Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
kamu pilih siapa


__ADS_3

niken pun hanya diam mendengar suara Faraz menyebut nama wanita lain dengan begitu lirih.


“selagi dia mencintai mu le, itu tak masalah, tolong pikirkan tentang hidup mu, lihat ayah mu dan arkan, mereka menemukan jodoh yang tepat dan Alhamdulillah dekat dengan Tuhan, jangan salah memilih wanita seperti Aryan yang terburu-buru, dan mbak lihat kalian berdua itu terlalu dekat, sepertinya tak baik jika kalian berdua terus terlihat bersama sebelum ada ikatan apapun, dan seharusnya wanita itu bisa menjaga kehormatannya," kata mbak Utami pedas.


"mbak ...." kata Tasya menghentikan wanita di sampingnya itu.


Tasya takut Niken marah dan bisa bersikap kasar pada mbak Utami, karena wanita itu jarang bisa menyembunyikan ekspresi tidak sukanya.


sedang Faraz tau ucapan mbak Utami di tunjukkan pada Niken, tapi itu tak salah, karena mereka memang tak memiliki ikatan apapun.


“iya, aku tak tau jika mbak Utami begitu cerewet, dan insya Allah nanti malam saya akan ke tempat ustadz Arifin sesuai permintaan mbak Utami, kebetulan ada pengajian rutin di sana, dan untuk aku yang datang bersama Niken, kebetulan kami bertemu di jalan, karena mobil Niken mogok jadi aku memberinya tumpangan dan mengajaknya kemari, ini kami mau pulang kok,” jawab Faraz menerangkan.


“bagus kalau begitu,” jawab mbak Utami tersenyum.


Sedang Niken kesal mendengar ucapan dari Faraz yang seperti menegaskan jika di antara mereka tak ada apa-apa.


Niken merasa kesal tanpa dasar, karena bagi Faraz gadis itu Cuma pasien yang harus di obati dan sebentar lagi tugasnya selesai.


karena Faraz juga butuh pendamping hidup yang sempurna dan itu harus sesuai pilihan dan persetujuan dari sang Amma tentunya dan Niken tak masuk dalam kriteria yang di miliki Wulan.


"sudah antar pulang dan kamu itu fokus mengajar, jangan jadi dosen libur Mulu," tegur mbak Utami.


Faraz hanya tertawa mengantuk tengkuknya, sedang Niken sangat marah dan kesal mendengar ucapan mbak Utami yang seakan mengurusi kehidupan Faraz.


"sebenarnya kami itu siapa sih, cuma penjual sayur aja banyak bicara," marah Niken.


"Niken jaga bicaramu," kata Faraz dan Tasya kompak.


"dia itu kan memang cuma penjual sayur, memang aku salah ," jawab Niken tak mau kalah.


"ya kamu salah, karena dia itu calon istriku, dan siapa kamu berani menghinanya," kata tun Alan yang datang dari mengantar kedua cucunya ke sekolah.


"apa!" kaget mbak Utami


sedang Tasya begitu senang mendengar ucapan ayahnya itu, dan mengacungkan jempolnya, begitupun dengan Faraz yang sangat setuju dengan pilihan Tuan Alan.

__ADS_1


Niken pun langsung diam, dia tak berani mengatakan apapun lagi, terlebih terakhir kali dia di marahi habis-habisan oleh Aris karena keberaniannya menantang tuan Alan.


"baiklah, aku akan mengatakan kabar gembira ini pada orang tua ku, dan kami sekeluarga menunggu om melamar mbak Utami secara resmi," tantang Faraz.


"tentu, bilang orang tua mu sebagai keluarganya, secepatnya aku akan datang ke rumah Utami untuk melamarnya," jawab tuan Alan.


Faraz pun mengangguk dan pamit pulang, Niken pun juga dan selama di mobil mereka tak ada yang mengatakan sepatah kata pun.


"mister om, jangan bercanda ya, om kan tau aku bukan gadis yang bisa kamu pilih, lagi pula aku masih trauma menikah," kata mbak Utami.


"setelah bertahun-tahun kamu masih trauma, padahal Raka bilang dia dan istrinya ingin melihat mu bahagia, dan tidak tinggal sendiri, dan untuk mu yang takut aku akan meninggalkan mu, tenang saja, aku akan menetap di sini selamanya, karena aku ingin dekat dengan putriku dan semua cucuku," kata tuan Zein


mbak Utami Diam, "terserah, aku mau lanjut jualan, mbak duluan ya mbak bos, ingat jika ada wanita tadi, usir saja bikin emosi soalnya," kata mbak Utami.


tuan Alan pun menahan tangan mbak Utami, saat menarik wanita itu mendekat, mbak Utami terlihat malu dan kabur segera.


dia pun tertawa melihatnya, dan Tasya pun mengeleng pelan melihat tingkah keduanya.


tuan Alan memeluk Tasya erat, entahlah dia sepertinya butuh waktu berdua dengan putrinya saat ini.


tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan dari Lily. reflek Adit yang di kela langsung berlari keluar kelas dan melihat Lily yang di kerubuti oleh semua murid.


"minggir!" usir Adit menggeser semua temannya.


"mas Adit..." tangis Lily.


melihat adiknya yang menangis, "kamu kenapa dek?" tanya Adit yang melihat tubuh Lily, ternyata tok gadis itu kotor.


Adit pun langsung membersihkannya, sedang dia tak melihat sosok anand, "kamu kenapa Lily?"


"sakit mas..." jawab gadis itu.


"maaf ya dek, mas lihat sebentar," kata Adit yang melihat lutut gadis itu.


ternyata lutut Lily terluka, "siapa yang mendorong Lily?"

__ADS_1


"dia jatuh sendiri, karena lari dari gudang," kata salah seorang siswi.


"kita ke ruang ibu guru ya, biar di obati," kata Adit yang membantu adiknya itu.


meski usia mereka hampir sepantar, tapi rasa tanggung jawab Adit sangat besar.


mereka sampai di ruang guru, sedang Anand yang baru membeli pensil pun bingung karena tak mendapati Lily.


"loh Lily kemana? kalian lihat Lily?" tanya Anand.


"dia di bawa Adit ke ruang guru, dia jatuh," jawab salah seorang murid wanita.


mendengar itu anand langsung menuju ke ruang guru, ternyata kepala sekolah sudah mengobati kaki gadis itu.


"aku menyuruhmu tunggu di taman, aku cuma pergi sebentar untuk beli pensil," kata Anand pada Lily.


"seharusnya kamu mengajaknya," saut Adit.


"ya maaf, tadi dia bilang gak mau antri jadi aku menyuruhnya untuk duduk dan menunggu," jawab Anand.


"tapi anak-anak yang menyukai mu mendorongku, padahal aku gak ngapa-ngapain," nata Lily.


"tapi kata Aliya kamu jatuh karena lari dari gudang," kata Adit melihat gadis itu.


"tidak, memang kenapa aku ke gudang, dia mendorongku karena dia ingin berteman dengan Anand, tapi anand menolaknya karena mau menemaniku," jawab Lily.


"biar aku yang balas, di tak boleh melukai adikku, dia lupa jika ada aku!" kata Adit tak terima melihat perlakuan teman-teman mereka.


"jangan mas, nanti aku makin di benci mereka mas," mohon Lily


sedang ibu yang melihat ketiganya pun merasa begitu senang karena ketiganya begitu kompak.


"aduh kalian ini so sweet ya, begitu menjaga Lily, ibu senang melihat kalian seperti ini, tapi ya untuk kalian ini seharusnya juga tetap mencari teman, jangan cuma main bertiga saja, sepertinya yang lain juga ingin bermain dengan kalian," kata guru wanita itu.


"maaf kami tak bisa berteman dengan gadis yang bersikap kejam pada Lily," jawab Adit tegas.

__ADS_1


"aku juga sama, aku tak bisa berteman dengan gadis yang jahat pada saudari ku," saut Anand tak suka.


__ADS_2