
semua kaget melihat itu, tapi tidak dengan Faraz, pria itu terlihat diam saja melihat hal itu.
"dasar bola bulu, sekarang kamu berani menunjukkan wujud mu yang seperti ini," kata Faraz yang mulai mengeluarkan kapak miliknya.
tapi seorang ibu berlari menghampiri bayi itu dengan tergesa-gesa, melihat itu Faraz menatap tajam kearah wanita itu.
"bayiku, akhirnya kamu bisa berubah wujud nak," kata wanita itu.
"nyai, jika itu benar bayimu, kenapa kamu menaruhnya di bawah ranjang di salah satu santri di tempat ini, jujurlah," kata Faraz mengacungkan kapak yang sudah ada di tangannya.
"anu nak, maafkan saya, sebenarnya saya hanya di titipi bayi ini, dan saya bingung saat melihat bayi ini yang tak bisa berubah menjadi bayi pada umumnya, dan sesuatu mengatakan jika bayi ini bisa berubah saat seseorang menaruhnya di dalam Genuk," jawab wanita itu.
Faraz pun menarik kembali kapak yang ada di tangannya, "kalau begitu jaga bayi itu dengan baik, dan Hannan biarkan dia mendekatiku atau aku akan lupa dan membunuhnya," peringatannya Faraz.
"baiklah, aku mengerti," jawab wanita itu.
semua orang pun bubar, ustadz Yunus melihat gelagat aneh pada Faraz.
"kamu baik-baik saja," tanya pria itu.
"ya aku baik, lebih baik aku pulang, permisi," pamit Faraz yang nampak tak nyaman.
dia pun bergegas pulang, sepeda motornya sudah di pacu dengan kecepatan tinggi.
dan sangat sampai, tubuh Faraz sudah berkeringat di gin dan begitu lemah.
akhirnya pria itu jatuh pingsan di teras rumah, dan membuat panjik semua orang.
"Faraz..." sebuah suara lembut terdengar
pria itu melihat ke sekelilingnya, dan melihat sesosok ular bermahkota yang begitu besar.
"kenapa kamu menunjukkan dirimu lagi padaku?" kata Faraz dengan suara mengancam.
__ADS_1
"apa kamu semarah itu padaku, aku hanya ingin menitipkan bola bulu yang aku tinggalkan," kata ular itu.
"kamu kenapa tidak pergi, biarkan aku menjalani hidupku!!! bukankah kamu sudah pergi," maki Faraz
"aku tidak bisa pergi, karena dia membutuhkan mu," jawab ular itu.
"tidak, jangan mengatakan hal konyol, karena aku tak pernah melakukan hal gila seperti itu, dan jangan sampai aku melupakan apapun lagi, jadi buat dia menjauhiku!!" marah Faraz.
dia kemudian keluar satu gua yang ternyata berada di pinggiran tebing, dia pun tak ambil pusing.
Faraz melompat terjun dari tebing itu, tapi ombak besar menghantamnya.
dia pun tengelam, di saat inilah dia ingat sesuatu, sebuah tangan menariknya ke permukaan.
Faraz pun terbatuk dan sadar dari pingsannya. semua orang pun panik.
Wulan langsung memeluk putra sulungnya itu, dia hampir gila melihat kondisi Faraz.
"ya Allah nak, Amma hampir gila melihat mu seperti tadi," kata Wulan.
Tasya melihat sesuatu di kaki Faraz, dia pun mengambilnya, "papi..." lirih Tasya.
Arkan pun mengambil sisik itu dan menyimpannya, dia mengeleng pelan pada isterinya itu.
akhirnya Faraz pun di minta istirahat, dan beruntung besok akhir pekan jadi mereka libur.
Niken masih bermimpi tentang canda tawanya bersama seorang pria, meski dia tak dapat mengingatnya.
sedang Azam yang terikat rantai pun tak bisa melakukan apa-apa, karena dia menunggu keturunan dari keluarga Rakasa yang membebaskan ya.
"Niken... kenapa begitu sulit hanya untuk mencintaimu, aku bahkan merelakan segalanya agar bisa bersama mu, tapi kenapa pria itu terus ikut campur," lirih Azam.
dia hanya bisa menangis di sana, setiap hari orang tua dari Azam datang untuk memberikan makan maupun minum pada putra mereka.
__ADS_1
Azam yang dulu terkenal sakti dan menjadi sosok yang di puja oleh manusia demi pesugihan.
kini tak berdaya di bawah rantai yang mengikatnya, ki item beberapa kali datang melihatnya.
"apa kamu tak bisa melupakan wanita itu saja," tanya mahluk hitam tinggi itu.
"apa anda bisa melupakan ratu mu, tentu tidak raja, itulah kenapa kamu tidak memiliki ratu lain bukan," kata Azam.
"tapi cinta mu salah Azam," kata Ki item yang duduk bersila di samping pria itu
"salah, ha-ha-ha-ha Kuta ini makhluk ghaib yang sakti, tapi kenapa harus tunduk pada pria itu, dia mengatakan salah lantas semuanya salah," kata Azam masih tak terima.
"mau bagaimana lagi, dia juga sudah tak ingat padamu, karena ingatannya sudah di hapus, jadi dia tak bisa mengingat mu sedikitpun," kata Ki item yang merasa kasihan pada sosok Azam.
"aku tau itu raja, aku tau, tapi bisakah kamu menunjukkannya sekali saja padaku, anggap saja ini permintaan terakhir ku," mohon Azam.
"baiklah aku mengerti, aku akan membantumu," jawab ki item.
sebuah cermin terlihat ada sosok Niken sedang mengaji bersama santriwati lainnya.
Niken merasa ada suasana tak asing di sekelilingnya, seperti ada yang memperhatikannya.
"Niken... aku merindukan mu..." kata Azam dengan sedih.
Niken mencari suara lirih itu, entahlah kenapa, tapi suara itu terdengar jelas di telinganya.
ki item merasa kasihan melihat pria itu, "kamu itu biasanya begitu kuat dan selalu jadi contoh semua junior mu, terlebih siapa yang tak mengenal putra ketiga keluarga Broto, pemilik pengikut pesugihan paling banyak, tapi kondisimu begitu mengenaskan karena cinta,"
Azam tak peduli dengan ucapan dari Ki item, perlahan Niken berubah menjadi semakin baik.
dia sekarang juga mulai melanjutkan kuliahnya, dan bertemu dengan teman-temannya.
sedang Tasya juga sibuk membantu di restoran suaminya, dan aekan membantu usaha milik keluarga yang sudah di jalankan selama turun temurun itu.
__ADS_1
bahkan Raka memutuskan untuk mencoba keberuntungannya menjajal dunia kepala desa.
hidup mereka kembali tenang, terlebih suasana desa juga sudah begitu modern dengan makin pesatnya perkembangan jaman.