Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
rumah mertua


__ADS_3

sore ini Niken sedang bersantai di teras, Azam pulang saat mulai hari mulai petang.


"mas, kenapa baru pulang, aku sudah sangat merindukan mu," kata Niken.


"wah ada apa ini? kenapa istri cantikku ini begitu manja sih," kata Azam tersenyum sambil membelai rambut Niken.


"aku sendirian di rumah, terlebih ayah dan bunda juga mengundur kepulangan mereka," kata Niken.


"benarkah, kalau begitu bagaimana jika kita pulang ke rumah orang tuaku, kebetulan besok hari libur bukan," kata Azam memeluk istrinya itu.


"baiklah aku mau, kebetulan aku belum pernah kesana, tapi kita harus bawa apa kesana mas?" tanya Niken.


"tidak perlu bawa apa-apa, lebih baik sekarang masuk yuk," ajak Azam.


pasalnya ada beberapa orang yang lewat dan memperhatikan sosok Niken.


pasalnya mereka melihat gadis itu seakan memeluk dan berbicara dengan sosok yang tak kasat mata.


Niken pun bersiap dan mengemas beberapa baju, Azam pun mengeram kesal.


itulah kenapa dia tak suka saat seperti ini, terlebih orang selalu ikut campur dengan urusan orang lain.


malam itu, Niken berangkat bersama suaminya, tapi dalam perjalanan Niken tertidur karena mengantuk.


saat dia membuka mata, dia sudah berada di sebuah rumah yang begitu indah dan mewah.


Niken terkejut bukan main, pasalnya dia baru pertama kali ke rumah yang begitu besar seperti ini.


seorang wanita menyapa Niken, "nona sudah bangun, Monggo saya antar ke tempat tuan muda," kata wanita itu yang mengenakan baju kebaya.


Niken pun mengikuti wanita itu, dia turun ke lantai satu, dan terlihat ada begitu banyak orang sedang berkumpul.


wanita tadi berjongkok di depan semua orang, sedang Azam berdiri di samping Niken yang nampak bingung.


"Semuanya perkenalkan istriku, Niken Yuswandari Munandar," kata Azam memperkenalkan istrinya itu.


"menantu, kemarilah aku ingin melihat mu nak, kamu terlihat begitu cantik, pantas saya putra kesayangan kaki ini memilihmu," kata wanita setengah baya yang terlihat sangat cantik itu.


"terima kasih ibu, maaf jika selama ini saya kurang sopan karena tak pernah berkunjung," kata Niken sedih.


"tidak apa-apa nak, itu karena suamimu yang tak mengajak mu datang kesini," kata pak Broto.

__ADS_1


"iya pak, terima kasih," jawab Niken.


semua saudara iparnya pun menarik Niken untuk ngobrol di samping rumah.


"Niken perkenalkan kami adalah kakak ipar mu, aku Dini, Sesa, dan ini Fira," kata Dini.


"salam kenal kak," jawab Niken.


"aduh kamu katanya masih kuliah ya, padahal kami ingin kamu tinggal disini, karena kasihan loh kalau suamimu harus pulang pergi begitu," kata Fira.


"iya mbak, sebentar lagi saya lulus dan akan ikut mas Azam," jawab Niken.


"itu bagus jadi kita akan sering ketemu ya, oh ya bik nun, tolong cemilannya bik," panggil Sesa.


"inggeh non," jawab pelayan yang tadi menuntun Niken.


suasana begitu ramai, bahkan di luar adalah perumahan orang kaya yang tak pernah sepi.


"ini cicipi ya, ini itu cemilan khas disini loh," kata Dini.


"terima kasih mbak," jawab Niken yang mengambil kue kering itu, rasanya begitu enak di mulut Niken.


Sesa pun merasa senang jika Niken suka, terlebih itu adalah makanan yang dia buat sendiri.


sedang orang tua dari Azam pun mengangguk, pasalnya Niken memiliki aura yang kuat.


"bagus jika kamu sudah bisa kamu sentuh, dan segera punya anak dengannya karena itu akan sangat menguntungkan bagi keluarga kita, terlebih anak itu adalah laki-laki," kata pak Broto.


"itu benar, jadi lekas buat anak untuk meneruskan nama keluarga ini, kalian bertiga juga, cepat buat istri kalian semua hamil, dan untuk mu Dino, berhentilah mencari wanita luaran dan cepat hamili istrimu," perintah Bu Broto.


"baik ibu," jawab Dino, kakak pertama dari Azam.


setelah puas berbincang, mereka pun menuju ke kamar masing-masing, Azam juga langsung mencumbu istrinya.


Niken pun di buat tak bisa menolak sentuhan suaminya itu. bahkan Niken tak sadar jika yang melakukan dengannya bukan lagi sosok suami tampan yang selama ini di lihatnya.


tetapi sosok hitam berbulu dengan taring dan kuku panjang, bahkan mata merah nyalang.


di tempat lain, Arkan sudah siap berangkat bersama putrinya, pasalnya dia harus mengurus usaha yang ada di luar negeri.


Lily sedang berpamitan dengan semua orang, Raka terus menangis karena Lily yang akan pergi.

__ADS_1


"ayah berhentilah menangis, kamu hanya pergi beberapa hari, bukan menetap selamanya,", kata Arkan tak habis pikir.


"tapi tetap saja, aku tak bisa melihat cucu cantikku ini lagi," kata Raka begitu sedih.


"sudah ya embah kung, Lily cuma pergi sebentar saja, nanti Lily bawakan oleh-oleh ya," kata gadis itu dengan sangat baik.


"baiklah kalau begitu, setelah urusan mu selesai lekas pulang, ayah kesepian di rumah," kata Raka yang seakan tak mau melepaskan Lily


"ayah kami di rumah loh, maksud ayah kesepian ini gimana?" tanya Faraz merasa aneh.


"habis semua cucuku pergi, Anand juga sedang berada di rumah embah kung nya, terus ayah main sama siapa, habis Husna dan Aluna gak bisa di ajak main sih," kata Raka.


"sudah berhenti menahan mereka, bisa-bisa mereka ketinggalan pesawat," kesal Wulan menjewer kuping suaminya itu


Raka pun melambaikan tangan, Faraz mengantar keduanya ke bandara agar tak telat.


selama perjalanan Lily nampak begitu senang, terlebih dia baru pertama kali akan bertemu dengan kakeknya.


ya dulu Arkan membawanya saat masih bayi merah, dan setelah lima tahun mereka baru kembali ke negara itu.


dan tak mudah untuk Arkan menyiapkan kembali mentalnya, terlebih dia harus melihat sosok istri yang sudah lama tak menemaninya.


"semoga saat kalian sampai disana, dia sudah sadar dan bisa melihat mu dan putrinya," kata Faraz.


"amiin... aku selalu berdoa untuknya, dan jika kali ini takdir menghianati ku, mungkin aku bisa saja tak percaya dengan adanya tuhan," jawab Arkan.


"jangan bicara seperti itu, aku yakin jika tuhan pasti membuat kalian bertiga bersama," jawab Faraz.


"ayah besar, apa opa Lily baik?" tanya gadis kecil itu.


"opa Lily... sangat baik dan begitu royal, bahkan ayah besar yakin jika nanti dia akan senang jika tau cucunya sudah besar dan cantik begini, nanti jangan lupa untuk menelpon ayah besar ya kalau sudah sampai di Singapura," kata Faraz pada Keponakannya itu.


"siap ayah besar," kata gadis kecil itu.


Faraz mengantar sampai bandara, bahkan dia mengendong Lily, karena dia akan sangat merindukan gadis kecil itu.


karena ini adalah kali pertama Lily meninggalkan rumah dan itupun sangat jauh.


Faraz terus menciumi gadis kecil itu, "ayah akan sangat merindukan mu," kata Faraz.


"baiklah kami berangkat ya, jika punya waktu kamu bisa menyusul kami ke Singapura," pesan Arkan.

__ADS_1


Faraz mengangguk dan melambai saat keduanya masuk untuk melakukan pemeriksaan.


__ADS_2