
"kenapa kamu menatap Adit begitu lama, kamu terkejut melihat dia baik-baik saja?" tanya ayah Raka pada putranya Faraz.
"tidak, tadi aku sempat lupa siapa ayah angkatnya," jawab Faraz.
mereka pun makan siang bersama, tak lupa untuk meminta bantuan pada seluruh anak yatim untuk mendoakan Niken agar bisa melewati seluruh masa kritisnya.
tapi Arkan sebenarnya sudah memiliki firasat buruk, tapi dia tak ingin membuat semua orang panik.
juragan Aris juga memberikan kabar jika operasi Niken berjalan baik dan segera di bawa ke ruang ICU sentral untuk pemulihan.
"aku tak mengira jika semua ini bisa menimpa Niken," kata Aryan.
"sudahlah rezeki, maut dan umur itu rahasia Tuhan, jadi jura tak perlu bingung atasnya," saut arkan.
"mami aku laper ..."
"baiklah putri cantik mami dan pangeran tampan manis ingin makan apa?" tanya Tasya
"apapun yang di minta Lily saja mami," jawab Adit.
"jadi Lily kakak mu ikut kamu, sekarang mau makan apa?" tanya Tasya pada putrinya itu.
"aku ingin makan em..." kata Lily sambil mikir dengan duduk berjongkok.
"buat goreng ikan gabus yang tadi Amma bawa saja nduk, kasihan Adit jika harus makan yang aneh-aneh sebelum luka di tubuhnya sembuh," kata Amma Wulan.
"tidak eyang, aku sudah sembuh, Lily mau makan udang goreng juga gak apa-apa kok,aku juga suka," jawab Adit.
Tasya mengacak rambut putranya itu, "baiklah kalau begitu terserah mami mau masak apa, dan Lily tak boleh protes, dasar pembenci sayuran," kata Tasya tertawa.
"aku hanya suka capcay," teriak Lily.
bayi Linga sedang bermain dengan mbak Utami dan tuan Alan. dengan iseng ayah Raka memotret mereka.
"lihat aku punya foto keluarga bahagia, jadi kapan menikah?" tanya ayah Raka melihat keduanya.
"saat Utami menerima lamaran ku, padahal aku sampai mempercepat urusan di Singapura agar bisa pulang dan segera mengetahui jawabannya," kata tuan Alan tersenyum.
"bismilah, sebenarnya lebih cepat lebih baik, bang Raka dan Mbak Wulan sebagai orang yang ku anggap keluarga, tolong bantu cari hari yang baik," kata mbak Utami.
"hah.... apa maksudnya?" tanya tuan Alan.
"itu berarti lamaran mu di terima tuan, selamat sebentar lagi kamu tak akan jadi duda kesepian lagi," kata ayah Raka memberikan selamat.
semua orang bersuka cita, tuan Alan tak mengira jika mbak Utami setuju mungkin karena kebersamaan dia dan Tasya jadi lebih dekat.
Niken jatuh koma, pasalnya berkali-kali dia berusaha masuk kedalam tubuhnya seperti di tolak.
bahkan saat dia menjatuhkan diri tetap saja tidak bisa, "sebenarnya aku ingin pulang tolong aku mohon bolehkah aku memohon satu kesempatan lagi," kata arwah Niken.
tapi tetap saja tubuh Niken seakan menolaknya. Niken pun mencoba duduk di luar.
dia sendiri kebingungan sekarang, bagaimana tidak, dia tak bisa kembali ke tubuhnya.
Niken pun mencoba mencari Faraz dan Arkan, entahlah dia butuh saran dari keduanya.
ternyata dia malah sampai di rumah keluarga Arkan, dan saat itu sangat ramai.
Lily dan Adit sedang makan bersama semua orang, tak terduga Lily mrligay sosok Niken yang berdiri di samping keranjang bayi Linga.
"loh Tante Niken kenapa di situ, ayo duduk sini," panggil Lily.
Niken yang merasa di panggil pun menoleh, dia tak mengira jika bocah perempuan cantik itu bisa melihatnya.
__ADS_1
"Lily apa yang kamu bicarakan?" tanya Amma Wulan mendengar ucapan cucunya.
"iya eyang, itu ada Tante Niken, sekarang dia berjalan kemari, memang eyang tak bisa melihatnya?" kata Lily polos.
Arkan, Faraz sudah saling diam, ayah Raka apa yang keduanya pikirkan.
"sudah-sudah, biarkan Niken duduk, sekarang lanjutkan makannya," kata ayah Raka.
Niken duduk di sebelah Faraz yang kebetulan ada kursi kosong, Lily di bantu Adit menyingkirkan duri.
sedang Tasya bisa merasakan aura dari Niken, satu persatu selesai makan.
setelah itu semuanya berkumpul di ruang keluarga, "jadi Arkan, dan Faraz sebenarnya apa yang terjadi pada Niken, kenapa dia bergentayangan?"
Lily yang mendengar ucapan embah kung-nya pun kaget, "apa maksudnya embah kung? apa tante Niken sudah meninggal?" tanya Lily.
"belum Lily, tapi Tante Niken tak bisa masuk ke raga miliknya karena sesuatu menghalanginya," kata arkan menjelaskan.
"apa itu papi?"
"mungkin semacam keinginan terakhir untuknya," kata Faraz yang menjawab pertanyaan Adit.
"baiklah, jika Tante di sini, tolong maafkan Adit jika Adit pernah melakukan dan mengucapkan hal buruk, terlebih ucapan itu Adit lontarkan saat marah, maafkan Adit ya Tante," lirih Adit.
Niken pun memeluk tubuh bocah laki-laki itu, "tenang saja, semua yang terjadi mungkin takdirku," bisik Niken.
Arkan yang mengerti pun tak bisa mengatakan apapun saat ini, Krena dia belum bisa menjelaskan apapun pda keluarganya.
karena di harus memberikan pengertian pada Adit terlebih dahulu, karena tak mudah hidup seperti Adit yang harus dia jalani.
semua orang pamit pulang, tapi Niken malah berjalan ke area belakang rumah Arkan.
dia melihat ada sosok hitam berbulu lebat sedang duduk dan mendengarnya menangis.
di pun duduk di sebelah sodok tinggi besar itu, "aku baru tau loh kalau genderuwo juga bisa menangis?"
Azam menoleh dan kaget melihat arwah Niken di samping dirinya sambil tersenyum.
"kamu di sini?" tanya Azam.
"iya... aku tak tau mau kemana,terus tadi ada seseorang yang memanggil ku dengan suara lembut jadi aku ke sini, eh malah melihat mu menangis,"
"kamu bagaimana bisa seperti ini?" tanya Azam yang mencoba menyentuh wajah Niken dengan jarinya.
Niken mundur karena kaget, tapi kemudian dia membuka tangan Azam.
dan kemudian menaruh kepalanya di telapak tangan besar itu, "aku juga tak tau, tapi sepertinya hidupku tak lama lagi..."
Niken tersenyum dengn wajah ceria, Azam yang melihat pun menangis di buatnya, meski dia di kenal makhluk yang jahat.
tapi di depan Niken, dia adalah sosok yang lembut, bahkan kini senyum Niken seperti ratusan tombak yang tengah menghujam tubuhnya.
"bolehkah aku terus bersama mu, untuk menemani mu?" tanya Azam.
"tentu, aku akan suka saat bisa di temani oleh orang yang melankolis seperti ini," kata Niken dengan senang hati.
bahkan ketakutannya pada Azam perlahan-lahan menghilang, Arkan yang melihat itu pun memilih untuk membiarkan keduanya.
dia yakin Azam tak akan pernah membuat arwah Niken terluka, anggap saja ini adalah hadiah untuk Azam yang sudah terlalu lama sedih dengn segalanya.
"papi menangis?" tanya Tasya.
"aku hanya merasa haru melihat dia orang itu, mereka begitu hebat saling mendukung, bahkan aku membiarkan untuk Azam menemani di saat-saat terakhir Niken," kata Arkan.
__ADS_1
"apa tak ada cara untuk bisa menyelamatkan dia papi, karena dia masih sangat muda?" tanya Tasya merasa kasihan.
"tidak ada mami, karena sebenarnya jika bukan karena Adit pun, dia juga akan meninggal dunia, terlebih umurnya sudah di hisap saat di mengandung anak dari Azam," jawab Arkan.
mendengar itu Tasya menangis di pelukan suaminya, di tak mengira jika Niken harus menghadapi semuanya seperti ini.
sedang Adit merasa jika semua terjadi karena dirinya, Arkan dan Tasya masuk kedalam kamar putranya itu
"papi... kejadian Tante Niken itu karena Adit ya..." tangis bocah itu.
Arkan mengangguk dan langsung memeluk Adit, "meski begitu, kita tak tau umur dan kematian seseorang, Adit mulai sekarang kamu harus mulai bisa mengendalikan dirimu ya nak, dan ingat jangan pernah mengucapkan hal buruk saat kamu marah,"
"iya papi... tapi Adit harus bagaimana sekarang... Adit tak bermaksud marah dan membuat semuanya jadi seperti ini..." tangis bocah itu.
"tenang Adit, jika bukan karena mu Tante Niken juga akan mati sesuai dengan apa yang pernah dia lalui, jadi ini bukan sepenuhnya salahmu nak.." bujuk Tasya.
"iya Adit, lagi pula Tante Niken sudah memaafkan mu, jadi Adit sekarang harus belajar untuk bersabar dan tenang ya nak," kata Arkan.
Adit pun mengangguk mendengar perkataan dari kedua orang tuanya, terlebih dia harus melindungi dia adiknya.
Azam mengajak Niken pergi ke kotanya, dia bahkan berubah menjadi sosok lain dari sosok pria yang di kenal Niken.
"wah... kamu bisa berubah menjadi artis ganteng begitu, wah...."
"ini hal biasa Niken, sekarang ayo kita jalan-jalan ke kota tempat ku tinggal," kata Azam.
"kota seperti apa, bukankah kalian ini suka tinggal di pohon beringin dan gua dan hutan," jawab Niken bingung.
"tidak semua mahluk seperti ku tinggal di tempat seperti itu, aku juga tinggal di tempat seperti kerajaan khusus, bahkan Raka kami saja menjadi pelindung dua saudara itu," kata Azam.
"wah... ternyata mereka begitu hebat," kata Niken yang memeluk Azam.
dan kini mereka pun sampai di kerajaan yang di maksud oleh Azam, itu adalah kerajaan siluman.
Niken merasa kaget karena melihat semua yang ada di kota kerajaan yang di maksud oleh Azam.
pasalnya itu seperti kota modern pada umumnya, meskipun yang membuat berbeda adalah penampilan orang yang berada di sana.
penampilan mereka cukup menakutkan untuk ukuran orang normal, ada yang berwajah manusia tapi tubuhnya hewan
ada juga anak-anak yang memiliki wajah seram dengan gigi taring, melihat itu niken mengenggam erat tangan Azam.
"tenanglah,mereka semua baik kok, sekarang kita jalan-jalan saja yuk," ajak Azam.
ini adalah kali pertama dia bisa mengajak Niken berjalan-jalan seperti pasangan kekasih normalnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
halo semuanya, ini aku kasih apa sosok Azam ya yang lagi maleh rupa.
ini yang mode nikahin Niken...
ini mode ngajak Niken dan menemaninya saat wanita itu sudah jadi arwah...
kalau untuk sosoknya Niken, aku bingung mau cari yang gimana... semoga ini cukup ya...
maaf semalem gak up tepat waktu karena aku nulis sudah kemaleman...
__ADS_1
tapi terus dukung dengan cara like, vote dan komen ya.... terima kasih ππππππ