
"sudah mulai kucing sama tikusnya, sudah selesai sudah..." kata Faraz yang fokus dengan sarapannya.
"kamu gak mau juga Faraz, coba rasakan deh sarapan ikan rokok," kata Adi.
"coba abang dulu baru nyuruh kami, makin tua bukan makin insaf malah makin gila," kata Faraz kesal.
"aduh mulut kalian makin tajam ya," kata Adi yang masih tersenyum.
tak terduga seorang gadis kecil datang dengan kera putih di tangannya.
dan melihat Adi yang sedang berdiri di depan para pria itu, Lily langsung memukul paha bagian luar dari Adi dan pembuat pria itu jatuh kesakitan.
"kakek minggir jangan menghalangiku," kata gadis kecil itu.
mendengar ucapan Lily membuat Arkan dan Faraz tertawa, "papi... ayah besar," panggil Lily yang langsung memeluk Faraz.
"ya Tuhan Lily, sebenarnya papi mu atau ayah besar mu sih yang utama," kata arkan merasa cemburu.
"kenapa sih Pi, maaf ya bang Adi, Lily memang suka melakukan hal-hal seperti ini," kata Tasya yang membawa bekal untuk kedua pria itu.
"iya Tasya, aku hanya tak mengira jika gadis kecil ini begitu kejam seperti ini ternyata, nurun siapa sih Lily," kata Adi heran.
"yang pasti orang tuanya, kenapa malah tanya?" kata Arkan.
"ku kira belum sarapan, tapi tak apa-apa ini ada cemilan dan nasi Padang, tapi tenang bisa di makan nanti karena lauknya di pisah," kata Tasya.
"gak papa adik ipar, taruh di mobil saja, karena sebentar lagi kami akan melakukan pembersihan," jawab Faraz.
"kong-kong bisa bantu," tanya Lily menunjukkan kera putih miliknya.
"itu hidup nak?" tanya pria yang menjadi basecamp ketiganya.
"iya pak, itu jera asli kok," jawab Faraz.
"ya Allah, adiknya pemberani ya, saya kira mainan," kata pria itu.
Tasya merasakan sesuatu yang begitu kuat menekan dadanya, perasaan sakit dan sedih yang begitu mendalam.
dia pun menangis dan berlari ke arah rumah yang sedang di bersihkan dan di bereskan oleh tim kepolisian itu.
"sayang!!" teriak Arkan yang ikut lari mengejar istrinya.
"mami..." teriak Lily.
Adi yang melihat sosok Tasya menahan wanita itu, karena tim mengatakan jika di bawah sana tiba-tiba berubah menjadi cairan dan baunya sangat menyengat.
__ADS_1
"berhenti Tasya, kamu tak bisa kesana karena di sana full dengan bangkai," tahan Adi.
"tidak aku ingin pergi, aku merasakan sesuatu yang begitu kuat, aku mohon!!" berontak Tasya
tapi Arkan langsung membisikkan alfatihah dan membuat istrinya itu sadar, dia pun segera mengambil Tasya dari tangan Adi.
"terima kasih bang," kata Arkan.
tapi memang aura di tempat itu begitu gelap, setelah sampai di rumah yang menjagi batas aman.
Akan meminta Lily dan Tasya menunggu di sana, dan mereka kembali masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
Arkan dan Faraz masuk kedalam rumah yang ternyata kondisinya jauh lebih buruk, sudah ada beberapa pihak kepolisian yang tengah mengeledah rumah itu.
"apa ada masalah pak?" tanya Arkan.
"iya mas, ada satu kamar yang tak bisa terbuka meski kami sudah merusak bahkan mendobrak pintu itu," jawab polisi itu.
baiklah biar kami lihat," kata Faraz.
saat keduanya berjalan beberapa langkah, Arkan berbalik dan langsung menendang polisi itu dengan keras."kau kira kami buta tak bisa melihat mu," marah pria itu.
''hahaha... ternyata kalian sadar ternyata, aku katakan pada kalian jika semua akan ikut terkubur bersama rumah ini," kata ganti wanita itu.
"brengsek," marah Faraz yang langsung menerjang keluar.
"mami..." lirih Lily yang mulai menangis sambil menunjuk rumah itu.
"tidak boleh, minta semua orang keluar dari rumah, sekarang... jangan ada di pekarangan rumah itu!!!" teriak Tasya mengingatkan.
"ada apa Tasya, mereka sedang melakukan tugasnya," kata Adi.
"jika tak ingin ada korban, minta mereka mundur sekarang, Kong," panggil Tasya.
kera putih itu melepaskan tangan Lily dan langsung menuju ke rumah mewah itu.
Tasya pun hanya bisa berdzikir untuk memohon bantuan dari yang memberi hidup.
Arkan dan Faraz masih bertarung di dalam rumah. kong datang dan langsung menarik arwah itu dari tubuh polisi pria itu.
Arkan langsung melemparkan bungkusan khusus yang di bawakan Tasya tadi dan mahluk itu pun lenyap.
rumah mulai Retak-retak, "kita keluar," panik Faraz yang membantu polisi itu.
"kalian semua pergi," tarian Tasya.
__ADS_1
"mundur dari sana!!!" teriak dari adi yang melihat rumah itu retak.
akhirnya rumah pun ambles ke dalam, karena pondasi jiwa yang di jadikan tiang penjaga sudah hancur.
Arkan dan Faraz melompat ke udara sambil membawa seorang polisi pria.
semua orang tercengang, tapi yang sebenarnya Kong datang membawa mereka bertiga keluar.
Lily pun mengulurkan tangannya pada siluman kera itu yang berubah menjadi kecil lagi.
"kong..." panggil Lily dengan bahagia.
sedang Tasya kesal langsung menjewer kedua telinga pria itu,"sudah tau bahaya kenapa malah masuk, kalian bukan kucing yang punya lapisan nyawa," kesal Tasya.
"maaf maaf..." kata keduanya
semua masih kaget dengan apa yang terjadi, terlebih rumah yang terlihat kokoh itu amblas dalam hitungan menit.
tapi beruntung tak ada orang yang terluka, dan menjadi korban dari musibah itu.
akhirnya di putuskan menjadikan itu sebagai pemakaman untuk semua korban.
Arkan juga menjelaskan tentang tiga jenazah wanita yang di temukan di sana, dan untuk tulang belulang gadis kecil, Arkan menyerahkan semua kepada polisi karena dia tak dapat melihat apapun.
siang itu mereka pun memutuskan pulang, Nino membawa mobil Faraz karena kedua pria itu memilih tidur di mobil yang Tasya kemudikan.
Nino bersama Lily yang sedang tersenyum melihat jalanan kota, "om om ada es krim belinya," kata gadis kecil itu.
"baiklah, tinggi dulu om cari tempat parkir bentar," kata Nino
Nino memesan bakso yang terkenal di kota, dan di bungkus, tapi Lily terus merengek dan menariknya.
jadi mereka meninggalkan bakso itu untuk membeli es krim terlebih dahulu.
Lily pun memilih eskrim yang berukuran cukup besar, Nino tak marah atau kesal karena baginya Lily sudah seperti putri kecilnya juga.
"yey es krim, kong-kong mau makan juga," tanya Lily pada kera yang terus bergelayut di tangannya.
mereka berdua pun menunggu bakso, Nino terus di suapi es krim oleh Lily.
pria itu tak keberatan, tapi Lily tiba-tiba diam, Nino pun melihat apa yang di lihat gadis itu.
ternyata ada seorang ibu sedang menyuruh seorang bocah untuk mengamen di lampu merah.
"Lily kenapa nak?" tanya Nino.
__ADS_1
"itu temen Lily, dia sudah seminggu ini tak sekolah om, dan kata ibu guru saat datang ke rumahnya dia tak ada di rumah, hanya ada neneknya," jawab Lily