Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
aku bereskan


__ADS_3

"kalau begitu cari, buat aku melawannya," kata Arkan yang mulai menyerang mahluk itu lagi.


dia terus membaca dzikir dan membaca Al-fatihah, akhirnya makhluk itu mulai terluka parah.


sedang Faraz menerawang dan mencari pusat dari rumah ini dan berusaha menghancurkannya.


tapi tak butuh waktu lama dia merasa ada yang aneh dengan patung wanita yang ada di taman itu.


Faraz langsung menghancurkan patung itu dengan golok miliknya.


benar saja makhluk itu berteriak dan membuat semua perumahan terguncang hebat.


Arkan melemparkan tombak miliknya dan berhasil membakar mahluk itu dengan mudah.


Arkan pun merasa gila rasanya kalau harus melawan modelan makhluk seperti ini.


bahkan dia sekarang sudah tergletak kelelahan begitu pun Faraz yang juga tak mengira patung itu bisa menyerangnya.


semua warga keluar karena takut gempa bumi dadakan lagu, tapi mereka kaget melihat mobil polisi dan ambulan.


"maaf ada apa ini, kenapa tak ada seseorang yang mengatakan pada saya," tanya pak RW.


Nino langsung menunjukkan surat perintah penangkapan dan pengeledahan, "jika anda menghalangi, kalian semua bisa di tangkap," kata Nino kesal.


"Nino bawa tim mu dan bawa semua jasad janin dan tiga wanita itu!" panggil Arkan.


"kalian semua masuk," perintah Nino


tiba-tiba aroma busuk tercium dengan sangat pekat, bahkan membuat siapapun mual, Arkan dan Faraz keluar dengan tubuh penuh darah.


"kalian batu saja dari mana?" tanya Nino heran.


"kami habis main dan mandi darah, kamu kira kami ngapain ?" kesal Faraz memukul temannya itu.


"maaf cuma tanya," jawab Nino.


semua warga pun kaget, pasalnya itu adalah rumah milik keluarga Devan yang memang terkenal sangat kaya.


polisi dan dokter forensik menuju ke area bawah tanah sesuai arahan Arkan, dan saat membukanya ternyata ada ribuan kantong kresek yang berisi janin bayi.


mereka pun berusaha mengeluarkan semuanya, bahkan tak hanya itu, ada jenazah bayi, dan beberapa tulang bocah wanita dan juga mayat dari gadis remaja.


polisi membawa dokter Rio dan Devan yang sedang tertangkap tangan melakukan aborsi pada gadis di bawah umur.


semua warga pun tak mengira jika rumah itu adalah tempat pembuangan seperti itu.

__ADS_1


bahkan kini ahli forensik sedang mengumpulkan beberapa kantong yang sudah tak berbentuk lagi, bahkan banyak tikus dan hewan pemakan daging.


polisi pun tak habis pikir lagi, mereka pun membawa semua kantong itu ke rumah sakit.


Arkan masih merokok bersama Faraz, keduanya menunggu saja melihat kondisi yang terjadi.


polisi butuh waktu sampai subuh ternyata, dan semua rekaman juga telah di temukan.


bahkan ponsel dari ketiga gadis itu juga di temukan dan berhasil di nyalakan dan menjadi bukti tambahan untuk mereka.


"woi pak polisi, kamu ingin membuatku dan Faraz mati kelaparan, cepat belikan makanan atau kami pulang kalian semua bisa mati di tangan semua arwah bayi itu," kata arkan.


"ya maaf, tapi sebelum makan kalian bersihkan tubuh kalian dulu," kata Nino.


keduanya pun menumpang mandi di salah satu rumah warga, tapi baru juga masuk Arkan merasakan aura gelap.


"apa putri kalian sakit?" tanya arkan pada kedua orang itu.


"iya, sudah sebulan ini dia tak bergerak dari kasurnya, bahkan kondisinya begitu buruk," jawab pria sepuh itu.


"boleh aku melihatnya?" tanya Arkan yang penasaran.


"silahkan mas, kamar paling belakang," jawab pria itu.


"subhanallah wal hamdulillah wala Illa ha illaloh hu Allah hu Akbar..." lirih Arkan dalam setiap langkahnya.


"ya Allah, apa dia pernah bekerja di klinik itu?" tanya Arkan yang melihat wanita itu terus menangis.


"iya mas, tapi hanya seminggu kemudian dia seperti ini," jawab pria itu sedih.


"ya Allah tolong sembuhkan gadis ini jika dia tak bersalah, dan jika waktunya sudah habis, maka ambillah, jangan siksa dia seperti ini yang bisa melukai orang tuanya," kata Arkan.


tiba-tiba wanita itu berteriak dengan kencang, Arkan membisikkan alfatihah dan kemudian gadis itu muntah darah dan gumpalan rambut.


"pak setelah ini tolong lakukan doa bersama anak yatim dan ingat jangan lupa sholat dan sedekah jangan sampai putus," kata Arkan yang masih melihat wanita itu muntah darah.


pria tua itu begitu bahagia dan senang melihat putrinya, "iya mas, terima kasih kami akan melakukan apa yang anda katakan, terima kasih," jaya pria itu.


"Arkan mandilah, biar aku yang melanjutkan untuk mengobatinya," kata Faraz yang sudah bersih


"baiklah aku pergi mandi dan tolong buat gadis itu membersihkan semua ilmu santet yang di kirimkan oleh para pria busuk itu," kata Arkan.


"baiklah, aku mengerti," jawab Faraz.


Faraz mulai membantu gadis itu, setelah tak muntah darah dan mulai terlihat lebih segar, Faraz meminta sang ibu untuk memandikan wanita itu.

__ADS_1


setelah mandi dan berganti baju, gadis itu sudah di pakaikan mukenah dan di peluk sang ibu.


Faraz mengambil air wudhu dan mulai melakukan ruqyah. Arkan juga bergabung membantu setelah selesai membersihkan tubuhnya.


gadis itu nampak lebih segar lagi dan mulai bisa duduk lagi, Arkan langsung berlari ke belakang rumah.


tiba-tiba sebuah tanah meledak dan terbakar di sana, ternyata itu adalah media dari santet itu.


"Alhamdulillah pak, putri anda susah terbebas dari santet, dan ingat jaga sholat kalian," kata arkan.


"iya nak," jawab pria itu.


Faraz terduduk lemas melihat siapa yang di tolongnya, wajah gadis itu begitu mirip bahkan sama persis dengan Sasa.


"siapa kamu..."lirih Faraz yang baru melihat gadis itu.


"dia adalah putri tunggal kami, namanya Azizah, memang ada apa mas?" tanya ibu itu.


"tidak apa-apa Bu, maafkan saya..." kaget Faraz yang langsung bersikap biasa.


tak lama Arkan masuk kedalam rumah, "tenang dia bukan mantan kekasih mu, hanya saja wajahnya mirip, sudah ayo keluar kita harus mengisi tenaga untuk membereskan Semuanya," kata Arkan mengajak Faraz.


"baiklah, kami pamit permisi," jawab Faraz.


mereka pun pergi menuju ke luar rumah, beberapa polisi sudah terluka dengan sebuah bejad luka cakaran.


mereka berdua pun langsung memetik daun kelor yang kebetulan ada di sana.


dan setelah menyiramkannya dengan air dan langsung memukulkan tumbuhan itu pada beberapa polisi yang terluka.


setelah itu mereka berdua sarapan saat kondisi mulai kondusif, dan Nino bergabung dengan dua sahabatnya itu.


"kalian bertiga bisa makan dengan aroma seperti ini?" tanya bapak yang tadi di tolong oleh Faraz.


"gak papa pak, perut kami lebih penting, terlebih kamu terlalu biasa mencium aroma seperti ini," jawab Arkan.


pria itu mengantarkan kopi dan cemilan untuk ketiga pria itu, terlebih dia merasa berhutang nyawa pada Arkan dan Faraz.


saat sedang makan, sebuah rokok terbang ke atas piring arkan, "kamu gila melemparkan rokok," marah pria itu.


untung itu rokok tak mendarat di sambal, hanya mengenai pinggiran kertas basi miliknya.


"biar beda, sekali-kali makan dengan ikan rokok dong," ledek Adi.


"dasar pria tua sialan!!!" teriak Arkan yang berani menghina kepala kodim.

__ADS_1


semua orang tertegun, bahkan Adi hanya tertawa saja melihat reaksi Arkan yang selalu terpancing emosi saat ada di dekatnya.


__ADS_2