Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
ngrapal mantra kuno


__ADS_3

Arkan pun berhasil mengeluarkan jasad pria itu yang sudah setengah hancur.


tuan Alan mengamankan pengemudi dari amukan warga, pasalnya dia melihat jika mereka jika ketakutan dan terluka.


polisi datang dan langsung melakukan olah TKP, dan juga meminta kesaksian dari Arkan dan tuan Alan.


pengemudi ternyata masih di bawah umur, dan lagi dia membawa dua adiknya yang masih kecil.


jasad pria itu sudah di bawa ke rumah sakit, Lily dan Adit sedang bermain putri malu, saat jasad penuh darah mendekat kearah mereka berdua.


pria itu langsung terlempar jauh karena Arkan melemparkannya, "kalian sedang apa?"


"sedang main putri malu, lihat papi... mereka semua nutup saat aku menyentuhnya, kata mas Adit itulah kenapa tumbuhan ini di sebut putri malu,"terang Lily polos.


"itu benar, sekarang kita pulang ya, karena papi harus ke kantor polisi nanti," ajak arkan yang di angguki oleh kedua anaknya.


mereka pun pulang seperti biasa, ternyata sudah mbak Utami di depan rumah.


"Tante Utami, mau sosis!!" teriak Lily.


"tidak boleh, kemarin kamu sudah mencret karena kebanyakan makan sosis di sekolah, lebih baik beli kue putri mandi," kata Adit menahan adiknya itu.


"aduh aduh... kakak ganteng ini perhatian sekali sama adiknya, manis banget sih..."kata mbak Utami.


"aku gak di puji juga nih, padahal jarang loh ada menantu dan mertua akrab gini," kata Tian Alan.


"tidak usah, tidak minat," saut mbak Utami ketus.


Adit mengambilkan kue itu untuk adiknya, bahkan Adit memastikan adiknya itu makan dengan rapi.


Arkan juga mengambil tahu isi yang terlihat masih panas, "jualan siapa ini, kok tumben masih fanas..." kata arkan yang memakan gorengan itu.


"titipan dari tetangga, baru juga di anter," jawab mbak Utami.


"huh... enak mbak," jawab arkan.


dia pun mengambil gorengan itu, Adit mengambil ote-ote dan memakannya dengan sambel petis.


"iya papi, gorengannya enak," jawab bocah itu.


"Lily minta itu juga," kata gadis itu.


"Lily, ingat kalau Lily terus makan dan kekenyangan Lily pasti muntah, jadi..." kata Tasya mengingatkan putrinya itu.


"iya mami Lily tau, jadi Lily gak kenyang-kenyang kan ada mas Adit yang bantu makan," kata gadis kecil itu.


Tasya hanya mengeleng pelan, ternyata adit benar-benar membagi apa yang di makan Lily.


akhirnya malah dia yang kenyang, "mas menyerah, perut mas penuh,mas mau mandi dulu gerah," kata bocah itu.


"ya Lily juga, mas Adit..." panggil Lily.


keduanya pun menuju ke area kamar miliknya, setelah mandi ternyata Arkan dan tuan Alan sudah pergi.


Tasya sedang sarapan sayur daun katuk, "kalian mau sarapan?"

__ADS_1


"tidak perlu mami, kami sudah kenyang terbelih dari tadi terus makan semua jenis cemilan," saut Adit.


"tapi-"


"Lily juga kenyang, iya kan dek," kata Adit tersenyum.


"iya mas, sekarang kita kerjakan PR saja ya," kata Lily yang takut melihat senyuman Adit yang aneh.


pasalnya jika Adit tersenyum seperti itu, berarti dia sedang tak ingin di bantah.


meski tersenyum lebar, tapi mata Afit menunjukkan ketidaksukaannya.


itu berarti semua harus menurut dan dia tak ingin mengulangi semua ucapannya.


Lily pun mengambil buku gambarnya, dia harus membuat gambar dari huruf A sedang Adit dapat angka tiga.


Adit pun memberikan beberapa contoh hewan yang bisa di gambar dengan huruf A.


Lily pun mengangguk dan mulai membuat seekor kelinci, yang berwarna pink.


sedang Adit membuat empat hewan dalam satu buku gambar, karena baginya itu mudah.


sesampainya di kantor polisi, mereka berdua memberikan semua kesaksian yang mereka ketahui.


terlihat dua orang tua dari ketiganya sudah datang, pak Helmi langsung menampar putranya Ayus.


pasalnya bocah itu tak becus menjaga adiknya, hingga membuat seorang pria meninggal dunia.


tapi nyatanya itu adalah perbuatan dari jin pesugihan dari pak Helmi yang mulai mencari tumbal.


melihat pemuda itu, Arkan langsung membacakan sebuah doa, dan mengusap kepala pemuda itu.


"tolong jaga sholat mu, dan terus ingat Allah ya le, insyaallah semua akan baik-baik saja," kata Arkan.


"iya mas," jawab pemuda tanggung itu.


pak Helmi tak suka dengn ucapan yang di katakan oleh arkan, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


mereka berdua di izinkan pulang, mereka melewati jalan desa yang di kutuk oleh Arkan.


terlihat semua warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa, tak ada yang terlihat kesakitan lagi.


Arkan hanya tersenyum sekilas, "wah.... Faraz benar-benar membantu mereka, tapi dia lupa jika ada malam-malam tertentu yang akan membuat mereka memilih mati di banding hidup," lirihnya.


ya Faraz tak tau itu karena hanya Arkan dan Raka yang tau, Raka hanya memberikan sebagian cerita pada Faraz.


Lily sedang bermain di samping rumah bersama dengan Adit, keduanya sedang main gobak sodor.


meski hanya berdua, tapi Lily terlihat begitu senang, "aduh kalian berdua kok mesin di panas, panasan sih, nanti hitam loh," tegur tuan Alan.


"Kami gak papa kok masih hitam, kan orang Indonesia, jadi itu lebih natural dan eksotis tau," jawab Lily dengan nada centilnya.


"iya opa, sebentar lagi kami masuk, aku juga tak mau demam karena kelamaan main panas kok," jawab Adit.


"cucu yang baik dan pintar, Lily turuti kakak mu oke,"

__ADS_1


"siap opa!!!" jawab Lily.


Faraz sedang di rumah orang tuanya, mereka akan ke rumah ustadz Arifin.


mereka sengaja tak membawa banyak orang karena tak ingin membuat kehebohan dengan lamaran ini.


terlebih ustadz Arifin juga tak ingin lamaran putrinya itu menjadi terlalu mewah.


acara lamaran di awali dengan acara pengajian dan santunan anak yatim.


kemudian Wulan yang memakaikan sebuah cincin emas dan kalung emas pada Anna.


akhirnya lamaran sederhana itu terlaksana, Raka dan ustadz Arifin langsung berpelukan dengan erat.


"Alhamdulillah... akhirnya kita jadi berbesan juga," jawab Keduanya.


"iya Alhamdulillah,"


mereka pun melanjutkan dengn acara makan-makan bersama santri satu pondok.


sedang di rumah juragan Aris, Niken dan ayu baru selesai berbelanja untuk pakaiannya untuk mengajar nantinya.


karena dia di haruskan memakai baju formal dan sopan, di utamakan batik.


itulah kenapa hari ini mereka berdua berbelanja, tak hanya untuk Niken tapi untuk kedua putranya juga.


"mbak, nanti ikut bunda dan ayah ke pondok yuk, jenguk si kembar," ajak Ayu pada Niken.


"gak ah Bun, Ayu mau di rumah saja untuk membaca buku agar bisa jadi guru yang baik untuk anak-anak didik ku," jawab Niken.


"yakin, bukan untuk mengintip jejaka depan rumah yang sering bertelanjang dada itu,"goda Ayu.


"ih bunda, kalau ngomong suka bener, anggap saja untuk refreshing mata dong," jawab Niken malu.


"kalau suka tinggal bilang, apa susahnya, dan lagi tak salah selama belum ada janur kuning melengkung," kata Ayu memberikan semangat.


"begitu ya, kalau begitu biar aku usaha ya, oh ya bunda punya kwetiau? aku mau membuatkan dia makanan," Tanya ayu


"aduh semangatnya, sayangnya bunda gak punya, besok beli ya, kalau begitu bunda mau ke gudang bantu ayah, kamu baik-baik di rumah ya," kata ayu


Niken mengangguk, dia pun ke balkon dan melihat ke arah rumah dari Faraz yang nampak sepi.


"hei Kemana pria itu, biasanya kalau Minggu dia di rumah sambil memandikan burung peliharaannya, tapi dia sekarang tak ada, dan mobilnya juga," gumam Niken yang terus melihat ke rumah itu.


tapi dia tersentak kaget saat sekelebat ada bayangan seorang wanita cantik yang tak mengenakan apapun melihatnya.


bahkan wanita itu tersenyum mengerikan kearah Niken, karena takut Niken buru-buru masuk dan menutup gorden kamarnya.


"kamu menakutinya?" tanya Ki Sena.


"diamlah burung busuk, kamu juga tau jika aku bisa keluar saat dia tak ada di rumah," jawab siluman ular wanita itu.


"dasar Nyai Tirtayasa, kamu tak berani menunjukkan dirimu, tapi hanya bisa menggoda Faraz dalam mimpinya," ledek Ki Sena.


"sudah diam burung busuk, atau aku akan memakan mu, meski begitu pria itu punya iman yang kuat," kata siluman ular itu.

__ADS_1


__ADS_2