Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
Tuhan berkehendak lain


__ADS_3

Niken menutup mulutnya dan memilih lari dan meninggalkan gedung itu.


dia pun berlari cukup cepat, tapi dia menabrak tubuh Faraz yang akan pulang.


"ya Tuhan kamu sedang apa, berhenti berlarian seperti anak kecil Niken!" bentak Faraz.


"maafkanlah aku pak, aku hanya takut ketahuan karena tadi tak sengaja aku melihat itu- itu-" kata Niken kebingungan.


"sudah cepat pulang sudah sore,dan aku ingatkan jangan sering melamun Karen kamu itu selalu sering melamun tak jelas," kata Faraz yang langsung pergi.


dia nampak sedang marah dan buru-buru, dan Niken hanya melongo melihat pria itu yang pergi meninggalkan dirinya.


Faraz harus menemui pria itu dan bertanya kenapa dia membunuh kedua anak dari Azam.


bukan masalah Faraz dan Arkan lemah dan membiarkan dua bayi itu hidup, tapi ada alasan terbesar di balik itu.


Faraz mengarahkan motornya menuju ke pondok pesantren milik ustadz Arifin.


terlihat Anna sedang menjaga dan mengasuh putri dari ustadz Yunus, sedang ustadz itu masih mengisi pengajian bersama ustadz Arifin.


"Yunus!!!! keluarlah!!! jika tidak aku akan mencari mu dan kau ku pastikan akan dapat balasannya!!!" kata Faraz yang berteriak-teriak.


semua santri keluarga dan tak lama ustadz Arifin dan uatadz Yunus juga keluar.


mereka kaget melihat sosok Faraz yang datang dengan marah, bahkan pria itu sudah menggertakkan gigi.


"ada apa nak Faraz, kenapa kamu datang dengan amarah seperti ini?"tanya ustadz Arifin.


"anda bertanya padaku, tanya ustadz yang sakti itu, kenapa dia dengan lancang membunuh dua anak dari Azam yang masih terkurung, bahkan dia membunuhnya di depan Azam, kamu tau jika kamu melakukan perjanjian agar dia mau melepaskan Niken, dan sekarang kamu membuat kami dalam masalah besar!!!" teriak Faraz.


"itu bukan urusan ku, aku hanya membantu Niken saja, karena dia di bawa dan hampir mati karena darahnya di hisap oleh anak-anak makhluk sialan itu," jawab Yunus.


"tapi kamu lupa kedua mahluk itu mewarisi kutukan Niken, dan saat kamu membunuhnya, kamu lupa jika kamu punya anak, maka lihatlah saat bulan purnama apa yang akan di terima putrimu, selamat menyaksikan dan asal kamu tau, kamu memang membunuh dua anak genderuwo itu, tapi kamu mengancam satu pesantren dan juga putri dari aekan, dan saat Arkan tau, kalian tentu tau apa konsekuensinya, jika genderuwo sesakti Azam saja bisa di ikat, bagaimana dengan kamu yang hanya memiliki seperempat kesaktian Azam," kata Faraz yang kemudian pergi sambil tersenyum mengejek.


ustadz Arifin tak mengira jika ustadz Yunus begitu ceroboh, "aku selalu mengenal mereka tak pernah melakukan semua secara terburu-buru, tapi sekarang kamu yang ceroboh, jadi apapun konsekuensinya tanggung sendiri, termasuk kemarahan Arkan," kata ustadz Arifin yang sadar dia tak akan bisa menahan amarah dari pria itu.


Faraz memutuskan pulang, kini ustadz Yunus melihat bayi mungilnya yang berada di gendongan Anna


Faraz sampai di rumahnya dan langsung mandi, setelah mandi dia mengambil susu dan memanaskannya.


dia pun minum untuk membuat dirinya tenang, di sebrang Niken sedang duduk di balkon kamarnya.

__ADS_1


Niken bisa melihat Faraz yang sedang bertelanjang dada dan minum susu di lahrai dua.


"uh... pak Faraz kalau seperti itu kenapa terlihat begitu seksi, bahkan aku seperti ingin menerkamnya," kata Niken tertawa.


Faraz mengirimkan pesan yang menjelaskan semuanya pada Arkan, dan pria itu sudah pasti bisa di tebak dia langsung naik darah.


tapi Tasya menahan Faraz uang ingin membunuh ustadz Yunus, "sabar mas, kamu tak ingin melihat bayimu lahir tapi kamu di dalam penjara," kata Tasya.


"tentu aku tak mau itu, tapi pria itu sangat keterlaluan, kamu tau jika dia bayi itu adalah wadah kutukan yang mengobati Niken, dan siapapun yang membunuhnya, akan memiliki kutukan itu," jawab arkan.


"kalau begitu kita lihat saja apa yang akan terjadi pada ustadz Yunus," jawab Tasya.


"ya kamu benar, kita tinggal tunggu saja," jawab Arkan .


Tasya pun mencubit pipi suaminya, meski yang dia ucapkan salah tapi setidaknya dia tak membuat satu pondok itu terkena masalah karena suaminya yang murka.


"ada apa nak, kenapa lagi Arkan?" tanya Wulan yang datang setelah memotong kue dari Tasya.


"papi ... kue mami enak loh, oh ya opa dan embah mana?" tanya Lily tak melihat dua pria itu.


"mereka sedang mencari Klanting sayang, tapi opa penasaran katanya," jawab Tasya.


"ada apa mencari ayah kecil,kamu kangen huh," kata Aryan yang baru datang membawa beberapa kue yang beli di kota


"cuma tanya, halo bunda... wah perut bunda besar ya, kok perut mani gak ya, adeknya belum bisa keluar kalau perutnya gak besar?" tanya Lily.


"ha-ha-ha kamu lucu sayang, ya bukan begitu konsep hamil, tapi mami setidaknya butuh enam bulan lagi baru bisa melahirkan, sedang untuk bunda tinggal hitungan Minggu," kata Nayla.


"owh begitu, terus kenapa ayah kecil tidak bantu papi dan ayah besar," tanya Lily penasaran


"karena ayah kecil sibuk di sekolah, itulah kenapa ayah kecil tidak bisa bantu," jawab Aryan.


"sudah Lily, kamu membuat ayah kecil mu pusing, dan lihat itu siapa yang datang," kata Arkan menunjuk seseorang


"ayah besar datang, bawa martabak kan?" tebak Lily.


"pasti," jawab Faraz.


mereka pun mulai berbincang bersama, sedang Lily bermain bersama anand,Husna dan Aluna.


"jadi kalian sudah dodolan?" tanya Wulan.

__ADS_1


"sudah amma," jawab Nayla.


"baguslah, dan Tasya kapan tingkep?" tanya Wulan.


"mungkin nunggu kosong dulu Amma, karena kegiatan kami full sampai akhir bulan," jawab Tasya.


"memang kamu sibuk apa? orang kelihatannya cuma duduk-duduk di rumah," tanya Nayla.


"Nayla jaga omongan mu," tegur Faraz.


"Alhamdulillah saya sekarang memang hanya duduk-duduk di rumah, tapi ke setidaknya ada usaha mas Aslan di luar kota yang butuh pantauan secara teratur," jawab Tasya yang langsung membuat Nayla sewot


"kenapa, jamu itu lagi, mau memintanya juga, Aryan apa sih yang sebenarnya kalian pikirkan?" tanya Arkan yang mulai kesal dengan sikap Nayla.


"apa maksud mu bang, aku dan istri tak menginginkan apapun," jawab Aryan.


"kalau begitu minta istri mu berhenti memasang wajah seperti itu di depan Tasya, tolong jangan lupa jika Tasya bukan setara dengan kita, dia memiliki segalanya sebelum menikah dengan ku, tolong ingat itu," kesal arkan yang mulai tak suka melihat reaksi dari Nayla.


bukan hanya akan, Faraz juga merasakan hal itu, Wulan tau jika di antara ketiga putranya sedikit ada ketegangan.


"kamu sedang hamil Nayla, jadi tak baik jika terlalu sibuk, terlebih anand juga pasti butuh ibunya bukan untuk mengawasi dirinya," kata Wulan mencoba menenangkan segalanya.


"terus Amma tak mau membantu ku untuk menjaganya, dia itu juga cucu mu," kata Nayla.


"Nayla!!!!" teriak arkan, Faraz dan Aryan bersamaan.


"jika kamu tak bisa menghormati Amma ku,maaf aku sudah muak selalu menduakan keluarga ku!!" bentak Aryan yang mengutarakan isi hatinya.


"kenapa kamu marah, aku hanya mengatakan apa yang terjadi, dari awal Amma selalu sayang pada Lily Lily dan Lily, bahkan aku harus menjaga putra ku sendiri, kemudia saat Tasya datang, Amma fokus padanya, padahal aku sedang hamil, aku juga di perhatikan," marah wanita itu.


"bukan begitu Nayla, Amma hanya membantu yang paling membutuhkan, Tasya saat itu kondisinya sangat lemah, untuk Lily dia masih bayi dan arkan juga baru belajar, Amma juga tetap menjaga putra mu," kata Wulan.


"tidak amma!!" jawab Nayla.


"Nayla!!!" teriak Aryan mengangkat tangannya ingin menampar Lily.


"Aryan," kata Wulan menahan putranya itu.


"Allahuakbar!!"


Aryan pergi meninggalkan semua orang, dia muak, "maafkan aku, karena aku keluarga ini berantakan,"

__ADS_1


__ADS_2