
Arkan, Faraz dan ustadz Yunus sedang berdiri berjajar di hutan itu, hingga ada seekor kucing hitam yang mengeong.
Arkan melihatnya, "kita ikuti kucing itu," kata arkan.
tapi baru juga berjalan beberapa langkah, sebuah balok kayu besar menerjang kearah mereka.
Arkan mendorong ustadz Yunus menjauh agar tak terkena, sedang dia dan Faraz jatuh pada tempat yang sama.
Arkan melemparkan golok miliknya yang langsung menghancurkan balok kayu itu.
"sialan, ternyata tempat ini sudah penuh dengan jebakan, kamu ingin bermain genderuwo bucin, aku temani, aku akan menunjukkan sisi buruk diriku," kata Arkan tertawa.
mata Arkan berubah keemasan satu sisi, Faraz sudah mengerti jika saat ini ada sisi gelap aekan yang muncul.
dia langsung berlari tanpa bisa di bendung, seperti orang gila, dia tertawa pada setiap jebakan yang mencoba membunuhnya.
tapi jebakan itu meleset dan makin membuat arkan berteriak kesenangan.
Faraz dan ustadz Yunus pun mengejarnya, dan pria itu sampai di sebuah gubuk yang terlihat bias saja.
"hei bocah prik, kembali pada dirimu, atau aku akan membunuh sosok ini," ancam Faraz.
Arkan pun menutup matanya dan akhirnya kembali ke sosoknya yang biasa.
"dia di dalam, genderuwo itu dan juga Niken, tapi aku yakin jika dia tak ingin menyerahkan wanita itu, karena mereka terlanjur terikat dengan hubungan suami istri bahkan sudah memiliki anak," kata Arkan.
"terus bagaimana kita menolongnya, jika terus seperti ini, dia bisa gila," kata ustadz Yunus.
"itu urusan anda, saya hanya mengantar sampai di sini, karena urusan ku hanya dengan genderuwo itu saja," jawab Arkan yang memang tak ingin berurusan dengan Niken sedikitpun.
sebuah busur api melesat datang dan membakar gubuk itu dengan suara dentuman keras, "kenapa diam, cepat masuk dan bawa dia keluar," kata arkan.
Azam keluar dengan sosoknya yang tinggi besar, dengan mata nyalang merah penuh amarah, dia murka melihat ada sosok arkan tengah tersenyum kearahnya.
"dasar manusia terkutuk, kenapa kamu terus menganggu kesenangan ku dan istriku," marah makhluk itu.
"mengganggu, kamu yang tak sadar diri, kenapa kamu terus melawan kodrat mu, dia bukan bangsamu, jadi tak seharusnya dia berada disini, seharusnya dia bersama dengan orang tuanya," bentak arkan pada makhluk itu.
Faraz dan ustadz Yunus sudah di dalam gubuk, mereka kaget melihat kondisi dari Niken yang tak mengenakan sehelai benang pun.
Faraz melihat sebuah kain jarik tergletak di sana dan langsung menaikannya pada wanita itu.
__ADS_1
kemudian Faraz keluar mengendong Niken, sedang ustadz Yunus mengambil sesuatu yang mungkin bisa berguna.
dia membunuh dua ayam cemani yang ada di salam kandang itu, dan darahnya di teteskan pada kepala dari Niken.
tiba-tiba genderuwo itu mengerang kesakitan, serta makin marah, tapi Arkan tak membiarkan makhluk itu berulah, dia langsung menghadang makhluk itu.
"eits.... mau apa, kalian sudah terpisahkan bukan, dua ayam itu tanda ikatan kalian, sekarang sudah mati dan darah itu sebagai tanda perpisahan," kata Arkan.
"manusia sialan, aku akan membunuhmu," kata genderuwo itu menyerang Arkan.
tapi sebuah anak panah langsung melukai sosok tinggi besar itu dan berubah menjadi rantai yang mengikat mahluk itu.
"kamu akan tersegel di sini, ingat kamu tidak akan bisa mendekatinya lagi, karena kami dan Niken sudah tak memiliki hubungan sedikitpun," kata Arkan yang pergi.
"sialan, aku tak mau terkurung di sini," kata mahluk itu.
keluarga Broto datang terlambat, Semuanya sudah terjadi, Azam sudah terikat rantai.
sosok wanita yang memberitahu mereka juga ikut melihat, "sepertinya pria itu sudah mengetahui segalanya, jadi kalian harus mencari cara bagaimana bisa melepaskan putra kalian," kata gadis itu.
"tapi bagaimana, ini adalah rantai ghaib yang keluarga Rakasa miliki," kata pak Broto.
"ada satu cara, buat keturunan mereka menyentuh dan membuka rantai itu dengan kemauannya sendiri," jawab wanita itu menyeringai.
Faraz menaruh tubuh Niken di pondok pesantren, dan ustadz Arifin sudah memerintahkan putrinya dan istrinya melihat kondisi Niken.
mereka kaget melihat sosok Niken yang berlumuran darah tergletak di ranjang dengan di bungkus kain jarik saja.
"Abi, mbak Niken begitu kotor penuh darah, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Anna.
"mandikan dia, itu hanya darah hewan, dan pastikan tak ada yang tau masalah ini," kata ustadz arifin .
Faraz kembali ke tubuhnya, begitupun ustadz Yunus, dan terakhir adalah Arkan.
setelah mereka bangun,mereka mengikatkan benang penghubung ketiganya tadi pada batang pohon besar itu.
sekali ayunan dari busur pasopati pohon itu tumbang dengan mudah bahkan sampai ke akarnya.
setelah itu, mereka semua melanjutkan untuk membaca Yasin dan tahlil untuk mendoakan semua nyawa yang sudah meninggal dunia.
bahkan tak lupa mengirimkan alfatihah juga untuk para sesepuh desa.
__ADS_1
Arkan dan Faraz mengambil beberapa bambu kuning dan mulai menancapkan di bekas ajar yang tercabut itu.
itu agar pohon itu tak kembali berdiri saat mereka tinggalkan nantinya.
semua sudah berakhir mereka pun memutuskan untuk pulang, tapi Arkan sempat menyemprotkan air garam pada kendaraan mereka.
takutnya ada makhluk yang usil pada kendaraan mereka, setelah itu mereka pulang dengan santai.
sesampainya di rumah, mereka memutuskan lewat belakang dan langsung mandi bergiliran.
baju mereka sudah di siapkan oleh Wulan, setelah Anastasya, kini giliran arkan.
sedang Faraz masih duduk di belakang rumah sambil menikmati rokok miliknya.
"bang Faraz tumben merokok," tanya Anastasya.
"ah... ini hanya sedang ingin saja, sama halnya seperti suamimu, Jami merokok saat malam seperti ini, atau saat kami di luar tanpa anak-anak," jawab faraz.
"owh begitu, emang selama ini rasanya melakukan hal tadi itu sangat lelah ya, rasanya tubuhku seakan patah semua tulangnya," kata Anastasya berkata jujur
"kamu baru pertama, mungkin kalau perlahan, dan lama kelamaan pasti akan terbiasa," jawab Faraz.
"begitu ya, tapi sepertinya kalian sangat enjoy, tapi kenapa tak mengajak mas Aryan?" tanya Anastasya.
"karena dia khusus untuk melakukan ruqyah, dia sangat kuat dalam ilmu tenaga dalam," saut arkan yang baru saja selesai mandi.
"sudah giliran mu mandi, sana cepat mandi," kata Arkan.
"siap bos, panasin makanan dong, lapar nih," perintah Faraz
"baiklah, susah pergi mandi sana," kata arkan.
Anastasya langsung memanaskan makanan, dia juga membuat bumbu pecel yang tinggal mencampurkan dengan air.
tak lupa dia juga mendinginkan nasi dari rice cooker, dan menyiapkan segalanya.
Faraz keluar dan melihat Anastasya yang sibuk, "Nana suamimu dek?" tanya Faraz.
"itu sedang sibuk dengan ponselnya, katanya ada email dari restoran yang tadi belum sempat di baca," kata Anastasya.
"terima kasih ya," kata Faraz.
__ADS_1
Anastasya mengangguk dan kemudian memanggil suaminya untuk makan juga.