Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
Fifi itu siapa?


__ADS_3

Arkan sampai di desanya, dan ternyata semua sedang sibuk muat beras ke truk.


Arkan Langsung mengambil alih, pasalnya dia tak sengaja telat seperti ini.


"apa yang lain juga sudah di muat? siapa yang mengawasi? dan aku minta pencatatan secara rinci tidak boleh terjadi kesalahan," kata pria itu yang duduk di kursi.


"semuanya di atasi oleh pak Juni mas," jawab pak Hadi.


"baiklah, sekarang kita lanjutkan muat," kata Arkan.


Tasya sudah selesai menghitung dan meminta tiga mobil pickup mengantarkan Semuanya ke pembeli.


dia sendiri sekarang mulai membersihkan rumah setelah para pekerja pulang.


tapi sosok hantu pria itu kembali mengejutkan dia, "apa sih, meski aku tak bisa melihat mu, tapi suamiku sudah membantu mu," kata Tasya yang sedang menyapu.


hantu itu ingin merenggut sesuatu dari perut wanita itu, tapi Ki Sesnag memukul hilang arwah itu dengan ekornya.


dia tetap menjadi pelindung untuk keluarga ini sampai kapan pun, Tasya meras tiba-tiba suasananya menjadi aman.


dia pun mulai kembali melanjutkan pekerjaannya, sedang Sesnag mencekik hantu itu.


"kamu sudah di bantu, jangan berani mencelakai mereka, atau kaki musnah," ancam Sesnag.


"maafkan aku, karena Aira wanita itu begitu menggoda untuk di serap," jawab hantu itu


"sekali lagi kamu berani mengusiknya, aku akan memastikan kamu musnah dan tak akan pernah bisa melihat akhirat," kata Sesnag yang di angguki hantu itu.


tak butuh waktu lama, Tasya selesai berkemas, dia juga mencuci baju dan menjemurnya.


dia sekarang membuat masakan sederhana, ya meski dia belum bisa memasak masakan Indonesia, setidaknya dia bisa kalau cuma ceplok telur.


karena Arkan sudah memasak berbagai masakan di kulkas, jadi dia tinggal menghangatkan saja.


Arkan sedang memeriksa pembukuan dari orang yang membantunya, dan semuanya sudah benar tanpa ada kesalahan.


"baiklah semua sudah bisa pulang," kata Arkan.


"baik tuan," jawab pak Juni yang langsung menekan tombol dan terdengar suara bel sebagai tanpa pulang.


Arkan memberikan uang sesuai nama pada pak Juni, dan pria itu yang membagikan uang gaji tersebut.


"pak Juni tunggu sebentar, apa di desa mu ada gadis bernama Fifi, dan kekasihnya baru saja meninggal dunia?" tanya Arkan langsung.


."apa, Fifi ... kekasih yang baru meninggal dunia," gumam pak Juni mengingat-ingat.

__ADS_1


tapi pria itu tak bisa mengingatnya sedikitpun, Arkan pun tak putus asa dia meminta tolong pada pria itu.


"memang kenapa mas?"tanya pak Juni.


"tidak ada, hanya saja saya memiliki titipan spesial dari alam baka, untuk wanita bernama Fifi," jawab arkan.


pak Juni langsung merinding tiba-tiba, karena hantu pria itu sedang ada di sana.


begitu pun dengan Sesnag, "segera bantu karena dia ingin melukai Tasya," kata Sesnag melaporkan.


"dasar hantu rendahan, aku membantumu dan kamu ingin mencelakai istriku," marah arkan menatap hantu itu.


"maafkan aku, aku hanya sedikit terpancing, tolong temukan Fifi," kata hantu itu.


"kalau begitu tunjukkan rumahnya, dan terlebih dulu panggil Faraz kemari," kata Arkan keceplosan.


"lah kenapa mas?" tanya pak Juni.


"bukan bapak, maaf salah sebut, sudah lupakan, dan sekarang biar saya tutup tempat ini, semua sudah mati kan," kata arkan.


"iya mas," jawab pria itu yang membantu arkan.


tak lama Faraz datang dengan motor dan menemui Arkan yang duduk menunggu di depan penggilingan beras itu.


"woi.... lama sekali anda," marah Arkan.


"baiklah, yang penting bukan meniduri anak orang, ayo kita bantu tuh hantu, karena jika terus di sini,dia makin menyebalkan," marah Arkan.


"tenang sob, memang kenapa sih, orang dia gak ngapa-ngapain?" tanya Faraz heran.


"dia gak ngapa-ngapain dirimu, tapi dia hampir mau nyelakain istriku," jawab Arkan.


"wah sialan, ayolah gas..." ajak Faraz.


Sesnag berubah menjadi manusia dan ikut motor Arkan, sedang hantu itu bersama Faraz.


mereka menuju ke sebuah desa bernama sarloka, desa itu cukup jauh dari tempat mereka.


sesampainya di sana, desa itu cukup mencekam dan sepertinya masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat.


mereka memilih berhenti di sebuah warung untuk minum dulu, dan Arkan harus mengabari istri dan putrinya.


Faraz memutuskan untuk memesan minum di warung itu, "Bu, tolong dua kopi dan nasi pecel Bu, pakai telur ceplok ya," kata Faraz.


"iya den, sepertinya Aden berdua bukan orang sini ya?" tanya wanita itu dengan sopan.

__ADS_1


"iya Bu, kami sedang mencari rumah teman, ibu kenal namanya Zainuddin, dia bekerja di perusahan kabel di Sidoarjo," kata Faraz yang mengejutkan wanita itu.


"aduh mas-mas, yang namanya Zainuddin yang kerja di Sidoarjo sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu,bahkan membuat heboh satu kampung karena sempat gentayangan selama seratus hari," jawab ibu itu.


"bebaskan, wah saya tak tau Bu, kalau boleh tau rumahnya di mana ya Bu, kami ingin bertemu keluarganya, karena dulu dia sempat menitipkan sesuatu pada saya, karena saya baru pulang dari luar negeri jadi baru bisa kesini," saut arkan yang selesai menelpon istrinya dan putri kecilnya.


"owh... rumahnya yang paling ujung mas, nanti ikuti jalan ini saja, tapi jangan kaget kalau lihat gadis cantik yang duduk di terasnya ya, dia itu memang gak waras setelah kematian Zainuddin," kata ibu pemilik warung itu.


"iya Bu," jawab Faraz.


mereka pun mulai makan, setelah membaca doa makanan itu tak berubah.


jadi mereka melanjutkan makan dengan lahap, ternyata warung itu ramai karena memang makanannya enak bukan karena penglaris.


selesai makan, mereka berdua bergegas menuju rumah yang di maksud, ternyata rumah cukup terpencil.


arwah pria itu sudah duduk di samping gadis yang di ikat dengan rantai.


bahkan wanita itu sudah hamil cukup besar, mereka pun masuk dan mengetuk pintu.


"permisi, selamat malam, apa ada orang?" sapa Faraz.


seorang pria keluar dari dalam rumah, "iya, kalian siapa, dan mau apa datang kesini," tanya pria itu.


"apa benar ini rumah Zainuddin, kami satang ingin mengantarkan ini," kata arkan menunjukkan kotak merah itu.


mendengar nama Zainuddin,wanita itu langsung berdiri dan memeluk tubuh Faraz.


"aduh lepas ..." kata Faraz panik.


"Zainuddin akhirnya pulang, lihat aku hamil anak mu loh," kata wanita gila itu.


Arkan menyikut Faraz dan memintanya memakaikan kalung itu, dan setelah wanita itu memakai kalung.


arwah dari Zainuddin pun menghilang, "sudah ya pak, titipan sudah kami berikan, dan lebih baik dia di bawa berobat," kata Faraz yang mendorong pelan wanita itu menjauh.


"iya mas terima kasih, dan kalung ini adalah janji yang Zainuddin berikan pada Fifi, dan saat dia meninggal dunia, kami terus mencari kalung ini," kata pria itu.


"memang apa yang spesial kok sampai mencarinya?" tanya Aslan penasaran.


"kepo," jawab Faraz pada pemuda itu.


"di desa kami percaya, jika kita memiliki janji dan tak di tepati, saat kita meninggal dunia akan jadi arwah penasaran," jawab pria itu merangkul Fifi.


"iya jadi malah makin merepotkan, sudah pak kami pamit, permisi,"kata Faraz.

__ADS_1


terlihat pria itu merangkul wanita itu masuk kedalam rumah, mereka tak bisa mencampuri urusan orang lain, tugas mereka selesai disini, terlebih-lebih desa ini masing asing bagi mereka.


jadi mereka bergegas memutuskan pulang karena takut akan terjadi sesuatu yang makin buruk nantinya.


__ADS_2