
Arkan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit, mereka sampai sudah cukup malam di rumah sakit itu.
tapi saat tiba di parkiran rumah sakit Faraz merasakan ada hawa yang aneh, karena dia melihat suasana rumah sakit yang begitu sepi.
"sebaiknya kita pulang dan ke bidan saja," kata Faraz.
"kenapa, kita sudah di rumah sakit, Ayo turun," ajak Arkan.
"tunggu mas, tapi benar yang di omongkan oleh mas Faraz, kita pulang saja, rasanya perutku baik-baik saja, toh tidak ada flek juga," jawab Tasya yang tak suka suasana rumah sakit itu.
terlebih Lily memeluk Niken dengan erat, melihat hal itu sosok tinggi besar itu tersenyum, setidaknya gadis keturunan dari Tasya dan keluarga Rakasa sudah dekat dengan Niken dan itu akan mempermudah segalanya.
"tapi kalian ini kenapa?" bingung Arkan.
"kamu lihat rumah sakitnya dodol," kesal Faraz membentak.
Arkan pun langsung menarik gas untuk mundur dan segera keluar dari rumah sakit itu.
"anjrit, gara-gara panik aku sampai tak sadar jika kita masuk ke tempat angker begitu," kata Arkan yang akhirnya sadar.
"kamu bikin orang jantungan tau gak, apalagi semua hantu di sana sudah pada siap menyambut kita berlima," kata Faraz kesal.
"iya iya maaf, sekarang kita cari tempat bidan saja ya," kata arkan yang mencari tempat bidan terdekat dari lokasi mereka.
ternyata ada satu tempat bidan di dekat situ, meski cukup dekat, tapi mereka harus masuk kesebuah perumahan yang cukup elite.
mereka pun masuk dengan mudah, dan sampailah di tempat bidan itu, terlihat pasien bidan itu begitu ramai.
"ini sudah jam delapan malam tapi kok rame ya," kata Arkan.
"mungkin banyak yang mau periksa mungkin, sudah kalian berdua turun biar aku,Niken dan Lily menunggu di mobil, kasihan Lily kalau harus turun," kara Faraz.
"beh bilang saja mau berduaan,kenapa harus Lily jadi alasan," kata Arkan tersenyum meledek.
"terserah kamu, terserah," kesal Faraz.
mereka berdua turun dan langsung daftar, tapi Faraz memilih berdzikir di dalam mobil.
"astaghfirullah..." gumamnya saat melihat klinik itu.
begitu banyak jejak kaki bayi dengan darah, tapi bagaimana Arkan dan Tasya tak menyadari itu.
"ya Allah... lindungilah kedua saudaraku itu, karena niat mereka yang baik," gumam Faraz.
__ADS_1
Arkan mendaftarkan diri, terlihat semua yang datang adalah pasangan muda.
"nyonya Anastasya, silahkan masuk," panggil perawat.
"loh kok duluan, padahal yang antri masih banyak loh," bingung wanita itu.
"tak masalah mbak," jawab perawat itu.
Anastasya dan Arkan masuk kedalam ruang periksa, Keduanya langsung mencium aroma melati dan darah yang begitu amis.
Tasya dan arkan pun berusaha tak menghiraukan aroma itu, "selamat malam ada yang bisa di bantu ibu?" tanya wanita itu.
"saya mau memeriksakan kandungan saya Bu bidan," jawab Tasya.
"baiklah, mati silahkan tiduran, biar kita lakukan USG," jawab bidan itu.
Tasya pun tidur di ranjang, dan bidan itu mulai melihat kondisi dari janin Tasya yang ternyata sudah berusia dua belas Minggu.
"Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja dan sehat, jika ingin lebih jelas anda bisa ke rumah sakit, karena peralatan di sini terbatas ya Bu," kata bidan itu.
"iya Bu terima kasih," jawab Tasya yang merasa tenang.
sedang aekan dari tadi sudah tak nyaman karena ada tiga sosok yang berduri sambil menatap dirinya dengan tajam.
"ya Tuhan... ini klinik apa,kenapa banyak sekali arwah di sini," batin arkan yang terus berdzikir.
"baiklah Bu bidan terima kasih, kalau begitu saya mau pamit dulu, karena kami meninggalkan putri kecil kami di rumah," kata arkan.
"iya pak, itu vitaminnya di minum ya, ingat jaga terus kandungan istri bapak ya," kata bidan itu dengan ramah.
"terima kasih Bu bidan," jawab Tasya dan arkan.
mereka pun bergegas pergi, tapi aroma amis darah semakin kuat,bahkan Arkan bisa mendengar suara tangisan bayi mulai memenuhi pendengarannya.
Tasya sadar jika suaminya mengalami gangguan mahluk Ghaib karena genggaman tangan Arkan makin kuat.
mereka pun sampai di luar dengan selamat, setelah mereka berdua langsung naik ke bagian kursi penumpang, karena Niken sudah pindah kedepan.
"cepat pergi," panik Arkan.
mobil pun segera mundur dengan buru-buru, Faraz tau karena tiga arwah gadis itu melihat kepergian mobil itu.
tapi kesalahan terbesar Faraz adalah melihat tiga sosok itu, "sialan... kenapa kita begitu apes, itu klinik aborsi," kata Arkan.
__ADS_1
"berarti dari tadi bau amis darah itu," tanya Tasya gemetar.
"itu adalah bau darah dari para ibu yang meregang nyawa saat melakukan hal itu," jawab arkan.
"innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!!" kaget Faraz yang mengerem mendadak dan banting stir hingga menabrak pohon.
untungnya mobil mereka tak apa-apa hanya penyok sedikit karena Faraz yang berhasil mengerem meski sedikit telat.
"ya Allah Faraz, kamu ingin membunuh kami!" kata arkan.
"bukan begitu Ar, lihat itu!" marah Faraz.
ternyata tiga hantu gadis berseragam SMA itu sedang berada di tengah jalan
bahkan sekarang mereka datang dengan membawa janin yang penuh darah di tangan mereka.
"jangan bilang mereka mau minta tolong," panik Arkan karena tau kondisi saat ini menghawatirkan.
tiba-tiba kaca mobil mereka muncul tulisan dengan darah, Niken mendekap Lily agar tak melihatnya.
"tolong kami," baca Faraz dan Arkan.
"kami akan menolong tapi biarkan kami pulang dulu, dan kami akan mencari bukti yang kongkrit untuk menolong kalian bertiga," gumam Faraz.
mobil pun bisa menyala, tapi mobil mereka tak bisa keluar dari perumahan itu dan hanya terus berputar-putar saja.
jingga akhirnya mereka berhenti di masjid perumahan, mereka pun memilik mengikuti sholat subuh berjamaah.
beberapa orang yang melihat kelimanya merasa aneh, karena mereka terlihat begitu lelah dan bukan orang perumahan.
"maaf permisi, anda-anda ini semua dari mana, dan mau apa di perumahan ini?" tanya ketua RT setempat.
"kami hanya orang yang semalam memeriksakan kandungan di bidan Sriani, tapi saat kami ingin pulang ke rumah, kamu seperti tersesat dan hanya berputar-putar saja di perumahan ini pak," jawab arkan.
"kalian mau mengugurkan kandungan ya, jawab,"marah pria itu.
"bukan pak, istri saya sedang hamil, dan tadi sempat jatuh jadi saya cari rumah sakit tapi tutup, dan hanya bidan ini yang buka, jadi kami kesana," terang Arkan lagi.
"astaghfirullah mas, maafkan saya ya, kalau begitu mas tinggal mengikuti rambu berwarna kuning, kalau malem terlihat kalau terkena senter mobil, ini di lakukan karena banyak orang yang tersesat di perumahan ini, kalau begitu tolong jangan ke sana lagi ya, kasihan jika istri anda ketempelan saat sedang hamil begini," kata pak RT.
"iya pak terima kasih," jawab Arkan sekilas.
mereka pun akhirnya bisa keluar dari perumahan itu, dan memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
__ADS_1
sedang tiga arwah itu tak bisa keluar dari perumahan yang sudah mengikat jiwa ketiganya.