
kehamilan yang di jalani oleh Anastasya begitu baik di bawah pengawasan dari Wulan, dan ternyata Nayla juga hamil.
tapi wanita itu lebih syok di banding Aryan, ya keduanya belum siap memiliki anak karena ingin lulus kuliah.
Anastasya sedang duduk-duduk sambil makan buah rambutan yang kebetulan sedang berbuah lebat.
"hei kenapa sedih adik ipar, jangan seperti itu, kasihan bayimu, jika kaku terus murung, nanti pas lahiran bayinya juga murung," kata Anastasya tertawa.
"berhenti meledekku, aku tak mengira meski aku sudah menghitung masa subur tapi kenapa kami masih kebobolan," kata Nayla dengan sedih.
"kok gitu, banyak orang yang ingin punya anak, kalian di berikan cepat kok kesannya ngeluh, gak etis lah."
"bukan begitu kakak ipar, kami hanya belum siap, kami masih kuliah, dan lagi suamiku juga belum punya rumah sendiri, kita seharusnya tidak boleh tinggal satu atap begini," kata Nayla.
"owh... karena adat ya, baiklah nanti aku minta suamiku untuk tinggal pisah, ya kami bisa menyewa rumah di sekitar sini," kata Anastasya yang tak ingin menjadi beban.
"kenapa menyewa, kalian bisa tinggal di rumah orang tuaku, kebetulan rumah itu kosong, jadi siapa yang mau tinggal disana?" tawar Faraz yang baru pulang kuliah bersama dengan Aryan.
"biar kami saja, aku ingin mandiri," Jawab Nayla.
"baiklah, nanti biar aku dan Aryan bersihkan, dan Anastasya berhenti makan sambil memangku mangkok oke," kata Faraz yang mengambil wadah rambutan itu dari pangkuan Anastasya.
"kok di ambil, bang Faraz jahat banget!" kesal Anastasya.
Faraz tak peduli, Aryan pun mengajak Nayla bicara berdua, dia tau jika istrinya itu belum siap.
tapi ini juga bukan rencana mereka jika Allah sudah percaya, mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Arkan baru pulang dari sekolah, ya dia memilih mengambil kerja sampingan karena dia tak ingin berdiam di rumah.
"assalamualaikum bubu, ada apa kamu sedang sedih?" salam Arkan yang baru datang.
"iya bi, rambutan ku di ambil bang Faraz, kok tumben bibi sudah pulang?" tanya Anastasya pada Arkan.
"ya karena jadwal mengajarnya susah selesai, kamu ini gimana," kata Arkan tertawa.
Anastasya merasa benar-benar bahagia memiliki suami seperti Arkan yang begitu lembut.
siang itu ketiganya membersihkan rumah Rafa, dan akan di tempati oleh Aryan dan Nayla.
awalnya Raka kurang setuju, tapi Krena dia tau apa resiko jika satu atap di tinggali oleh tiga rumah tangga akan sangat buruk.
__ADS_1
jadilah mereka mengiyakan, setelah selesai,Nayla dan Aryan benar-benar belajar mandiri.
kandungan dari kedua menantu Wulan sudah memasuki usia Lina bulan, hari ini adalah hari tingkep dari Anastasya telebih dahulu.
dan bukan depan baru Nayla, terlebih tak baik jika acara tingkep di jadikan satu.
Anastasya benar-benar senang, pasalnya dia baru tau ada adat Jawa seperti ini.
Arkan memecahkan cengkir dan airnya tidak muncrat, jadi di percaya anak mereka adalah perempuan.
Arkan begitu senang mendengarnya, "Alhamdulillah," kata Arkan.
"wah baru kali ini loh ada ayah yang di prediksi begitu senang," kata Faraz.
"karena aku yakin jika putriku nantinya akan secantik maminya,"jawab Arkan yang langsung memberikan ciuman di kening Anastasya.
Alan yang datang pun merasa bahagia melihat senyum putrinya, bahkan dia juga pertama kali ikut adat seperti ini.
"sangat menyenangkan, aku baru pertama kali melihat tradisi Indonesia," kata Alan pada Raka.
"terima kasih,aku juga bahagia melihat mereka," jawab Raka.
Alan memberikan emas sebagai sovenir untuk acara tingkepan putrinya.
terlebih mereka semua juga baru melihat emas batangan sebagai sovenir.
acara pun selesai, Anastasya terlihat tak ada lelahnya, bahkan Arkan sangat khawatir pada istrinya itu.
perlahan tapi pasti, Anastasya benar-benar bisa merebut hati Arkan, karena sikap ceria, baik hati dan juga ramah.
bahkan dia sering memberikan uang pada orang yang terlihat tak mampu.
"sayang duduklah, nanti kamu kelelahan," panggil Arkan.
Anastasya berhenti sibuk, dia yang kaget sampai menumpahkan gelas yang di sampingnya.
"kamu kenapa," panik Arkan.
"kamu memanggilku sayang," kaget Anastasya.
Arkan tersenyum dan mengangguk, wanita itu nampak begitu bahagia, pasalnya itu adalah impiannya untuk di panggil sayang oleh suaminya.
__ADS_1
Arkan pun tak mengira reaksi dari Anastasya begitu kaget, ya selama ini dia belum pernah mengatakan sayang.
tapi sekarang dia sadar, dia tak bisa hidup tanpa Anastasya, semua berjalan normal.
saat acara tingkep dari Nayla, malam hari perut Anastasya merasakan panas.
dia terbangun dari tidurnya dan memegangi perutnya, dia minum air yang sudah di taruh ibu mertuanya.
tapi rasa sakit itu tak bisa di kendalikan, "bibi ... bangunlah... perutku sakit..." lirih Anastasya menangis.
Arkan terbangun dan kaget melihat kondisi istrinya yang sudah pucat. bahkan saat menyingkap selimut Aryan kaget melihat begitu banyak darah.
"sayang kamu kenapa?" kaget Arkan.
"aku tidak tau, perutku sakit...." tangis Anastasya.
tapi saat Arkan ingin membawa Anastasya pergi, Ki Antaboga datang dan menghentikan pria itu.
"tidak Arkan, ke dokter tidak akan membantu istrimu, biarkan aku saja yang menjaga dia dan putrimu, kamu panggil Arsana dan nyai Nawang," kata Ki Antaboga yang sudah berubah menjadi wujud ular besar dan kemudian melilit Anastasya dan membuat suhu tubuh wanita itu lebih dingin.
"eyang dan Arsana, aku butuh bantuan kalian berdua," panggil Arkan.
Keduanya datang, Arsana kaget melihat kakak iparnya, "ada apa kanda?"
"sepertinya keris yang berada di tubuh gadis itu sedang terusik, jika seperti ini kasihan istrimu," kata nyai Nawang.
"apa dia melakukan hubungan di luar pernikahan," tanya Arkan.
"tidak, dia mencari mangsa atas perintah dari makhluk yang berada di sampingnya," kata nyai Nawang.
"sudah hentikan ocehan kalian,Nawang kamu masuk dan jaga nyawa bayinya, dan Arsana kamu jaga nyawa dan tubuh dari istri Arkan, dan setelah bayi ini lahir, kamu harus tetap menjaganya sampai keris itu sempurna," perintah Ki Antaboga yang akan menjaga nyawa dari Anastasya.
"baik eyang, tapi sebaiknya kita harus membawanya pergi menjauh sejauh mungkin, agar sedikit gangguan pada kakak ipar ku," kata Arsana.
"ya kamu benar, dan dia juga butuh bantuan manusia lain untuk tetap menjaganya," kata Ki Antaboga.
"kalau begitu kita berangkat ke Singapura, dan disana dia akan di jaga dengan sangat baik," kata Arkan memberi usul.
"baiklah, kamu atur dan kami akan menjaganya," jawab Ki Antaboga yang menghilang dan menyatu dengan tubuh Anastasya yang sedang hamil.
nyai Nawang masuk kedalam perut Anastasya, dan Arsana berubah menjadi sebuah perisai untuk wanita itu.
__ADS_1
Anastasya pun tiba-tiba merasa jika Tubuhnya baik-baik saja, rasa sakit itu juga sudah menghilang.