
akhirnya setelah berdiskusi, Arkan dan Faraz pulang ke rumah masing-masing.
Niken membawa beberapa makanan untuk membaginya pada Faraz dan mengatakan jika dia berhasil lolos mengajar di yayasan milik keluarganya.
terlihat dari jauh mobil pria itu sudah datang, Niken pun bergegas keluar membawa makanan yang dia siapkan dengan khusus.
mobil Faraz batu masuk ke garasi di lantai bawah, Niken buru-buru memberikan makanan itu.
"mas Faraz ini untuk mu," kata Niken saat Faraz turun dari mobil.
"ada acara apa ini, bukankah tak ada kenduri?" tanya Faraz yang masih memakai baju putih dan sarung putihnya.
"tidak ada, hanya sedikit masak mie spesial karena aku lulus menjadi guru di yayasan keluarga Noviant, dan besok sudah mulai mengajar," jawab Niken.
"ah benarkah,selamat ya, kalau begitu sekarang lebih baik istirahat karena aku juga harus tidur," jawab Faraz yang tak enak berduaan saja bersama Niken.
"baiklah, selamat menikmati dan selamat beristirahat," kata Niken.
Faraz mengangguk melihat gadis itu pergi, entahlah tugasnya sekarang sudah selesai, untuk menjaga Niken karena wanita itu sudah terbebas sepenuhnya.
kini dia pun harus fokus pada dirinya sendiri, terlebih dia juga sudah harus mulai memikirkan tentang keluarga.
sedang mobil arkan baru sampai rumah dan masih melihat tuan Alan duduk di teras.
"assalamualaikum Daddy, kenapa masih di sini? terlebih ini sudah sangat larut?" tanya arkan.
"sedang santai saja, terlebih barusan Daddy baru selesai memeriksa laporan itu," jawab tuan Zein.
"owh... seperti itu, baiklah apa perlu di buatkan sesuatu Daddy? tawar Arkan.
"boleh, tolong nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang, dan juga ayam goreng ya," kata tuan Alan tertawa.
"baiklah papa mertua," jawab Arkan.
Arkan langsung ganti baju dan mulai membuat nasi goreng pesanan dari mertuanya itu, tak hanya nasi goreng.
berbagai pelengkap yang tadi di inginkan pun juga di masak, tak lama nasi goreng pun siap.
tapi saat akan membawanya ke depan, Arkan kaget melihat sosok Adit yang sedang berdiri di belakangnya.
"Allahuakbar, Adit bikin kaget, ada apa nak?" tanya Arkan melihat putranya itu.
"aku lapar papi, dan mencium aroma nasi goreng," kata Adit yang telihat segar.
"kamu mau, papi bisa buatkan, karena ini cukup pedas," jawab Arkan pada putranya itu.
"tidak usah, sebenarnya aku suka makanan pedas, tapi karena Lily aku menyesuaikan dengannya," jawab Adit.
"baiklah kalau begitu tolong bantu papi membawa ini ke depan dan nanti papi akan siap kan milik mu ya nak, terlebih krupuk juga masih belum papi goreng," kata Arkan.
__ADS_1
"siap papi," jawab Adit yang membawa piring ke depan.
"loh Adit, kami bangun nak?" tanya tuan Alan.
"malam opa, Adit laper dan mencium aroma nasi goreng papi jadi bangun," jawab bocah itu.
"owalah gitu, ya sudah ikut makan saja, mna papi mu?" tanya tuan Alan.
"masih menggoreng kerupuk," jawab Adit yang kini mengambilkan air minum untuk mereka.
tak butuh waktu lama Arkan datang dengan krupuk dan satu goreng di piring lain.
"selamat makan semuanya," kata tuan Alan.
mereka bertiga pun makan dengn lahap, Adit bahkan terlihat begitu menikmati nasi goreng pedas miliknya.
Arkan pun tak mengira jika putranya itu rela tak makan pedas hanya karena takut Lily mencicipi makanan miliknya dan akan kepedesan.
tapi saat hanya bertiga seperti ini, Adit bisa jadi dirinya sendiri, bahkan bocah itu nampak begitu senang.
setelah kenyang ketiganya pun duduk sambil menepuk perut mereka, "Alhamdulillah kenyang..."
"terima kasih atas nasi goreng enaknya papi,nasi goreng papi paling terbaik, bahkan nasi goreng paklek Aryan kalah," kata Adit memuji.
"loh memang Adit pernah makan nasi goreng buatan adik papi?"
"ha-ha-ha dia tak berubah sedikitpun, dari dulu suka masak seperti itu memang, nasi goreng pucat dan kurang garam alias hambar," jawab Arkan tertawa.
saat ini tuan Alan sedang mencuci piring di bantu Adit, setelah selesai Adit memilih duduk di ruang keluarga.
"Adit ayo tidur," kata tuan Alan melihat cucunya itu.
"tidak dulu opa, karena tak baik langsung tidur setelah makan, jadi Agit ingin duduk dulu," jawab bocah itu.
"baiklah, kalau begitu ayo temani opa menonton bola ya, terlebih opa juga tidak bisa tidur," kata tuan Alan.
"kenapa opa? apa opa sedang banyak pikiran, bisa berbagi dengan Adit,"
tuan Alan tersenyum melihat bocah kecil itu yang begitu dewasa di usianya, mungkin tumbuh di lingkungan baik dan serba harus mandiri mendewasakan bocah itu.
"opa sedang bingung, mau menikah dengan siapa? karena utami tak mau menerima opa?" kata tuan Alan tertawa.
"kok aneh, opa ganteng, baik, dan murah hati, memang kenapa Tante Utami tak mau?" tanya Adit.
"karena dia tak mau tinggal di luar negri," jawab tuan Alan.
"ya di bujuk dong opa, padahal Tante Utami itu wanita baik, terutama dia menyukai anak-anak," kata Adit.
"ya kamu benar, sepertinya opa harus berjuang, ah... setelah sekian lama aku akan mengejar wanita lagi," kata tuan Alan.
__ADS_1
"opa bisa," kata Adit memberikan semangat.
mereka pun menonton sepak bola bersama hingga Adit ketiduran di samping tuan Alan.
akhirnya keduanya tidur bersama di depan televisi, karena terlalu lelah dan mengantuk.
Tasya bangun dan mematikan tv dan melihat keduanya sedang pulas tertidur.
dia pun mulai memasak, untuk sarapan, "sayang lebih baik sholat dulu biar aku yang melanjutkan memasaknya," kata Arkan.
"baiklah, papi ingat untuk memotong sayur ya," kata Tasya memberikan ciuman pada suaminya.
"siap sayang," kata Arkan dengan semangat.
akhirnya mereka saling membantu, terlebih Tasya juga harus menyusui putranya juga.
pukul setengah enam Adit bangun tidur dan langsung mencuci wajahnya.
"papi aku kesiangan lagi," kata Adit sedih.
"tak apa-apa sayang, sekarang lebih baik bangunkan adik mu dan setelah itu tata buku kalian oke," kata arkan.
"iya papi," jawab bocah itu.
Adit membangunkan Lily dan langsung membantu adiknya itu mencuci wajah dan gosok gigi.
"Lily tugas mu sudah selesai?" tanya Adit.
"huh... ada tugas mas?" tanya Lily polos.
"ada dek tugas dari Bu Dian, itu kita di suruh menggambar keluarga kita, mau di bantu?" tanya Adit.
"boleh, tapi kita adik kakak, bukankah sama saja gambarnya," kata Lily.
"aduh kenapa putri ayah ini begitu pintar, kalian punya tugas masing-masing meski kalian satu keluarga, jadi tetap harus membuat gambar," kata Arkan.
"owh begitu, baiklah mas bantu aku ya," kata Lily memohon.
"baiklah, ayo kita selesaikan secepatnya jika tidak nanti kita telah sekolahnya," kata Adit yang menarik adiknya itu.
Lily pun beruntung memiliki Adit, pasalnya bocah itu begitu pintar dan pintar dalam segala hal.
"bagaimana gambarnya sudah selesai, jika sudah ayo segera mandi setelah sarapan," kata Tasya melihat kedua anaknya itu.
"baik mami, Adit mandi dulu, Lily cepat selesaikan ayah kamu bisa telat," kata arkan.
"baiklah mas, ini akan selesai," jawab Lily yang benar-benar menyelesaikan tugas dari gurunya.
Tasya pun merasa senang melihat kedua anaknya yang saling melindungi dan saling pengertian satu sama lain.
__ADS_1