
"maaf, tapi kamu harus berkorban, salah satu dari kita akan kehilangan kemampuan, entah itu terluka dalam atau bahkan tak ingat apapun setelah pertarungan ini," seorang wanita berkata padanya.
"lebih baik aku kehilangan nyawaku dari pada aku harus kehilangan Arkan untuk selamanya, telebih dia harus mati di depan ku," jawab Niken tanpa sadar.
dia ingat kembali hari itu, dia yang menuju rumah Nia tapi malah ingin di jadikan tumbal oleh keluarga Nia.
dia melihat sosok Emily yang muntah darah dan kehilangan kesadaran setelah memberikan kekuatannya.
Niken bangkit dan membantu Arkan, dia yang membunuh dukun itu, tapi luka akan begitu parah.
Niken bisa melihat rombongan orang datang untuk menolong Mereke semua.
Niken ingin meraih Arkan tapi tenaganya sudah habis, terlebih dia melihat sosok Nia yang melukai Arkan dengan parah.
"tidak..."lirih Niken melihat pria yang dia cintai terluka parah.
tiba-tiba dia sudah ada di sebuah rumah sakit yang jauh, dia melihat tubuhnya terbaring di sana.
ada sosok hitam yang sedang memainkan rambutnya, perlahan sosok itu mendekati Niken, tapi saat ingin menodai tubuh Niken.
mahluk itu berteriak kesakitan, dia melihat ada sosok harimau yang menjaga tubuhnya.
"sebelum kamu menyentuhnya, hadapi dulu aku," kata mahluk itu.
Niken ingat jika itu adalah harimau penjaga milik Arkan, tiba-tiba mahluk hitam itu pergi.
Niken ingin menyentuh makhluk penjaga itu, tapi suara dari Azam membangunkannya.
"sayang bangunlah, aku merindukan mu," tiba-tiba Niken seakan tertarik kembali ke tubuhnya.
dia pun membuka mata dan melihat ada Aris, Ayu dan juga Azam. Niken masih berkaca-kaca setelah mengingat semuanya.
"ada apa nak?" tanya Ayu.
"Niken sakit bunda, Niken sakit ...." tangis gadis itu.
dia tak mengira jika dia bisa melupakan pria yang melindunginya dengan berbagai cara.
bahkan pria yang rela berkorban untuk dirinya, "nak mana yang sakit? katakan pada bunda? biar bunda obati," kata Ayu yang tak bisa melihat putrinya terluka.
"di sini bunda, di otak Niken, bagaimana bisa aku melupakan pria yang menyelamatkan Niken, dan bagaimana bisa Niken sejahat itu," tanya Niken yang begitu sedih.
__ADS_1
"apa!" kaget Aris dan Azam.
dia marah besar, bagaimana akhirnya Niken bisa ingat semuanya, dia sudah memberikan penghalang ingatan Niken kembali, bahkan dia hampir boss menguasai wanita ini Sebentar lagi.
Aris dan Ayu melihat kearah Azam, pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan rawat Niken.
"ayah tolong..." kata Ayu.
"baik, ayah akan bicara dengan Azam, semoga dia mau mengerti," kata Aris.
Ayu masih menenangkan putrinya, jika Niken menyesali semuanya itu salah, terlebih dia sudah menikah secara sah bersama Azam.
"iya sayang, tapi jangan seperti ini kasihan suamimu, dia dan Janu sudah menikah, itu juga permintaan mu dulu," mohon Ayu.
"tapi bagaimana bisa, aku bahkan tak mengenalnya bunda, aku hanya mencintai Arkan...." tangis Ayu.
sedang di luar, Aris melihat menantunya memukul tembok karena kesal, "maafkan Niken ya nak, kamu tau kan kalau dia baru sadar,"
"tapi ayah, mengatakan itu semua, dia melupakan aku begitu saja setelah ingat punya mantan kekasih, selama ini aku yang menjaganya," marah Azam.
"iya nak, kita perlahan akan menjelaskannya pada Niken, ayah mohon bersabarlah," kata Aris membujuk pria itu.
kekuatannya selama beberapa tahun ini terus bertambah itulah kenapa dia sangat butuh Niken di sisinya.
Aris kembali ke dalam ruang rawat, terlihat Niken sudah sedikit tenang, dia tidak lagi histeris atau memberontak.
"bagaimana bunda?" tanya Aris.
"tenang ayah, dia perlahan mengingat Azam, dan sekarang dia sudah bisa menerima semua keadaan," bisik Ayu.
"ayah... bunda... aku melihat Arkan juga sudah mengendong seorang anak dan memanggilnya putri ku, apa dia sudah menikah?" tanya Niken.
"aku tak tau nak, setelah pernikahan Nayla dan Aryan kami fokus membawa mu untuk memulihkan kondisi mu, jadi ayah sudah lama tak berhubungan dengan keluarga itu," jawab Aris.
"bisakah ayah mengantarku kesana dan meminta penjelasan pada Arkan," kata Niken tatapan memohon.
"nak sudahlah, jika itu benar berarti mereka memang sudah menikah, dan apa kamu tak kasihan pada suamimu yang selama ini menjagamu, bahkan dia selalu bersamamu, apa kamu tak memikirkan hal itu," mohon Aris.
Ayu kembali diam, dia seakan terlalu fokus pada Arkan hingga melupakan suaminya sendiri.
"iya ayah benar, seharusnya aku tak memikirkan dia lagi, karena aku sudah menikah, mungkin dia juga sudah menikah, jadi kami tak ada hubungan apapun sekarang, dan aku harus fokus pada keluargaku ya ayah," kata Niken dengan suara gemetar.
__ADS_1
"iya nak, kamu harus fokus pada keluarga mu, terlebih dia sudah sangat membantu kita," tawa ayu.
Niken pun berusaha ikhlas dengan segalanya. dia harus fokus pada pendidikannya dan suaminya.
dan segera menutup lembaran buku tentang Arkan dalam hidupnya.
sedang di rumah Arkan dan Faraz sedang latihan Tatung, melihat itu Lily menangis karena Faraz terkena tendangan dari Arkan.
"embah kung.... huwa... papi tendang ayah besar..." tangis bocah itu sambil menyeret bonekanya.
mendengar putrinya menangis, Arkan langsung lari dan mengendongnya, Lily mendorong tubuh Arkan ingin lepas.
"jangan sentuh Lily... papi jahat...." tangis Lily yang tak bisa diam.
"tidak sayang, kami sedang latihan tanding, jadi ayah juga kena pukul tapi tidak apa-apa, coba lihat lagi deh," bujuk Arkan pada putrinya.
Lily sedikit tenang, ternyata Faraz sedang tertawa kearah keponakannya itu.
Lily pun berhenti menangis dan memeluk Arkan, "kenapa lagu sayang, papi masih keringatan loh," kata Arkan mengambil minum dengan satu tangan.
"Lily anak jahat ya papi, karena mami tak mau sama Lily, jadi mami ninggalin Lily..." Arkan tersedak mendengar ucapan putrinya.
"tidak sayang, Lily anak baik kok, Nani kan sedang pergi jauh, pasti nanti pulang kok," kata Arkan.
"papi bohong ya, semua temen Lily bilang jika Lily itu jahat, itulah kenapa mami meninggalkan papi dan Lily, karena papi milih Lily jadi itu kenapa mami Ninggalin kita disini," kata Lily yang memeluk Arkan erat.
Arkan mengenggam gelas dengan marah hingga gelas itu pecah.
Wulan pun keluar karena mendengar ribut-ribut, dia melihat Arkan yang sudah meneteskan air mata.
bersama Lily di pelukannya, "Lily tak suka dengan papi, kenapa Lily ingin ketemu mami, Lily tega lihat papi sendirian," tanya Arkan dengan suara serak.
"tidak papi, Lily sayang papi, tapi Lily ingin seperti teman-teman yang punya mami dan papi, Lily juga ingin tau wajah manis," kata Lily yang mengusap air mata di wajah Arkan.
"tapi papi sedih melihat Lily begini," kata Arkan.
"Lily sayang papi..." kata Lily.
Arkan pun mengerti kenapa Lily selalu ingin dekat dengan Aryan dan Nayla, dia sadar jika putrinya itu butuh ibunya saat ini.
Wulan menepuk punggung Arkan, dia tau seharusnya Arkan jujur pada Lily.
__ADS_1