Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
selamat datang kembali


__ADS_3

Azam hanya bisa berdiri di pojokan ruangan sambil tersenyum kearah Niken yang sedang di kelilingi oleh keluarganya.


dia terus tersenyum kearah Niken, begitupun Niken yang bisa melihat sosok Azam.


Faraz dsb Aryan langsung bergegas menuju rumah sakit saat mendapatkan kabar jika Niken sadar.


sedang arkan menolak karena harus menjaga ketiga anaknya. entah itu bener atau hanya alasan arkan saja, tapi Faraz tak mau ambil pusing masalah itu.


sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung masuk dan melihat Niken yang sedang duduk di ranjang miliknya.


tapi Faraz bisa merasakan atmosfer yang berbeda di ruangan itu, "selamat datang lagi ya Niken,"


"terima kasih Aryan, aku jadi tak sabar ingin mengajar lagi, terlebih lagi melihat bagaimana murid-murid yang selalu saja protes saat di ajak ulangan," jawab Niken.


Aryan pun mengangguk, Azam pun memilih pergi untuk pulang ke rumah Arkan.


sesampainya di rumah, dia melihat arkan yang sedang tertawa bersama dua anaknya yang sedang bermain monopoli.


"kamu tak ingin menjengguk Niken tuan?" tanya Azam yang berdiri di balik tubuh Arkan.


"kenapa harus sekarang, aku tak ingin melihatnya terlebih harus melihat dua sosok yang menunggunya untuk segera membawanya pergi, jadi tak perlu aku melakukannya," saut arkan.


"apa maksud mu tuan, berati umurnya tak lama lagi?" tanya Azam yang kaget.


"menurut mu, usia memang tidak ada yang bisa tau, tapi pasti semua orang akan mati, terlebih aku tak mau menyakiti istriku," jawab Arkan


"bukan itu pertanyaannya tuan, apa Niken akan mati?" tanya Azam lagi.


"sudah bisa di pastikan om genderuwo, jadi tidak usah terus bertanya, anggap saja sekarang dia sadar hanya untuk pamitan," kata Adit dingin.


Azam tak mengira akan mendengar itu, tapi jika arkan yang berbicara itu pasti akan terjadi.


"kalian berdua punya tugas dari guru di sekolah?" tanya Tasya yang datang sambil memberikan cemilan dan ikut duduk di samping arkan.


"sudah selesai mami, karena tadi aku mengerjakannya saat jam kosong," jawab Adit.


"aku juga, dan itu berkat kak Adit yang membimbingku," jawab Lily senang.

__ADS_1


"bagus kalau begitu, oh ya apa kalian tidak ingin sesuatu?" tanya arkan dengan senyum jahilnya.


"aku mau mie ayam plus ceker satu mangkok full," kata Lily mengangkat tangannya.


"aku juga papi, tapi kalau boleh plus martabak telur," kata Adit.


"kok kebetulan papi juga lapar dan ingin makan mie ayam, kalau mami ingin apa?" tanya arkan.


"aku bakso urat jumbo saja dua," kata Tasya.


"wah... istriku suka bakso," kata Arkan.


"hentikan meledekku , sudah pesan sana mas," kata Tasya


"baiklah kita titip ke Daddy Alan, ya karena mumpung dia berada di luar bersama calon mamah mertua ye Jan, lumayan papi gak keluar uang," kata Arkan tertawa.


"yey... ku kira papi yang beli." kata Lily.


"hak papa dong, sekali-kali kita titip pada opa, ya lumayan lah biar gak kaku aja," kata arkan.


malam itu tuan Alan dan mbak Utami sedang keluar untuk membeli sesuatu di kota.


pria itupun menghela nafas panjang, "ada apa mas?"


"ini anak-anak di rumah pesan mie ayam dan bakso, aku tak tau tempat penjual seperti itu yang enak di kota," kata tuan Alan bingung


"aku tau, kita makan saja sekalian di sana, tapi tempatnya pinggir jalan tapi rasanya bisa di adu dengan yang lain," kata mbak Utami.


"baiklah aku percaya padamu," kata tuan Alan yang kini mengikuti arahan dari mbak Utami


mereka sampai di tempat puja Sera yang ternyata sangat ramai karena banyak anak-anak muda yang sedang pacaran.


"ini tempatnya, penjual bakso dan mie ayam,tapi kalau untuk mastabak biar aku yang pesan ya, mas tunggu di sini," kata mbak Utami.


"baiklah, aku akan menunggu mie ayam siap," jawab tuan Alan.


mbak Utami pun mulai memesan dua martabak spesial untuk dua bocah itu.

__ADS_1


pasalnya sebentar lagi mereka akan jadi keluarganya juga. tuan Alan lupa belum memberikan uang pada mbak Utami


dia pun bergegas menghampiri wanita itu, tapi dari kejauhan tampak wanita itu sedang berbincang dengan seorang pria.


"mau apa kamu di sini?" tanya mbak Utami yang gemetar melihat sosok mantan suaminya.


"kenapa? tentu saja jalan-jalan bersama anak dan istriku, kami keluarga bahagia, sedang kamu kasihan janda tak laku, dan lagi aku yakin tak akan ada pria yang mau saat tau jika dirimu itu mandul," kata pria itu.


tuan Alan semakin mendekat dan tak sengaja mendengar suara pria yang menghina calon istrinya itu.


"apa ada masalah pak, apa istri saya mencelakai anda?" tanya tuan Alan yang membungkam mulut pria itu.


"mas... sudahlah kita pergi jangan buat keributan," mohon mbak Utami.


"oh... sekarang kamu sudah mendapatkan pria yang lebih dariku ternyata, pasti bule ini hanya ingin tubuhmu, besok juga di buang," hina pria itu lagi.


mendengar itu mbak Utami menampar pria itu dengan cukup keras.


"silahkan hina diriku, tapi jangan pernah hina dia, karena dia seratus kali lebih baik dari pada dirimu, kau tau itu!!" marah mbak Utami.


"ya sebagai orang normal pasti lebih memilih pria yang sempurna, lihat saja kamu melihat duriku saja sampai mendongak begitu, berdiri dong tak sopan berbicara sambil duduk," kata tuan Alan yang memancing tawa semua orang di sana.


pria itu makin merasa terhina mendengar ucapan tuan Alan, terlebih ukuran tubuh mereka memang sangat berbeda jauh.


tuan Alan membayar pesanan dari mbak Utami, "sudah sayang, pria itu bermulut besar jangan pedulikan dia, sekarang ayo kita pulang, anak-anak sudah menunggu kita," ajak tuan Alan.


"hei pria asing, kamu bercanda ya, wanita itu tak mungkin bisa punya anak, sepuluh tahun menikah dia tak bisa memberikan aku momongan, dan lihatlah aku sekarang sudah menikah lagi dan anakku ada dua, jadi aku ingatkan agar nanu tak menyesal nantinya," kata pria itu.


"menyesal atau tidak itu urusan ku, dan untuk momongan aku tak butuh itu karena aku hanya ingin hidup berdua dengan wanita yang aku cintai, dan untuk anak aku bisa mengangkat anak yatim," kata tuan Alan


"dasar pria bodoh, suatu saat jamu pasti menyesal," kata pria itu semakin marah


"tidak akan, dan mungkin yang salah bukan hanya wanitanya, sebenarnya kamu bisa saja juga lemah syahwat, terlebih dengan postur tubuh mu itu, aku makin yakin jika adik mu pasti tak bisa membuat istrimu itu puas, lihat saja sekilas, anak-anak mu bahkan tak seperti dirimu, jadi jangan menghardik seseorang," kata tuan Alan yang kemudian pergi merangkul mbak Utami.


mbak Utami tak mengira jika pria ini begitu melindunginya, "Utami, kamu kenapa dulu mau dengan pria pendek seperti itu, bahkan dia tak lebih tinggi darimu," kata tuan Alan heran.


"karena dulu dia itu membantu perekonomian keluargaku," jawab mbak Utami.

__ADS_1


"pasti menyebalkan ya, udah setengah, tapi mulutnya sangat pedas sebagai seorang pria, aku saja kesal dan ingin memukulnya, karena mulutnya itu lebih mirip ibu-ibu pengisian dan tukang hina orang," kata tuan Alan.


sedang mbak Utami hanya tersenyum mendengar ucapan dari tuan Alan.


__ADS_2