
Arkan dan Faraz pun pulang setelah melakukan pengobatan untuk memastikan kesepuluh orang itu bersih dan tak tertinggal ilmu hitam di tubuh mereka.
saat di rumah keluarga juragan Aris, Tasya kasihan melihat Aryan yang begitu terluka, "mas Aryan ini minum dulu, sepertinya mas nampak begitu lelah,"
Tasya masih mengenggam teh hangat di gelas yang di sodorkan pada Aryan dengan sopan.
tapi tak di duga, Aryan malah menyiramkan air teh itu ke wajah kakak iparnya di depan semua orang.
Tasya hanya diam karena terkejut menerimanya, melihat hal itu arkan yang baru datang pun langsung murka, "kau gila Aryan!!" bentaknya.
"ya!!! kenapa kamu tak ingin datang dan menolong Niken, setidaknya kamu bisa mengunakan kekuatan mu untuk menolongnya bukan," marah Aryan tapi dengan tatapan kosong.
"kau kira aku tuhan, semua manusia sudah di takdir kan mati sesuai yang tertulis, aku tak bisa melakukan apapun,aku bukan Tuhan, ingat itu!!!" marah arkan.
Tasya pun mengusap pelan wajahnya dengan jilbab yang dia kenakan, dan mencoba melerai kedua saudara itu.
"tolong jangan bertengkar, malu di lihat semua orang pi, ini rumah orang yang masih berduka," kata Tasya memohon.
"tapi kenapa??" tanya Aryan yang masih terus memancing amarah Arkan.
"kamu juga tau kondisinya dari awal, bukan aku yang membuatnya mati seperti itu, jadi jangan kurang ajar pada istriku, karena aku tak menyukai sikap mu itu," marah Arkan.
Tasya menarik suaminya, dan Faraz mendorong Keduanya agar terpisah, "berhenti bertengkar ini masih dalam kondisi berduka,"
Aryan pun hanya bisa sedih, Arkan langsung merangkul istrinya dan ingin membawanya pergi.
"jika dari awal kamu menyukainya, bukan salahku jika dia mati sebelum kamu sempat mengatakan isi hatimu, jadi berhenti menyalahkan segalanya pada orang lain, karena itu kebodohan mu sendiri," marah Arkan.
Faraz tak mengira jika kedua adiknya bisa bertengkar seperti ini, bahkan apa yang di lakukan Aryan memang tak pantas.
"kamu keterlaluan Aryan, kamu tau seperti apa kekuatan kami berkerja, kamu bahkan lupa bagaimana dulu Tasya yang mengorbankan dirinya yang sedang hamil demi membantu Niken bebas dari makhluk yang menahannya, dan kamu dengan mudah melukainya, tapi maaf,untuk kali ini ini kamu keterlaluan," kata Faraz yang juga meninggalkan Aryan
"Amma... ajak Aryan pulang, keluarga kita bukan topeng monyet hingga harus jadi tontonan seperti ini, biar aku pamit pada Aris," kata ayah Raka.
"iya ayah," jawab Wulan.
__ADS_1
Aryan pun hanya diam membisu, dia tau jika dia salah tapi dia melakukan itu hanya karena sedih.
"sudah Aryan sekarang ayo pulang, sebelum ayah mu makin marah," kata Amma Wulan mengajak putranya itu.
Arkan terlihat masih sangat marah dengan sikap Aryan, "sudah papi... aku baik-baik saja, jangan marah seperti itu ya, tak baik untuk kesehatan, ingat anak-anak masih pada kecil,"
"aku tau mami, tapi sikap Aryan keterlaluan, dia selalu seperti ini dari dulu tidak pernah berubah, tapi sekarang dia harus sadar sendiri, aku tak mau memaafkannya lagi, cukup dia bersikap kekanakan," marah Arkan.
Tasya hanya bisa mengangguk, dia tak mengira jika Suaminya itu juga keras kepala seperti saudaranya.
mobil mereka sampai di rumah, dan di rumah sudah cukup sepi karena sudah cukup malam saat mereka pulang.
ternyata tuan Alan sudah tidur bersama Lily dan Adit di ruang tengah.
sedang mbak Utami masih menimang bayi Linga yang belum mau tidur.
Tasya dan Arkan pun membersihkan diri, dan setelah itu mereka berdua makan.
sedang Faraz memilih datang ke pondok ustadz Arifin untuk bertanya apa yang harus dia lakukan untuk mendamaikan kedua adiknya itu.
"ini Abi, tadi Aryan keterlaluan karena menyalahkan Arkan yang tak ada yang untuk membantu Niken, dia berharap Arkan datang dan mengundur waktu kematian dari Niken," jelas Faraz.
"ya gak bisa, orang umur manusia itu sudah ada yang mengatur, mungkin Aryan merasa sakit karena melihat temannya meninggal, itu mungkin kemarahan sesaat saja," kata ustadz Arifin.
"tapi aku juga sudah mengatakannya, tapi Aryan seperti orang linglung, apa ini tak apa-apa abi?"
"insyaallah tak apa-apa, adik-adik mu susah pada dewasa, dan aku lihat Tasya bisa membujuk suaminya, jadi kamu jangan cemas begitu," kata ustadz Arifin
Faraz hanya mengangguk, setidaknya dia sekarang merasa senang karena bisa berkonsultasi secara baik dengan calon mertuanya itu.
pernikahan mereka di undur beberapa Minggu karena besok adalah penikahan tuan Alan dan mbak Utami yang di lakukan di KUA.
"jadi besok acaranya jam berapa?" tanya ustadz Arifin yang di minta jadi penasehat pernikahan.
"resepsi setelah sholat dhuhur Abi sampai malam mungkin, besok biar saya yang jemput ya," kata Faraz.
__ADS_1
"tidak usah, kamu lupa jika besok ada Al-Banjari dari pondok sini,sudah jamu batu yang di sana saja," kata ustadz Arifin.
Anna keluar dengan membawa nampan berisikan air minum, Faraz menundukkan kepalanya saat Anna keluar.
"maaf mas, Anna hanya bisa membuatkan ini," kata Anna dengan lembut.
"terima kasih Anna, ini juga sudah cukup," jawab Faraz.
malam ini Arkan dan Tasya tak bisa tidur, begitupun mbak Utami karena besok ada acara besar.
mungkin untuk makan mereka sudah pesan catering, tapi untuk kenduri sebelum pernikahan, mereka melakukannya secara mendadak besok.
bukan apa, karena hari ini waktu mereka terkuras untuk pemakaman Niken.
di rumah keluarga ayah Raka, pria itu menatap tajam ke arah Aryan.
"sebenarnya ayah malu harus memarahi mu yang sudah tua ini, tapi kamu keterlaluan aryan, kamu seperti orang yang tak mengenal agama, hingga bisa menyalahkan kemarikan seseorang pada saudara mu hanya karena dia tak melihatnya," marah ayah Raka.
"maafkan Aryan yang khilaf ayah, aku sadar ucapan ku salah," kata Aryan.
"bukan hanya ucapan mu, tapi tingkah mu juga, kenapa kamu malah membuat malu seperti tadi, Tasya sebagai kakak ipar mu sudah berbaik hati menawarkan air minum, tapi kamu ya Allah....salah apa aku ini!!!" kata ayah Raka frustasi.
"sudah ayah, sudah Aryan istirahat besok di rumah kakak mu ada acara besar, kamu datang dan minta maaf, bagaimana pun mereka tetap keluarga mu," kata Amma Wulan.
"iya Amma," kata Aryan yang bergegas tidur.
sebenarnya dia juga seperti orang tak sadar melakukan hal itu, dia pun mencoba untuk melakukan ruqyah pada dirinya.
tiba-tiba dia pun muntah sebuah gumpalan rambut, dia pun bingung melihat itu.
"apa ada yang berusaha memisahkan kami sebagai saudara, aku tak akan menuruti mu," kata aryan.
di sebuah rumah, dia merasa kesal karena sudah ketahuan, padahal tadi adalah tontonan menarik saat Arkan dan Aryan bertengkar.
"ah... memang susah membuat orang seperti mereka ini bertarung hingga mati lewat ilmu hitam, apa aku membuat mereka bertengkar lewat fitnah, ah tapi itu jurang menegangkan, atau buat mereka di massa warga karena fitnah, mm.... itu bisa di pikirkan," kata pria itu tertawa.p
__ADS_1