
selama dalam perjalanan, ada sosok yang sempat terlihat oleh Arkan yang memberikan kalung itu pada Adi.
dia tak bisa mengingat namanya, tapi dia bisa ingat wajahnya, "sepertinya dia memiliki rencana untuk keluarga kami," gumamnya.
tapi dia pun menampik bayangkan itu,dan memilih pulang, di bawah sorot lampu penerangan jalan.
muncul sosok pria yang terlihat penuh dendam, bahkan Aira di seluruh tubuhnya adalah hitam pekat.
"meski aku sudah mati, aku akan membunuh mu akan, lihat saja nanti..."
sosok itu pun kemudian berjalan dengan pincang karena tubuhnya yang hancur terlindas truk.
tapi dia pun hilang bersama angin yang berhembus kencang, Arkan sampai di rumah memang sudah malam.
tubuhnya sangat lelah, karena beberapa hari ini dia memang sulit tidur.
"assalamualaikum..." sapanya dengan lemas
"waalaikum salam... ayah begitu lelah ya, mami siapkan mandi air hangat ya," kata Tasya yang kasihan melihat suaminya itu.
"boleh mami, tapi tolong buatkan cemilan roti bakar dulu ya," kata Arkan yang langsung tidur tengkurap di karpet.
Adit yang melihat Arkan kelelahan, dia pun inisiatif untuk memijat papinya itu.
"Adit ... naik ke punggung papi nak, gunakan kakimu," kata arkan dengan suara lemas .
"siap papi...", jawab Adit yang langsung memijat Arkan.
Arkan begitu menikmati apa yang Adit lakukan, setelah puas Arkan bangun dan mulai makan.
Adit pun ikut menikmati roti itu, "sudah papi mandi dulu, biar segar," kata Tasya.
Arkan pun mandi, sedang Adit masih belajar bahasa Inggris dengan menonton video di YouTube.
sesekali Tasya membenarkan cara pengucapan beberapa kata, Adit memiliki kecepatan dalam memahami sesuatu.
Lily, tuan Alan dan mbak Utami pun datang setelah puas berbelanja tadi, mereka sempat ke minimarket untuk membeli perlengkapan sekolah baru, terutama buku gambar dan pensil warna.
"mas Adit, ini buku gambarnya yang paling besar" kata Lily yang menyeret apa yang dia beli.
"wah Terima kasih," jawab Adit.
keduanya nampak senang, begitupun tuan Alan dan mbak Utami.
Arkan pun selesai mandi, dan tiba-tiba dia kaget melihat sosok ku Sesnag yang muncul di sampingnya.
"ya Allah... ngagetin kamu Ki,", kara Arkan hampir terjungkal.
"maaf, aku hanya ingin memperingatkan kamu kalau kalian saat ini ada dalam bahaya," kata Ki Sesnag dengan serius.
__ADS_1
"hah... apa maksudnya?" tanya Arkan tak mengerti.
Ki Sesnag pun menunjukkan apa yang dua lihat pada arkan, bahkan sodok pria hancur itu bukan sosok sembarangan.
"aku tak mengenalmu," gumam Arkan.
"aku juga tak tau dia siapa, tapi yang jelas dia sedang mengincar keluarga mu, terutama Lily dan Linga,"
"tidak akan aku biarkan," kata Arkan.
sosok itu muncul di depan rumah Arkan, dia terlihat menyeringai, tapi saat dia ingin masuk dia terhalang oleh sesuatu.
"aku tidak bisa masuk, rumah ini di Pagari..." gumamnya.
tapi saat dia melihat ke arah rumah akan, dia kaget melihat ada seorang bocah laki-laki yang tengah menatapnya tajam.
"siapa bocah itu? aku tak pernah melihatnya dengan aura sekuat itu," gumam pria itu yang kemudian pergi.
"Adit... sudah ambil asbaknya, ayo masuk jangan di luar!" panggil tasya.
"iya mami ..." jawab Adit yang langsung pergi.
Arkan bergabung dengan keluarganya, tapi dia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"ada apa papi? kenapa sepertinya papi banyak pikiran begitu?" tanya Tasya .
"tidak apa-apa mami, hanya pusing masalah pekerjaan," jawab Arkan.
sedang di pondok pesantren, malam ini Faraz tidur di sofa yang ada di kamar istrinya.
bukan apa dia tak ingin membuat Kalila tak nyaman, bahkan Wanita itu tak pernah melepaskan cadarnya.
Faraz tau jika pernikahan ini adalah permintaan ustadz Arifin, tapi dia dan Kalila harus melakukan pendekatan dan saling mengenal dulu.
"mas... jika tak nyaman, mas bisa tidur di ranjang, aku tak masalah," lirih Kalila.
"sudah istirahat saja, kamu juga pasti sangat lelah, aku tak ingin kamu sakit, jadi tidurlah," kata Faraz.
Nino di kantor polisi baru tau jika Devan, orang yang mereka kirim ke penjara itu kabur dan di temukan mati terlindas truk.
mengetahui itu Nino langsung membagikan kabar itu, Arkan yang memang sudah lelap pun tak menggubrisnya.
begitu pun dengan Faraz, arwah pria itu kini berjalan di jalanan sepi di sekitar area pondok.
dia bisa mencium aroma amis dari darah haid yang tidak di bersihkan dia pun mencari cara untuk bisa menikmatinya.
tapi tentu dia bisa mati dengan terbakar karena nekat masuk ke area seperti itu.
arwah Devan berjalan tanpa arah, dia membutuhkan darah untuk memperkuat tubuhnya agar bisa segera membunuh Arkan dan Faraz.
__ADS_1
saat dia tak mengajak melewati sebuah bangunan rumah, tercium aroma yang dia cari.
dia pun bergegas melihat kedalam sana, ternyata ada seorang wanita melahirkan di rumah.
dan wanita itu hanya di bantu dukun beranak, "sudah ya nduk, mbok bersihkan dulu bayi mu,"
arwah Devan pun masuk dan mulai menjilati darah yang berceceran itu, bahkan arwah itu membuat ibu bayi pun kehabisan darah.
arwah Devan pun menghilang setelah puas, dukun bayi yang membantu persalinan pun kaget melihat wanita itu tewas.
🍁🍁🍁🍁🍁
pagi ini Adit dan Lily sudah siap ke sekolah bersama tuan Alan dan mbak Utami.
mereka mengantarkan keduanya, setelah itu mereka memutuskan untuk pulang dulu ke rumah mbak Utami.
"rumah mu sederhana sekali ya istriku, tapi nyaman..." kata tuan Alan.
"tentu, apa ingin merasakan tinggal di sini?" tawar mbak Utami.
"boleh, asal aku dapat jatah darimu,hei kita sudah menikah tapi belum melakukan malam pertama," protes tuan Alan.
"maaf ya, kan aku sedang berhalangan kemarin," jawab mbak Utami tersenyum di pangkuan suaminya.
"tapi tadi pagi kamu sudah sholat subuh, jadi sudah selesai bukan?"
mbak Utami mengangguk dan tuan Alan langsung ******* bibir istrinya itu dengan sangat penuh cinta.
"jangan di sini, dan aku belum membersihkan kamar, takutnya kotor," kata mbak Utami mendorong tubuh suaminya pelan.
dia pun bangkit dan akan mulai membersihkan rumah miliknya, tapi tuan Alan menahannya dan membawa tas yang sengaja di ambil.
"loh mau kemana?" tanya mbak Utami bingung.
"kelamaan kalau harus beres-beres rumah, kita cari hotel," kata tuan Alan.
karena dia tak ingin di ganggu siapapun, jadi mereka mencari hotel terdekat.
mereka juga menunjukkan buku nikahnya saat memesan kamar, dan mereka pun langsung masuk kedalam kamar.
tuan Alan sudah mencium bibir mbak Utami dengan lembut. entah siapa yang mulai, kini pakaian mereka sudah berserakan di lantai.
tak peduli itu siang hari, mereka masih bisa melakukannya seperti saat ini.
mbak Utami mencakar punggung tuan Alan karena kaget, mereka pun menikmati siang itu berdua saling memadu kasih.
Arkan sedang mendapatkan tamu dua orang yang tidak biasa, ada Faraz dan Nino.
"ada apa ini kalian datang?" tanya Arkan.
__ADS_1
"kakak ingat pria ini, dia sudah mati terlindas truk di depan KUA," kata Nino menunjukkan foto itu