
setelah acara lamaran, Faraz pun pulang ke rumah yang dia tempati untuk sekarang, terlebih rumah yang dia bangun juga belum selesai.
tapi saat turun dari mobil dia bisa merasakan ada hawa makhluk lain di rumah itu.
tapi Faraz tak ambil pusing, saat dia masuk kedalam rumah, burung kesayangannya itu sedang tidur.
Faraz pun berganti baju dan mulai membuka tirai kamar miliknya, dan dia mengambil jus jeruk kesukaannya.
"tumben malam ini sepi, untung tadi Amma bawain makanan, rumah bagus cuma males masak," gumamnya yang melihat kue di atas meja.
dia langsung memutuskan untuk tidur karena lelah, terlebih sudah dua harian ini dia terus begadang.
sedang di rumah Arkan, dia dan tuan Alan sangat sibuk dari sore, pasalnya perusahaan milik pria itu sedang berada dalam masalah.
tuan Alan harus segera kembali ke Singapura bersama dengan Arkan untuk membantunya membereskan segalanya.
"tapi ini gimana Daddy, aku tak akan bisa tenang saat meninggalkan istri dan anak-anak ku meski hanya seminggu," terang Arkan.
"tidak masalah, minta bantuan Utami, dan minta bantuan Faraz dan Aryan untuk sesekali menjengguk mereka, ini juga penting Arkan, jika kita karena Daddy juga tak bisa membiarkan perusahaan yang Daddy bangun dari nol tersungkur seperti ini," kata tuan Alan.
"pergi papi, aku dan anak-anak akan baik-baik di sini," jawab Tasya meyakinkan suaminya itu.
akhirnya Arkan pun mengiyakan untuk berangkat lusa dan semua juga sudah bisa di atur oleh tuan Alan, terlebih tiket dan visa perjalanan juga sudah ada.
Tasya pun membantu suaminya bersiap, toh ini hanya seminggu saja, dan jika mereka selesai lebih awal.
mereka juga akan segera pulang, Tasya menghubungi mbak Utami untuk meminta wanita itu agar mau menemani dirinya.
ternyata mbak Utami dengan senang hati mengiyakan permintaan dari Tasya, terlebih dia bisa bermain dengan ketiga anak Tasya.
"papi ... mbak Utami sudah mau menemani ku selama papi pergi, dan tolong tenang karena aku juga bisa meminta ayah mertua untuk melihatku sesekali," kata Tasya.
"iya sayang, aku juga percaya jika kamu pasti bisa menjaga anak-anak dengan baik, aku percaya itu, aku juga meminta Faraz dan Aryan untuk melihat kesini sesering mungkin," jawab arkan.
akhirnya mereka pun tidur, keesokan harinya tuan Alan yang mengantar kedua cucunya itu ke sekolah.
pria itu tak lupa membelikan Snack kesukaan dari kedua cucunya, tak hanya itu Lily dan Adit juga sudah tau tentang kepergian dari papi dan opa keduanya.
awalnya Lily ingin ikut, tapi Afit berhasil membujuk bocah perempuan itu.
di sekolah para arwah tak berani mendekati Lily sedikit pun, terlebih selama Adit bersama gadis kecil itu.
Lily yang biasanya melihat penampakan, tapi kali ini dia tak melihat mereka berkeliaran.
__ADS_1
"kamu mencari sesuatu Lily?"
"tidak mas, ayo ke kelas," jawab Lily dengan senyum merekah.
"tunggu dulu," kata Adit menahan tangan Lily, "ada apa mas?".
Adit berjongkok di depan Lily dan mulai mengikat tali sepatu milik Lily yang lepas, "dasar ceroboh, kamu bisa terluka jika jatuh karena tali sepatu ini,"
"terima kasih mas," jawab Lily.
keduanya pun masuk kedalam kelas, Anand membagi kue yang dia bawa, begitupun dengan Adit.
pagi itu Wulan datang setelah mengantar kedua putrinya dan Anand berangkat ke sekolah.
"assalamualaikum..." salam Wulan.
"waalaikum salam, wah masih pagi tapi Amma sudah ada di sini?" kata Tasya mencium tangan wanita itu.
"mau ketemu baby Linga, apa dia tidur?" tanya Wulan dengan lembut pada menantunya.
"ada bersama papinya, sepertinya tadi mereka sedang main, padahal baby Linga belum satu bulan," kata Tasya.
"tapi Selapan baby Linga bukannya sebentar lagi ya nak?"
"tenang raya, ayah pasti mau, terlebih sekarang dia tak sesibuk dulu," jawab Wulan pada menantunya itu.
diapun masuk kedalam rumah, ternyata benar Arkan sedang bermain dengan bayi itu.
"assalamualaikum...."
"waalaikum salam... Amma berkunjung, lihat nak siapa yang datang Amma, wih ... sepertinya Amma bawa makanan nih," kata Arkan.
"aduh kamu tau saja, ini itu cuma kue dan ayam panggang kok, anggap saja ganti yang kemarin gak ikut acara," kata Wulan
"habis Amma sama Faraz mainnya dadakan saja, tapi bagus deh, setidaknya pria itu akan segera menikah," kata Arkan yang memberikan putranya.
"iya, Amma juga inginnya seperti itu, terlebih dia sudah terlalu lama sendiri," jawab Wulan.
sedang Faraz tadi saat akan pergi dari rumah, dia sempat mampir ke rumah juragan Aris.
dia tadi setelah subuh di minta oleh Wulan untuk mengambil bingkisan untuk keluarga itu.
"assalamualaikum... Tante ayu," salam Faraz.
__ADS_1
"waalaikum salam, ada apa nak?"
"ini ada bingkisan dari Amma Tante, maaf baru bisa memberikannya sekarang, karena acaranya semalam dadakan," kata Faraz tersenyum malu.
"wah ada acara apa ini? kok sepertinya spesial sekali," kata ayu yang penasaran.
terlebih melihat pria itu terus mengumbar senyum. Niken turun dari lantai atas.
"loh mas Faraz di sini, ada apa?"
"hanya mengantarkan bungkusan, karena selesai acara," jawab Ayu
"iya Tante, karena bulan depan acara yang sesungguhnya, tolong doakan semuanya lancar ya Tan," kata Faraz.
"baiklah, tapi acara apa dulu, kamu dari tadi muter-muter doang," kata ayu penasaran.
"Alhamdulillah, bukan depan saya akan menikah dengan gadis yang sudah saya cintai dari lama, jadi mohon doanya," kata Faraz.
"iya nak, semoga acaranya berjalan lancar ya," kata ayu yang sebenarnya kaget, tapi dia harus bersikap biasa.
sedang tidak dengan Niken, gadis itu tak bisa menyembunyikan mimik wajahnya yang tak suka.
"baiklah Tante, jika begitu saya berangkat ngajar dulu, assalamualaikum...." pamit Faraz.
"waalaikum salam," jawab Ayu.
Niken pun merasa marah, tapi dia harus tenang karena dia juga harus mengajar.
gadis itu langsung pergi dengan motornya, dia menuju ke sekolahnya.
tak hanya itu, Niken merasa perasaannya kini sudah luluh lantak lagi, dulu Arkan sekarang Faraz.
kenapa dua saudara itu begitu jahat menurutnya. tapi dia tak boleh sedih mungkin dia memang kurang baik bagi keduanya.
terlebih setelah kejadian dimana dia menjadi istri makhluk ghaib yang pernah di bicarakan orang-orang kampung.
dia pun sampai di sekolah dan melihat Aryan, tapi Niken langsung menuju ke ruang guru dan bersiap mengajar.
Aryan yang memang tak mengerti pun merasa aneh dengan sikap wanita itu yang tiba-tiba dingin.
padahal biasanya Niken begitu hangat pada semua orang. terutama terus tersenyum saat melihatnya.
"gadis aneh..."
__ADS_1