
Faraz sampai di rumah orang tua mereka, terlihat Anand sudah tertidur di pangkuan Tasya dengan sangat nyenyak, begitu pun Lily.
sedang para orang tua ada di ruang tamu untuk membahas masalah Aryan.
Faraz duduk dan bersandar pada kaki Wulan, dan ibunya itu langsung mengusap kepala putra sulungnya itu.
"sudah nak, semua sudah terjadi, sekarang ayah hanya bisa mendukung semua keputusan mu, ayah yakin kamu bisa memilih yang terbaik untuk mu dan putramu," kata Raka.
"terima kasih ayah, tapi jujur aku tak bisa menerima penghianatan ini, aku bisa membesarkan putraku sendiri, maafkan selama ini aku terus membuat kalian semua khawatir," kata Aryan yang menghapus air matanya.
"iya nak," jawab Raka.
dia tak mengira jika pernikahan putranya bisa berakhir dengan cara seperti ini.
malam itu Aryan tidur di rumah orang tuanya, sedang Anand di bawa oleh Arkan pulang.
setidaknya bocah itu butuh ketenangan, dan Tasya akan membuat anand yang masih kecil mengerti tentang apa itu perpisahan.
Anand tidur bersama Arkan, dan Tasya tidur bersama putrinya Lily, tuan Alan masih merokok di luar rumah karena tak ingin membuat kandungan putrinya bermasalah.
*********
keesokan harinya, Lily dan Anand sudah siap ke sekolah, bocah laki-laki itu tampak biasa tanpa mau bertanya apapun.
"anand nanti pas pulang sekolah, mau ikut mami atau pulang ke rumah?" tanya Tasya.
"pulang saja mami, Anand sudah tau kok jika bunda pergi dari rumah, dan Anand akan bersama ayah, karena Anand gak mau ayah sedih sendirian," jawab bocah kecil itu.
"sedih sendirian?" tanya Arkan penasaran.
"saat papi pergi menjemput mami, ayah mengajakku untuk menemui om Khoir, dia itu dokter yang menjadi teman ayah," kata anand.
"apa? Khoir, ya tuhan memang kondisi Aryan separah apa?" lirih Arkan kaget.
"memang kenapa papi?" tanya Tasya yang masih belum mengerti.
"Khoir itu dokter psikiater teman kami, jika Aryan menemui Khoir dan melakukan pengobatan, berarti kondisinya sangat buruk," kata Arkan.
"sudah kalian pergi ke tempat orang tua kalian, biar Daddy yang antar anak-anak," kata tuan Alan.
__ADS_1
"tapi Daddy yakin, nanti nyasar lagi," kata Tasya gak yakin.
"tenang sayang, Daddy mu itu seorang mafia, tak mungkin salah jalan kan, kan ada maps, jadi tenang saja," jawab pria itu.
"baiklah aku percaya dengan mu Daddy, tapi jika kesasar, tolong langsung telpon aku atau mas Arkan ya," kata Tasya.
"baiklah sayang, aku mengerti," jawab pria bule itu.
meski di usianya yang ke lima puluh tahun, pria itu nampak masih muda dan seksi.
itulah kenapa banyak wanita yang mengejarnya, tapi dia tak tertarik dengan wanita manapun setelah kematian istrinya, mama dari Tasya dua puluh tahun yang lalu.
ya mereka menikah muda, dan Tasya berusia empat tahun istrinya meninggal dunia.
"come on baby, kita berangkat," kata tuan Alan.
"aku tidak yakin kami bisa datang ke sekolah saat opa yang mengantar," kata Lily tak percaya.
tapi yang membuat mereka kaget, pria itu tak membawa mobil melainkan motor milik Arkan,
"itu tidak muat opa," protes Lily.
Lily pun pasrah, dia duduk di depan dan Anand di belakang, mereka pun menuju ke sekolah.
saat sampai tuan Alan mengeluarkan yang dua puluh ribu di berikan pada Lily dan Anand, tapi dia mencari sosok bocah satu lagi.
"itu siapa anak laki-laki yang di angkat anak oleh orang tuamu honey?" tanya tuan Alan.
"ah.. Adit, itu dia opa," jawab Lily menunjuk bocah yang berlari ke arah Lily dan Anand.
tuan Alan membuka helmnya, dan semua orang yang mengantar putra putri mereka kaget melihat seorang bule tampan bersama anak-anak.
"selamat pagi mister," salam Adit sopan.
"bukan mister Adit, tapi panggil opa seperti halnya Lily dan Anand oke, dan ini uang saku untuk mu, dan ingat tolong jaga bocah nakal ini," mata tuan Alan mengacak jilbab Lily.
"opa, jilbabnya rusak nanti," protes gadis kecil itu yang berhasil membuat sang opa tertawa.
"baiklah kalau begitu cepat masuk," kata tuan Alan.
__ADS_1
ketiganya pun berpamitan lagi, ketiganya pun masuk, tuan Alan buru-buru pergi menuju ke kota untuk membeli sesuatu.
dia berhenti di sebuah toko baju yang cukup terkenal di kota, tuan Alan pun memilih beberapa celana pendek santai dan juga kaos.
pasalnya dia tak membawa banyak baju, tapi kalau kemeja banyak, sehingga dia tak memiliki baju santai.
tak lupa dia membeli singlet untuk berolahraga, setelah itu dia pun membayar dan baru memutuskan pulang.
tak lupa dia juga mengambil uang untuk jaga-jaga, bagaimana pun dia tak ingin merepotkan orang.
tuan Alan pun melewati alun-alun Jombang yang sekarang sudah sangat bagus.
dia pun memilih berhenti saat melihat penjual buah, setelah memilih buah yang dia inginkan pun dia memutuskan pulang.
tapi dia lupa jalan pulang, tapi tuan Alan tak panik, dia melihat ada penjual sayuran yang sedang berhenti.
"maaf permisi, bisakah anda menunjukkan saya, alamat desa Beji, lebih tepatnya penggilingan beras milik juragan arkan?" tanya tuan Alan.
"ah mari mister saya antar, kebetulan saya mau keliling di desa itu," jawab pedagang yang memakai baju sangat rapat.
dari suaranya yang serak, tuan Alan pikir dia itu lelaki, dia pun mengikuti penjual itu dan saat masuk desa dia sudah ingat dan berterimakasih.
sedang di rumah keluarga Raka, Arkan sedang mengajak Aryan berbincang.
"sepertinya masalah mu sangat pelik, sebenarnya ada apa, kenapa sepertinya kamu menghindari kami?" tanya Aslan yang duduk berdua di area kebun bambu.
"kamu tau Khoir, dia adalah psikiater terbaik, dia membantuku mengatasi masalahku tiga bulan ini, terlebih kamu tau jika mertua ku di tipu orang, dan istriku dengan paksa memaksaku menjual beberapa usaha lama ku untuk membantu mertua, aku tak keberatan, tapi setelah keluarga mertua ku bangkit, masalah itu datang, satu persatu surat berisi foto bejat itu di kirim padaku, bahkan pernah anand yang menerimanya, dan dengan polos putraku itu membuka dan menunjukkannya padaku, aku serasa hancur, itulah kenapa aku makin menjauh dari keluarga, bukan apa tapi sikap Nayla yang berubah, bahkan pada Tasya yang kita tau semua jika istrimu itu memang dari keluarga kaya, tapi Nayla terus merasa jika semua yang kalian miliki itu dari ayah dan Amma, aku lelah menjelaskan, beberapa kali aku ingin mengakhiri hidupku, jika bukan ingat pada Anand, mungkin aku sudah mati dari awal, dan aku juga kehilangan semua kekuatan yang aku miliki, itulah kenapa aku selalu menolak ajakan kalian," kata Aryan menangis.
Arkan memeluk saudaranya itu, dia tak mengira jika kondisi Aryan begitu buruk, terlebih pria itu memang tak pernah mau jujur.
"baiklah, kita akan menghadapi wanita itu di pengadilan agama, kamu rencana Kapan mau kesana, atau perlu pengacaraku saja," tanya Arkan.
"tolong bantu aku, aku harus menemui Khoir lagi untuk membantuku bisa mengatasi segala kegelisahan ku ini," mohon Aryan yang di angguki oleh arkan.
Tasya pun bersama Wulan untuk menenangkan ini mertuanya, dia juga tau jika perceraian itu di benci okeh tuhan meski di halalkan.
tapi kesalahan dari Nayla tak bisa di tolerir lagi, dan mereka semua mendukung apapun pilihan dari Aryan nantinya.
untuk anand, mereka bisa membesarkan bocah itu bersama-sama terlebih anand anak yang pintar.
__ADS_1