak ingin Niken terluka dan dalam masalah.


tapi dia juga tak mau melihat istri dan putrinya sedih, terlebih Wulan juga tak merestui pilihan mereka.


"lebih baik kita ke pondok ustadz Arifin, dan minta pilihan terbaik untuk kita," ajak Arkan.


mereka pun berangkat ke pondok milik ustadz Arifin, Anastasya pun berjalan ke kamar suaminya dengan lesu.


Anastasya pun tidur sambil memeluk baju Arkan, "kenapa kamu masih begitu memperdulikannya, apa aku tak berharga di hidup mu mas, aku tau jika kita menikah karena kamu yang merasa berhutang Budi, tapi jangan mengorbankan hidup mu seperti ini," lirih Anastasya terisak.


Wulan yang mendengar pun mengurungkan niatnya untuk melihat menantunya.


ketiga pria itu pergi ke pondok ustadz Arifin, pria yang sebaya dengan ayah mereka itu sedang tersenyum.


"assalamualaikum... akhirnya kalian datang, mari masuk," ajak pria itu.


"ustadz sudah tau maksud kedatangan kami tentunya, kami sepertinya tak dapat membantu Niken, karena semua keluarga tidak mengizinkan," kata Arkan jujur.


"saya sudah tebak, terlebih Arkan baru bersama kembali bersama istrinya kan," kata ustadz Arifin.


"tidak usah bingung, kita serahkan semuanya pada Allah, dan insyaallah sebentar lagi sepupu saya datang, dan semoga dia bisa membantu," jawab ustadz Arifin.


benar saja, sebuah mobil masuk ke area ponpes, dan turun sepasang suami istri.


pria itu berpenampilan dengan sangat teduh, mengunakan sarung putih dan juga kurta.


"assalamualaikum Gus," panggil pria itu pada ustadz Arifin.


"waalaikum salam... ya Allah dek Yunus datang, bagaimana kabar kalian, sepertinya neng Azizah akan segera melahirkan?" tanya ustadz Arifin.


"Alhamdulillah Gus, mungkin dua bulan lagi," jawab wanita bercadar itu.


dari samping ruang pendopo, keluarlah sosok Anna dan istri dari ustadz Arifin


Faraz merasa selalu tenang saat melihat sosok Anna, sedang Aryan menyenggol lengan Faraz.


"ingat bang, jaga pandangan mu," bisik pria itu.


"kamu mau mati," jawab Faraz ketus pada adiknya itu.

__ADS_1


"ustadz Arifin, seandainya bang Faraz melakukan ta'aruf dengan Anna, apa boleh?" tanya Arkan.


"ya Allah... bacot banget bocah ini," kesal Faraz yang langsung menggeplak kepala Arkan karena kesal.


"dari pada keduluan orang, dan jika Anna mau, langsung di nikahi saja," jawab arkan.


"ya Allah, kita datang untuk membahas masalah Niken, bukan masalah jodoh ku," kesal Faraz.


"habis kasihan, masak yang paling tua, paling belakang nikahnya," tambah Aryan.


"terserah..."


ustadz Arifin dan ustadz Yusuf tertawa melihat keakraban dari ketiga saudara itu.


istri ustadz Yunus di bawa masuk untuk beristirahat, sedang ustadz Yunus duduk bergabung dengan keempat orang itu.


mereka pun membicarakan apa yang akan di lakukan besok malam.


ustadz Yunus memang memiliki ilmu yang di wariskan secara turun-temurun,bahkan pria itu memiliki khodam yang mungkin seusia khodam keluarga Arkan.


"bismilah, besok saya insyaallah bisa bantu, tapi kita harus memastikan jika tempat itu harus di penuhi bacaan dari surat-surat Al-Qur'an," kata ustadz Yunus.


"berarti pilihan terbaik adalah di lakukan di lapangan ponpes, tak masalah besik semua santri akan di minta tidak keluar setelah sholat isya," jawab ustadz Arifin.


"itu lebih baik Gus, tapi saya besok butuh seratus santri yang kuat dalam berdzikir, karena besok mereka harus melakukan dzikir tanpa putus mulai sampai setelah sholat subuh," kata ustadz Yunus.


"insyaallah bisa, dan Arkan kamu juga tau apa yang di butuhkan untuk menyelesaikan semuanya kan nak?" tanya ustadz Arifin.


"iya ustadz, besok berharap ibu dari Niken berhasil membawa ayah Niken untuk mau menemukan putrinya," kata Arkan.


"baiklah, lebih baik sekarang kalian bertiga pulang dan beristirahat, dan untuk mu mas Arkan, kamu beruntung memiliki dua bidadari di sisi mu, jangan buat mereka sedih, karena insyaallah mereka adalah kebahagiaan mu," pesan ustadz Yunus.


"baik ustadz, kami bertiga pamit, permisi, assalamualaikum...."


ketiganya pun pulang, benar saya Wulan dan Raka sudah menunggu ketiga putranya itu, "sudah dapat jawaban, apa kata ustadz Arifin?" tanya Raka dingin.


"kami akan tetap membantu mencari Niken," jawab Arkan.


Anastasya mengenggam erat nampan yang berisi minuman untuk kedua mertuanya itu.


"ayah, Amma, ini di minum dulu, dan mas Faraz, mas Aryan dan papi juga," kata Anastasya menyembunyikan kesedihannya.


tapi Arkan malah merasa sedih melihat senyuman istrinya itu, "mami..."

__ADS_1


"tidak apa-apa, aku harus kuat bukan apapun yang akan terjadi, baik atau buruk," jawab Anastasya melepaskan tangan Arkan yang menyentuhnya.


__ADS_2