Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
Adit & Lily


__ADS_3

sudah tiga hari ini Tasya dan Niken bolak balik rumah sakit, terlebih gadis itu membantunya setelah Faraz cerita tentang pasangan kakek nenek itu.


Niken hari ini kebetulan sedang off di kampus jadi dia sedang menemani Tasya, "kamu kenapa?"


"tidak kok mbak, aku hanya tak menyangka bisa melihat pasangan seromantis mereka," kata Niken.


"itu akan kita dapatkan dari pasangan kita saat dia adalah lelaki yang tepat, dia akan memperlakukan kita sebagai seorang ratu dan bukan pembantu," jawab Tasya.


"iya, satu dari sepuluh ribu pria seperti itu," jawab Niken.


hari ini mereka berdua di izinkan pulang, rumah juga sudah di perbaiki meski tak banyak.


Arkan benar-benar marah saat itu hingga hampir membuat pak RT terbunuh karena hanya diam tanpa melakukan apapun saat di desanya ada para manula yang membutuhkan.


siang itu Niken dan Tasya datang bersama kakek dan nenek yang sudah sembuh, keduanya tersenyum melihat rumah yang sudah nampak kokoh berdiri.


"Alhamdulillah embah Nang," kata sang nenek yang jalan bergandengan dengan suaminya.


wanita itu tersenyum senang melihat rumah sederhana itu, kini mereka tak takut jika rumah mereka akan roboh sewaktu-waktu.


"embah Nang, dan embah uti, sekarang ayo masuk untuk lihat-lihat rumahnya, soalnya papi dan ayah besar juga sudah belikan semua apa tadi namanya..."bingung Lily.


"di belikan sembako oleh papinya Lily Mbah," kata Adit yang menyahut.


"ya Allah terima kasih nak... semoga Allah yang membalasnya," jawab keduanya.


mereka masuk kedalam rumah dan melihat semuanya, mereka pun sangat berterima kasih, telebih semua biaya berobat juga di tanggung arkan.

__ADS_1


"jadi sekarang embah tak perlu bingung untuk masalah pendidikan Aditya, karena Semarang dia akan jadi tanggung jawab saya, dan saya janji akan menyekolahkan dia sampai jenjang setinggi-tingginya, sesuai dengan apa yang di cita-citakan," kata Arkan merangkul Adit.


"terima kasih nak," jawab embah Nang


akhirnya semua orang pergi, dan Afit mulai rajin ke sekolah lagi, terlebih saat Tasya mengantar putrinya.


Adit akan selalu menunggu di depan gerbang, kadang membawa bung (bambu muda) untuk Tasya.


Lily juga sangat senang karena dia memiliki anand dan Afit yang menjaganya.


meski Lily bisa karate, tapi gadis kecil itu sering mendapatkan ejekan karena dua seringkali ketakutan akan sesuatu hal.


Tasya yang tau perlahan mengajari putrinya itu untuk mengendalikan segala jenis ketakutannya.


terutama suara-suara aneh yang sering Lily dengar, bahkan Anastasya sampai membelikan sebuah headset untuk putrinya itu.


Lily seakan menjadi gadis kecil yang normal sesuai dengan usianya, seperti pagi ini.


"selamat jalan mami..." kaya Lily.


"ingat nanti bekalnya di bagi sana yang lain ya," kata Tasya mengingatkan putrinya itu


"siap mami," jawab bocah itu


Adit pun menyapa kemudia mengandeng tangan Lily untuk masuk kedalam sekolah.


Lily pun merasa aman saat bersama Afit, terlebih kong juga tak boleh di ajak ke sekolah oleh Tasya.

__ADS_1


"Lily, sudah menyelesaikan pr dari Bu guru?" tanya Adit.


"tentu sudah, apa Adit belum?" tanya Lily


"tentu sudah, terus anand kemana kok belum datang, kamu tau dia janji mau bawakan buku bahasa Inggris," jawab bocah itu.


"ah papi punya banyak jika kamu mau, pasti papi bisa memberikan buku itu untuk mu," jawab Lily dengan membuat wajah lucu.


"benarkah?" tanya Adit tak percaya.


"iya, mami dan papi itu juga sangat sangat pintar dalam bahasa asing itu, kadang mereka juga bertengkar dengan bahasa asing agar aku tak mengerti," kata Lily sambil mengasuh kepalanya di meja.


"heh.... memang papi dan mami Lily bisa bertengkar?" tanya Adit tak percaya


"ya pasti dan biasanya bertengkar karena cara mengikat rambutku," jawab Lily.


Adit tertawa, tapi Lily langsung menutup telinganya karena dia mendengar suara garukan di papan tulis.


Adit langsung menyentuh tangan Lily dan suara itu hilang, "jangan lepas ya, Lily takut," kata gadis kecil itu.


"iya," jawab Adit.


anand yang baru datang pun merasa tak aneh lagi, karena bagi Lily pria bernama Adit itu seperti tameng untuk sepupunya itu.


"kalian mau nyebrang kok gandengan begitu?" tanya Anand.


"usil deh, kamu bawa jeruk gak, aku sudah ingin memakannya,"kata Lily

__ADS_1


"tentu, aku selalu membawa spa yang kami inginkan, lihatlah,", kata Anand yang membuka tasnya yang. berisi enam jeruk


__ADS_2