
Faraz dan Arkan sadar jika mereka sudah di sesatkan oleh sebuah mantra oleh Sasa.
bahkan mereka terus berputar-putar di sana saja, mereka mencoba menerobos tapi tak bisa.
"kita tak akan bisa keluar jika tak menemukan pusat mantra ini dan menghancurkannya," kata Arkan.
"sialan, wanita ini benar-benar membuatku marah, argh!!!" teriak Faraz hampir frustasi.
tapi mereka harus tenang agar bisa menyelesaikan segalanya. kalau tidak mereka tak tau siapa yang di incar oleh wanita itu.
di rumah Ki Sesnag terus dapat serangan tapi dia tak mengendurkan semua pertahanannya.
kong dan Suni keluar dan menyerang Sasa, tapi tak ada yang menduga jika wanita itu sudah sangat sakti.
bahkan dengan sekali pukul tubuh Kong yang besar terpental jauh ke belakang rumah.
"mbak Niken, tolong titip Lily dan kalian harus tetap berada di dalam rumah," perintah Tasya.
"tapi mbak Tasya mau kemana, saya mohon jangan melakukan tindakan yang sembrono," kata Niken
"tidak bisa, aku harus keluar dan melindungi kalian, jadi aku titip Lily," kata Tasya yang berjalan keluar rumah.
"mami...." panggil Lily yang berontak ingin menahan Tasya.
"kong... tolong lindungi Lily untuk kami jika kamu bisa mendengar ku," suara batin Tasya.
kera putih itu Madik kedalam rumah, Tasya mengambil busuk pasopati miliknya.
dia berdiri di teras rumah, dia bisa melihat sosok Sasa yang sedang melawan Suni.
bahkan harimau itu nampak kesulitan melawan Sasa, terlebih tubuh Sasa mengeluarkan aura yang begitu hitam pekat.
Sasa merasakan aura dari Tasya, dia pun menoleh dan membanting Suni.
"tak ku kira kamu berani keluar juga, aku sudah tak sabar untuk memakan mu dan janin yang ada di perutmu itu," kata Sasa yang berwujud setengah iblis.
"aku tak tau apa yang telah keluargaku lakukan, kenapa kamu datang ingin mencelakai kami," kata Tasya dengan berani.
"ha-ha-ha, keluarga kalian berani mengusik ayah ku, dan setelah itu aku harus bertahan dengan tubuh ini, jadi aku menginginkan suamimu membunuh orang, tapi sayang sepertinya kekuatan hitam di tubuh pria itu sudah hilang, jadi pilihan terbaik membuat pria itu sepenuhnya membangkitkan ilmu itu," jawab Sasa yang tersenyum menyeringai.
Tasya tak gentar, dia tetap berdiri di tempatnya, Sasa berlari ke arahnya.
__ADS_1
tapi dengan tenang dia menarik busurnya hingga membuat Sasa terpental jauh.
"sialan, ternyata wanita tua itu memberikan kamu kekuatannya, tapi kamu hanya wanita lemah, kamu tak akan bisa melawan ku," ejek Sasa.
"nyai biarkan aku melawannya," kata Ki Sesnag.
"tidak Ki, jamu harus melindungi rumah ini terutama Lily," jawab Tasya.
kedua wanita itu bertarung, Sasa juga bukan wanita lemah dia memegang sabuk hitam karate.
dia mengambil pistol dari balik gamisnya, pistol itu pun melepaskan pelurunya tapi Sasa tak terpengaruh.
tapi Sasa membidik mata dari Sasa, dan itu yang paling bisa membuat makhluk itu kesakitan.
"dasar wanita sial, aku akan membunuhmu," kata Sasa yang kini berubah menjadi sosok tubuh penuh api dan di kepalanya muncul tanduk.
bahkan mata yang sudah terluka bisa kembali pulih, tapi sesuatu merasuki tubuh Tasya.
"awak mu duduk lawan ku," kata Tasya yang tersenyum.
mereka pun bertarung dengan cukup sengit, sedang di dalam rumah Niken terus memeluk Lily.
kedua pria itu berhasil menemukan sebuah pusat mantra dan mulai menghancurkan benda itu.
mereka sampai di rumah dan kaget melihat sosok dari Sasa sudah terpanah dan sedang sekarat di pohon.
"apa yang terjadi," gumam keduanya saat sampai.
Tasya sedang berdiri sambil membawa busur panah yang madih di tangannya.
bahkan gamis putih gading yang di gunakan Tasya sudah penuh darah, "sayang..." panggil Arkan
tubuh Tasya pun seketika ambruk di pelukan Arkan, sedang Sasa sudah tak berdaya menunggu kematiannya.
"kenapa kamu bisa sampai seperti ini, kamu tau aku tetap menyimpan mu di hatiku, karena aku tak bisa melupakan mu," lirih Faraz.
"maafkan aku, peliharaan dukun itu merebut tubuhku, terlebih pria itu sudah melakukan perjanjian dengan iblis itu dengan menjaminkan tubuhku, dan ini bukan salah wanita itu, tapi salahku..." kata Sasa yang muntah darah.
"Nia..." panggil Faraz
"maafkan aku tak bisa memenuhi janji kita, aku harus pergi..." kata wanita itu yang kemudian mati.
__ADS_1
tubuh wanita itu tiba-tiba terbakar beserta pohon mangga di depan rumah.
"semoga kita bisa bertemu, kamu gadis baik Nia, tapi hanya karena ayah mu, kamu jadi seperti ini..." kata Faraz.
sedang Arkan mengendong istrinya masuk kedalam rumah dan segera memeriksa kondisi dari wanita itu.
ternyata semua darah itu bukan darah Tasya, dan beruntung istrinya itu baik-baik saja.
Suni menghampiri Faraz yang masih berdiri di samping pohon yang terbakar itu.
Ki Sesnag berubah wujudnya, "dia mati di tangan ratu ular hitam,"
mendengar ucapan itu, Faraz menoleh dan wajahnya berubah menjadi merah karena marah.
"apa maksudmu dengan ratu ular hitam, apa yang dia inginkan?" tanya Faraz marah.
"dia merasuki tubuh Tasya, dan langsung menyerang wanita itu dengan beringas, tapi beruntung Tasya tak terluka," jawab Ki Sesnag.
"ular betina itu lagi, dia tak akan semudah itu melepaskan kekuarga ku ternyata," geram Faraz.
"tapi setidaknya dia menyelematkan Tasya, Lily dan Niken," kata Suni.
Faraz pun perlahan melunak, apa yang di katakan oleh kedua khodam itu benar.
dia pun bergegas masuk untuk melihat kondisi dari Tasya dan Niken, ternyata saat dia masuk kedalam rumah.
Tasya sudah sadar dan terlihat baik-baik saja, bahkan Niken juga tak terluka sedikitpun.
"apa istrimu baik-baik saja, Niken kondisi mu dan Lily?"tanya Faraz.
"kami baik," jawab Niken yang mengendong Lily.
"Tasya juga baik, bagaimana di depan?" tanya Arkan.
"sudah jadi abu dalam pengawasan Ki Sesnag, Tasya bagaimana bisa kamu membunuhnya," tanya Faraz heran.
pasalnya meski kuat, tak mungkin wanita itu bisa menyingkirkan semua dengan mudah, terlebih Sasa yang sudah terpengaruh iblis perewangan dari ayah kandungnya.
"aku juga tak tau, tapi aku merasakan sesuatu yang merasuki tubuhku, aku bisa melihat segalanya, tapi aku bergerak tanpa bisa aku kendalikan," jawab Tasya
Arkan menyentuh perut istrinya dan dia merasakan hawa dingin, "kita ke rumah sakit sekarang," panik Arkan.
__ADS_1
mereka semua pun pergi, rumah biar di jaga para makhluk ghaib, sedang Arkan Panik takut kandungan istrinya bermasalah.
karena aura dingin itu tak pernah Arkan rasakan sebelumnya, terlebih Tasya yang baru saja bertarung takut jika janin mereka terluka.