
pagi ini seperti biasa, Faraz dan Arkan sedang lari pagi mengelilingi desa, tapi tak di duga sebuah mobil mrnyipratkan air yang ada di lubang jalan pada keduanya.
mereka mengenali itu mobil siap, dengan kesal Arkan mengambil batu dan langsung membuat kaca mobil itu pecah.
"kau gila Arkan," kata Faraz kaget.
"kenapa, seharusnya mas juga tau itu mobil siapa," kata Arkan enteng.
benar saja, mobil itu berhenti dan turunlah sosok pria itu, "aku cuma bercanda dan kamu menghancurkan mobilku?" kata Adi yang baru pulang dari kesatuannya.
"wah maaf nih ya pak tentara, sayangnya bercandaan Anda tak lucu, dan tadi tanganku licin eh batunya terbang sendiri," saut Arkan enteng.
"dasar bocah ini, kamu itu sudah jadi ayah kenapa masih pecicilan begini," tegur Adi tak habis pikir.
"aduh anda yang sudah jadi kepala Kodam kenapa masih sendiri saja, padahal udah tua," ledek dari Arkan yang makin menjadi.
"sudah aku tak ikut campur, mas Adi mending pulang deh, bukannya jadwalnya balik ya?" tanya Faraz.
"ya libur ku sudah habis, eh bocah tengik nanti ambil mobilnya terus bawa ke bengkel, jika tidak awas kamu," kata Adi.
"gak janji deh," ledek Arkan.
Faraz pun tak habis pikir pada Arkan yang begitu berani menantang sosok dari Adi yang begitu keras, tapi ya begitulah keluarganya.
keduanya sampai di rumah, terlihat Anastasya sudah membantu Wulan mengemas semua nasi bungkus.
Lily juga sudah sarapan bersama Raka, "pagi ayah, Amma, Lily dan cintaku," kata Arkan gemas langsung memeluk Anastasya.
"mas kotor!!" teriak Anastasya kaget.
pasalnya pria itu basah karena air kubangan Rafi, Faraz langsung mandi terlebih dahulu.
"ini karena mas Adi yang gak bisa bawa mobil, masak ada lubang yang berusia air main terjang saja, kafilah kami motor," terang arkan.
"kalau begitu mandi, jangan malah makan," kata Wulan memukul tangan Arkan yang ingin mengambil gorengan.
Anand datang menemui sang kakek, dan ingin di antar oleh Raka, "Anand dan Lily hari ini Mbah yang antar ya, biarkan Papi dan mani kalian ke restoran," kata Raka.
"baik Mbah, terus aunty Husna dan aunty Aluna bagaimana?" tanya Anand.
"dia nanti bareng sama mbah uti karena nanti berangkat siang," jawab Wulan.
"baik Mbah uti, kami pamit dulu kalau begitu," kata Anand yang pergi bersama semua Raka yang mengantar mereka.
__ADS_1
sedang di tempat lain, Arkan sedang menahan Anastasya, pasalnya dia ingin sekali menikmati waktu bersama.
tapi Anastasya terus saja menghindar tapi pagi ini wanita itu sudah terjebak, "kamu harus disini membantuku," kata arkan.
"tidak mau, kamu mesum dan berhenti membuatku seperti ini," kata Anastasya yang sudah tak bisa lepas lagi.
Faraz sarapan kemudian berangkat untuk mengajar, pasalnya hati ini kelasnya cukup padat.
sedang Arkan baru saja keluar pukul sembilan pagi, "selamat pagi Amma, mau kemana?" tanya arkan.
"mau anter adik-adik mu ke sekolah," Jawab Wulan.
"Amma, biar nanti saja yang jemput Lily dan Anand, Amma pasti sibuk," kata Anastasya memberikan usul.
"kamu bukannya mau ikut ke restoran, kenapa malah mau jemput anak-anak nanti ngerepotin loh," kata Wulan.
"tidak amma, setidaknya nanti saya ada temennya, biasanya pulang kan berapa?" tanya Anastasya pada mertuanya itu.
"sebentar lagi mereka pulang, karena hati ini Jum'at, jadi pulangnya Jan setengah sepuluh siang," kata Wulan lagi.
"kalau begitu aku gak jadi ikut ke restoran ya sayang, aku ingin di rumah saja karena tak mau kita ada apa-apa nantinya," kata Anastasya.
"baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan saja, setelah jemput Lily dan juga anand, kebetulan aku ingin mengajakmu untuk membeli sesuatu,"kata arkan.
sedang di pondok pesantren milik milik ustadz Arifin pagi ini semua santri dan santriwati sedang mengikuti acara yang di adakan.
Niken masih terlihat sering bengong, Azam melihat istrinya itu dari jauh, dia memang belum bercerai dari wanita itu.
Azam membaca sebuah mantra dan membuat Niken terpengaruh lagi. wanita itu berjalan kearah belakang pondok.
dan di sana Azam kembali membawanya pergi ke alamnya, tapi kini mereka bersembunyi di hutan.
di sana ada sebuah rumah yang cukup sederhana, Azam mengajak istrinya itu.
Niken menurut saja, pasalnya dia sudah terpengaruh mantra dari Azam.
"duduklah dulu sayang, biar aku ambilkan anak-anak kita," kata Azam.
Niken hanya diam seperti patung, dan Azam mengendong dua anak di tangannya, kemudian dia meminta Niken menyusui Keduanya.
kedua bayi Niken itu langsung menyusu dengan sangat lahap, bahkan air susu Niken pun sampai menetes.
Azam juga sudah membeli semua keperluan Niken selama di sana, setelah menyusui kedua anaknya.
__ADS_1
Azam meminta Niken untuk tidur, dan dia mengantarkan kedua anaknya pulang.
Azam benar-benar berhati-hati, karena dia tak ingin di ikuti atau perbuatannya ini di ketahui oleh siapapun.
Azam kembali ke rumah itu, Niken sedang tidur, Azam tergoda melihat sosok cantik yang sedang tidur terlentang itu.
"sayang boleh aku menyentuh mu seperti dulu," bisik Azam pada istrinya itu.
Niken pun hanya mengangguk, pasalnya wanita itu benar-benar dalam pengaruh mantra.
Keduanya pun menikmati siang panas itu, azam merasa bahagia karena berhasil membawa istrinya lagi.
terlebih dia sekarang memiliki tempat bersembunyiannya sendiri, dan tak takut di ketahui oleh siapapun.
ustadz Yunus kaget saat di beri tahu jika Niken menghilang, pasalnya tadi wanita itu sedang ada di kamar bersama santri yang lain.
ustadz Yunus mencoba melihat dimana wanita itu bisa menghilang, tapi tidak bisa melacak jejak sedikitpun.
dia merasa gagal karena melupakan sesuatu, karena Niken belum bercerai dengan suami ghaibnya.
bisa-bisa wanita itu di bawa ke alam ghaib lagi, dan hari ini dia benar-benar kecolongan.
ustadz Arifin membantu ustadz Yunus untuk menghubungi Ki item, beruntung makhluk itu mau membantu.
Ki item mengajak prajuritnya untuk menemui keluarga dari Azam. tapi mereka tak menemukan Niken disana dan juga Azam.
"pak Broto, kemana putra mu Azam, kenapa dia tak di rumah?" tanya Ki item
"dia pergi setelah kalian merenggut istrinya, dia hanya datang sesekali menjenguk anak-anaknya, dan anda bisa menemuinya di alas Curug Lina, dia ada di sana," kata pak Broto.
"baiklah kali ini saya akan percaya," jawab Ki item.
dia pun memastikannya sendiri, dsn benar sosok Azam sedang duduk di sebuah pohon besar yang ada di tengah hutan itu.
"mau apa kamu kesini?" tanya Azam melihat Ki item.
"aku hanya khawatir padamu,"jawab Ki item.
"tidak usah berbohong, kamu pasti ingin memastikan sesuatu bukan, aku tak mungkin melakukan hal yang bisa mengancam nyawa kedua orang tuaku," kata Azam.
"baiklah aku akan percaya padamu, tapi ingatlah jika kamu berani menyentuh wanita itu lagi, maka semua keluargamu biasa," kata Ki item dengan kasar.
"terserah padamu saja," jawab Azam melihat rajanya pergi.
__ADS_1
dia tersenyum, "tak ku kira membohongi kalian semua begitu mengasikkan," kata Azam.