
Nayla melongo mendengar cerita dari Aryan, dia tak mengira jika arkan benar-benar berubah setelah kejadian masa lalu.
tapi itu juga bukan sepenuhnya salah Arkan, terlebih sudah ada wanita yang membuat arkan tak bisa berpaling, bahkan sudah memiliki buah cinta mereka.
"ayah yakin dia seperti itu, pada Niken, ya Allah cintanya yang dulu begitu bucin?" tanya Nayla memastikan.
"iya Bun, ayah juga gak percaya, tapi hati orang siapa yang tau, mungkin itu memang bukan jodoh mereka," jawab Aryan.
"ya Allah ayah, padahal sudah lima tahun loh, apa dia tak bisa ikhlas saja, kasihan..." kata Nayla
"ssttss.... jangan pernah ngomong seperti itu Bun, kamu tau benar bagaimana Arkan akan marah jika ada yang menyinggungnya," panik Aryan membekap mulut istrinya.
Nayla pun memukul tangan Aryan, pasalnya dia mencium aroma aneh, "ayah tangan mu bau," protes Nayla.
"ah iya maaf habis makan Pete goreng tadi, padahal sudah cuci tangan loh," kata Aryan tersenyum.
"idih jorok, sana pergi cuci lagi," usir Nayla.
"iya deh iya," jawab Aryan.
Raka dan Wulan tak bisa melakukan apapun, terlebih Semuanya adalah pilihan Arkan.
mereka hanya bisa mendukungnya saja, Faraz dan Arkan sedang membahas masalah pekerjaan.
saat beberapa email membuat Arkan menghela nafas, "ada apa?" tanya Faraz.
"aku sepertinya harus ke Singapura, karena ada sedikit masalah di sana, dan kakek Lily juga ingin bertemu cucunya, jadi mungkin aku akan berangkat ke sana, apa kamu bisa menjaga semuanya disini?" tanya Arkan.
"tentu tenang saja, lagi pula ada Amma yang membantu ku, dan Nayla, serta saudara kita yang satu itu," kata Faraz tertawa.
"ya Tuhan aku tak percaya, pria itu saudara ku," kata Arkan melihat sosok Aryan yang sekarang sudah seperti bapak-bapak.
"hei apa maksud mu dengan tak percaya aku saudaramu?" tanya Aryan.
"lihat saja dirimu, kita seumuran dan sama-sama punya ekor satu, tapi lihat penampilan mu seperti pria tak terurus," kata Arkan jujur.
"hei... bung jaga bicaramu, aku bukan tak terurus, hanya saja malas berolahraga," jawab Aryan.
__ADS_1
"lebih baik mulailah berolahraga, karena sebentar lagi jamu jadi ayah dua anak, dan kamu tak ingin mati muda karena serangan jantung bukan," kata Faraz
"iya iya iya, besok aku mulai olahraga lagi, biar bisa melihat anak-anak ku dewasa, dsn kamu bang lebih baik cepat nikah, takut ketuaan kalau di tunda terus," ledek Aryan.
"beh, kamu mau mati ngomong begitu," kesal Faraz.
mereka pun tertawa, ya sekarang Aryan tinggal di rumah Rafa dulu, karena Faraz lebih memilih tinggal bersama Wulan dan Raka.
Wulan sedang mengajar ngaji keempat bocah itu, dia tak mengira di usianya sudah menjadi embah uti dari dua orang cucu.
padahal usia kedua putrinya juga tak jauh dari kedua cucunya, ya itu adalah rahasia Tuhan.
"assalamualaikum..." salam Raka yang batu pulang dari rapat RW
"waalaikum salam, pak RW sudah pulang, bagaimana rapatnya?" tanya Aryan.
"huh... ternyata benar dugaan ayah, Arkan akan di calonkan jadi lurah oleh semua orang di desa, kamu mau?" tanya Raka.
"ya ayah, padahal aku saja mundur dari kampus demi bisa istirahat dan menjadi ayah sempurna untuk Lily, ini malah di suruh jadi lurah segala, tuh Faraz saja," kata Arkan yang tak bersedia
"maaf, saya sudah sangat sibuk dengan kegiatan, noh si Aryan saja, lebih pantes di sebut bapak lurah, karena benar-benar bapak-bapak," kata Faraz yang bertos ria bersama Arkan.
"gak bisa, apalagi aku sering bolak balik ke Singapura, atau ayah saja yang maju ya, lumayan nerusin kakek dulu," jawab arkan.
"gak minat, kakek kalian saja mundur di tengah jalan," jawab Raka.
"ya sudah gak ada yang bau, ya sudah biar ayah yang bilang pada mereka nanti," kata Raka.
sedang di rumah Niken, wanita itu sedang memasak untuk suaminya, Azam memeluk Niken dari belakang.
pasalnya malam ini rumah sepi karena Aris dan Ayu serta kedua Adik mereka sedang menghadiri pesta di rumah saudara yang cukup jauh.
jadi mereka akan menginap jadi Niken dan Azam punya waktu berdua yang cukup lama.
Azam mulai mengecup tengkuk dari leher Niken, "mas... geli.." lirih Niken.
"ayolah sayang, selama ini aku belum sepenuhnya puas," bisik Azam.
__ADS_1
"maksudnya apa mas? belum puas, bukankah mas selalu membuatku lemas," jawab Niken polos
"bagaimana bisa puas, orang gak pernah bisa di sentuh, karena senjata sialan itu," batin Azam yang tersenyum di depan Niken.
Niken selesai masak dan makan bersama Azam, setelah itu Azam membawa istrinya itu ke kamar.
dia benar-benar tak tahan lagi, terlebih selama ini sudah sangat bersabar.
dia langsung merobek baju istrinya dengan kasar dan langsung mencumbunya.
Niken pun di buat merinding dan begitu berhasrat, akhirnya malam itu Azam berhasil menikmati tubuh istrinya yang selama sebulan ini begitu sulit tersentuh.
bahkan Azam tak ada habis dan lelah dalam melakukan hal itu, hingga membuat Niken pingsan.
setelah itu dia menyeringai, bahkan dia sempat mengagahi istrinya dalam bentuk aslinya.
keesokan harinya, Niken terbangun dan melihat suasana kamar yang begitu berantakan, bahkan sprei sudah acak-acakan.
"ya tuhan, bagaimana kami semalam melakukannya hingga begitu berantakan tempat ini," gumamnya.
Niken melihat ada catatan dari suaminya yang ternyata sudah berangkat bekerja.
"ah... aku kesiangan ternyata," gumamnya.
Niken pun beranjak turun tapi area intimnya begitu sakit, dia pun perlahan berjalan.
hari ini dia memutuskan untuk tidak kuliah dan bolos karena sedang malas.
dia hanya bermalas-malasan di rumah,bahkan dia juga memesan makanan untuk dirinya sendiri.
Niken juga kaget saat membaca berita tentang temannya yang menjadi korban pelecehan mahluk ghaib.
"dasar gadis gila, mana ada mahluk ghaib doyan begituan, jangan-jangan si mawar halus lagi, ha-ha-ha," kata Niken tak percaya.
dia pun sekarang baru tau kenapa setiap orang sangat menyukai hubungan suami istri.
terlebih suaminya yang begitu hebat, "ah... sekarang aku harus fokus mencintai mas Azam karena dia suamiku, dan beruntung dia adalah pria yang kuat," kata Niken.
__ADS_1
Niken benar-benar sudah di buatkan oleh suaminya itu, dan itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Azam.