
Lily hari ini terus menempel pada Arkan, bahkan gadis kecil itu tak ingin sekolah, Anastasya tak menyerah untuk bisa membujuknya lagi.
"sayang ayo sekolah yuk, itu adek Anand susah mau berangkat itu," kata Anastasya yang menarik Lily tapi gadis itu tak bisa terlepas.
"gak mau mami, Lily ingin terus bareng papi..." tangis Lily yang terus memeluk kaki Arkan.
Anastasya pun langsung mengendong Lily, meski berontak Anastasya tetap mengendongnya.
Anastasya memeluk putrinya itu dengan erat, "sekolah ya sayang, jika Lily seperti ini nanti mami sedih, padahal mami ingin sekali mengantar Lily pergi sekolah,"
"tapi Lily mau bersama papi," jawab Lily.
mendengar itu air mata Anastasya pun jatuh,"Lily tak suka dengan mami ya, padahal mami ingin melihat sekolah Lily, seperti orang tua lain yang mengantarkan anaknya," tangis Anastasya di depan putrinya.
melihat sang mami yang menangis, Lily pun memeluk Anastasya. "maaf mami... jika Lily nakal," Anastasya mengeleng pelan.
akhirnya Lily pun mau berangkat sekolah setelah bujukan itu berhasil, tapi tetap saja Lily ingin di antar oleh kedua orang tuanya.
Arkan dan Anastasya mengantarkan Lily sampai di sekolah, tiba-tiba Anastasya merasa kepalanya pusing.
darah mengalir dari hidung wanita itu, "sayang kamu mimisan," panik Arkan melihat istrinya.
"tidak apa-apa, sekarang kita ke restoran saja, sebentar lagi juga sembuh," jawab Anastasya.
"jangan dableg, kita ke klinik, ingat kamu belum sembuh sepenuhnya," kata Arkan.
Anastasya pun menurut dan langsung naik ke atas motor, dan menuju ke klinik terdekat.
ternyata Anastasya hanya banyak pikiran, dan kelelahan, Arkan pun menatap wajah istrinya itu.
"kenapa, aku baik-baik saja," jawab Anastasya memalingkan wajahnya.
"kita pulang, kita batalkan ke restoran," kata Arkan.
"kenapa, kamu malu membawa istri cacat seperti ku, padahal kamu sudah janji," kata Anastasya.
Arkan pun tidak bisa bicara apa-apa lagi, dia kini tau sikap keras kepala Lily dari siapa.
"tapi kamu sedang sakit," kata Arkan.
"terserah padamu," jawab Anastasya yang terlanjur kesal sendiri.
bahkan dia langsung keluar dan menaiki ojek, "Anastasya!!" panggil Arkan.
tapi wanita itu berlalu pergi begitu saja, bahkan tak sedikitpun menoleh kearahnya.
"ke rumah juragan Raka," kata Anastasya pada tukang ojek itu.
__ADS_1
Arkan pun menendang tempat sampah yang terbuat dari aluminium itu hingga penyok, bahkan semua orang di rumah sakit pun kaget.
"maaf..." kata Arkan yang masih terlihat marah.
dia pun membayar semua biaya ganti rugi dan mengikuti istrinya pulang.
Anastasya memberikan uang pada tukang ojek, "kembaliannya ambil pak," langsung pergi Madik kedalam rumah.
"terima kasih mbak," kata tukang ojek itu.
Wulan kaget saat melihat Anastasya yang pergi bersama Arkan pulang, itupun dengan menangis.
dia pun mengunci dirinya di kamar Lily, Arkan juga sampai di rumahnya, dia tak mendapati istrinya di kamar.
tapi saat dia di kamar Lily, pintu kamar terkunci, Arkan mulai menggedor pintu.
"sayang ayo buka, aku mohon..." kata Arkan.
Anastasya tak menjawab dan hanya sedang menangis saja di kamar, Wulan pun menepuk pundak Arkan.
"kalian kenapa lagi, tadi pagi Lily, sekarang Anastasya, sebenarnya kamu ini kenapa Arkan?" tanya Wulan heran melihat putranya itu.
"aku juga tak tau Amma, dia marah karena aku mengajaknya pulang karena tadi dia mimisan, aku juga bingung di buatnya," kata Arkan.
"nak... buka pintunya ya, kita bicara jangan seperti ini," kata Wulan yang ikut membujuk menantunya.
"maaf.... aku tak bisa," jawab Anastasya dari dalam kamar.
"Anastasya jika kamu tak mau membukanya, aku akan menghancurkan pintu ini!!" bentak Arkan.
"kenapa hanya menghancurkan pintu ini, kamu akan menghancurkan aku juga," kata Anastasya.
"Argh...." teriak Arkan frustasi.
akhirnya dia nekat menghancurkan jendela kaca dengan tangan kosong untuk menghampiri istrinya itu.
"kamu gila!!" teriak Anastasya melihat Arkan.
"ya!!! aku gila karena mu!!" bentak Arkan.
bukan menjawab, Anastasya malah menangis di bawah kaki Arkan, "tolong pulangkan aku saja, aku tak bisa disini, terlebih melihatmu mengorbankan nyawa demi mantan kekasih mu itu, aku sakit, aku terluka," kata Anastasya.
Arkan diam, dia tak mengira keputusannya membantu Niken akan melukai istrinya sedalam ini.
"aku ingin pulang ke rumah Daddy..." lirih Anastasya.
"kenapa kamu ingin meninggalkan aku, apa salah ku, kamu baru bersama ku disini," jawab Arkan yang langsung memeluk tubuh istrinya.
__ADS_1
"aku takut kamu akan membuang ku, terlebih dia adalah cinta pertama mu, kamu bahkan rela mati berkali-kali untuknya, sedang aku hanya menyusahkan diri mu saja," jawab Anastasya frustasi.
Wulan pun masuk saat Arkan membukakan pintu dari dalam, dia terkejut melihat pecahan kaca berserakan.
tak lama tubuh Anastasya lemah dan malah pingsan, Wulan dan Arkan kaget melihatnya.
"bawa ke rumah sakit!" panik Wulan.
akhirnya Anastasya harus di larikan ke rumah sakit, dokter menghampiri Arkan setelah memeriksa kondisi wanita itu.
"apa dia pernah mengalami masalah serius?" tanya dokter.
"iya dokter, dia baru saja bangun dari koma sekitar sebulan ini, memang kenapa dokter," tanya Arkan.
"Anda jika sudah tau seharusnya Anda tak membuatnya stres, itu tak baik untuk kondisinya, jadi tolong anda jaga kondisi mental istri anda, dan dia harus rawat inap di sini sampai kondisinya membaik," kata dokter.
"baik dokter, terima kasih," jawab Wulan karena Arkan sudah nampak syok duluan.
Raka yang tak bisa melarang putranya, terpaksa menghubungi besannya, dan tuan Alan langsung datang dari Amerika saat itu juga.
pria itu kini sudah mendarat di bandara internasional Juanda Surabaya.
"maaf aku harus merepotkan mu, aku juga sudah tak bisa melarangnya," kata Raka bersalaman dengan pria itu.
"aku tau menolong orang itu perbuatan baik, tapi dia bisa mati konyol, tidak aku tak ingin melihat putriku terluka lagi," kata tuan Alan.
mereka pun langsung menuju ke ruang sakit untuk menemui Anastasya.
Wulan pun menguatkan Arkan, Faraz yang menjemput Lily kemudian membawanya ke rumah sakit.
"bagaimana kondisinya?" tanya Faraz yang mengendong Lily.
"dia drop, karena tertekan setelah tau kalian akan membantu Niken," kata Wulan menjelaskan.
"papi jahat, papi buat mami sedih, mami tidak boleh tidur lagi ..." tangis Lily.
mendengar itu, Arkan bangun dan ingin mengendong Lily, tapi putri kecilnya itu menolak Arkan.
"Lily benci papi?" tanya Arkan dengan suara gemetar.
"Lily tidak tau," jawab Lily tetap menangis di pelukan Faraz.
Arkan pun bingung kini, jika dia terus berniat dan membantu Niken, maka dia harus kehilangan istri dan putrinya.
sedang jika dia tak membantunya, keluarga itu juga akan kehilangan putri mereka.
"biarkan aku dan Aryan uang berangkat nanti malam, kamu jaga Anastasya di sini," kata Faraz.
__ADS_1
"tidak akan bisa kalian melawan mereka," jawab Arkan.
"kalau begitu pergilah, kamu ingin menyelamatkan gadis itu bukan, pergi saja, tapi saat kamu kembali dan tak mendapati istri dan putri mu, jangan terkejut," suara tuan Alan membuat semua orang menoleh.