
suasana terlihat begitu sedih di rumah sakit, Tasya menemani ayu dan Arkan mengajak Alden dan Aiden untuk pulang mempersiapkan semuanya.
mereka pun sampai di rumah, terlihat pak Sugik dan pak Eko sudah ada di sana.
"ya Allah nak... kami turut berduka cita atas kematian mbak mu ya," kata pak Sugik.
Arkan pun meminta bantuan pak RT untuk mengumumkan Kematian Niken.
warga pun berbondong-bondong datang, Arkan juga membantu mempersiapkan semuanya.
jenazah Niken sengaja tidak di mandikan di rumah sakit, untuk bisa di mandikan di rumah duka saja.
Amma Wulan dan ayah Raka datang untuk melayat, Amma Wulan akan membantu untuk memandikan.
tak lama ambulan dari rumah sakit sudah datang, juragan Aris di papah oleh Aryan dan Faraz.
sedang Tasya memegang Ayu yang juga lemas, bahkan Bu Ambar juga langsung membantu Tasya.
suasana rumah sangat berduka, Tasya membantu sang mertua untuk mengurus jenazah.
ayah Raka yang memimpin sholat jenazah untuk Niken, bahkan Aris baru saja menyelesaikan semua permasalahan dengan para korban.
tapi sekarang putrinya juga pergi di panggil tuhan, dia tak mengira akan melihat pemakaman putrinya terlebih dahulu seperti ini.
Tasya dan Amma Wulan sudah berganti baju, dan kini jenazah Niken akan di berangkatkan menuju ke makam.
saat orang lain yang ingin mengangkat keranda mayat itu tak bisa, akhirnya Arkan, Aryan dan Faraz maju tapi masih kurang satu orang.
"siapa yang akan mengangkat tempat satu lagi?" kata Aryan.
"biar saya," kata seorang pria yang berpenampilan begitu tegap.
dia adalah Firza, putra angkat dari juragan Aris, Zahra langsung memeluk bunda ayu, "maafkan kami telat datang bunda dan ayah..."
__ADS_1
ayu langsung memeluk Zahra erat, Firza sempat memeluk Aris sebelum dia membantu tiga pemuda itu mengangkat keranda dari Niken.
keanehan kembali terjadi saat seorang ibu akan menebarkan beras kuning di depan keranda.
beras itu menghitam di tangan ibu itu, semua orang pun saling melihat.
pasalnya dia adalah ibu Edi, salah satu orang kepercayaan dari ayu, melihat keanehan itu.
Tasya melihat sesuatu dengan mata batinnya, dan setelah tau dia pun meminta dengan sopan.
dia membacakan alfatihah sebelum menaburkan beras itu sebagai pembuka jalan.
Arkan dan Faraz saling pandang, "kami akan mencoba untuk mencari kebenarannya Niken, tolong tenang di sana," kata keduanya sebelum mulai melangkah membawa keranda itu ke pemakaman.
"Niken!!!" teriak Ayu yang kembali jatuh pingsan melihat putrinya di bawa pergi.
Firza tak mengira akan mengantarkan adik kecilnya seperti ini, dia datang sengaja setelah mendengar kabar jika Niken kecelakaan.
tapi dia tak mengira jika malah harus seperti ini, Zahra dan Tasya mengikuti ke pemakaman atas perintah Amma Wulan.
ayah Raka langsung memerintahkan beberapa penunggu di makan itu ikut menjaga.
pasalnya kematian Niken bertepatan dengan hari pasaran Jum'at Kliwon dan malam nanti adalah bulan purnama penuh.
yang turun ke dam makam ada Arkan dan dua adik dari Niken, Alden yang mengazani kakaknya itu untuk terakhir kalinya.
suasana tiba-tiba mendung, gerimis mulai turun, Zahra dan Tasya sampai di pemakaman desa dan melihat ada Bu Edi yang duduk di bawah pohon jambu mente di area pemakan paling gelap.
terlihat pohon itu bergoyang cukup kencang,Zahra yang notabene selama ini di luar negri merasa aneh.
sedang Tasya hanya diam tak terkejut, dia pun hanya bisa membaca doa-doa untuk memohon kelancaran.
tiba-tiba pohon jambu mente itu tersambar petir dengan sangat keras dan menegaskan Bu Edi yang tadi berdiri di bawah pohon itu.
__ADS_1
semua orang pun menunduk karena kaget, saat mereka bangun mereka terkejut melihat pohon jambu itu sudah hancur dan terbakar.
"innalilahi!!!" teriak semua orang.
pak RT meminta salah satu dari warga untuk memanggil ambulan dan yang lain melanjutkan pemakaman.
pemakaman usai, Arkan menghampiri istrinya, Tasya berdiri di samping Arkan, "apa yang kamu lihat sayang, tak mungkin pohon itu bisa tersambar petir hingga seperti itu sendiri?"
"aku melihat bu edi seperti berbicara dengan pohon itu, dan aneh saat gerimis ini datang pohon itu terus bergoyang seperti orang senang karena apa yang di tunggunya datang, aku pun membaca doa yang papi ajarkan, dan tak lama pohon itupun langsung tersambar petir hingga hancur," jawab Tasya.
"sepertinya keluarga itu yang tak beres memang," jawab Arkan
mereka pun memutuskan untuk pulang, ternyata di daerah sekitar sana, beberapa warga yang sakit parah tiba-tiba sembuh.
mereka pun langsung berlarian main air hujan dan percaya hujan ini membawa berkah.
"kenapa terasa begitu aneh, mereka sudah tiga bulan lumpuh, tapi kenapa bisa bangun setelah kematian Niken, apa jangan-jangan wanita itu yang membuat semua warga desa sakit," kata seorang pria yang ingin membuat fitnah.
"jangan bicara tanpa bukti, anda telah memfitnah seorang yang sudah tiada, tadi saat Niken sudah meninggal pun mereka tetap lumpuh, kemudia ada seseorang yang baru saja meninggal kenapa tidak curiga padanya?" kata Aslan tak suka nama Niken di jelek-jelekan.
"ah iya mas nya benar, tadi saat mbak Niken mereka hanya bisa duduk di teras rumah, tapi saat Bu Edi kesambet petir dan mati, mereka tiba-tiba bisa bergerak, terlebih alasan Bu Edi lebih masuk akal karena mereka semua yang lumpuh adalah mantan orang kepercayaan juragan Aris yang di gantikan oleh anak-anak dan menantunya," kata pria yang lain.
"nak arkan apa kami bisa selidiki semuanya?" tanya pak Sugik.
"tentu bisa om,tapi aku haus melihat cara mereka sakit terlebih dahulu," kata Arkan.
tak butuh waktu lama mereka pun menemui para pria itu dan Arkan serta Faraz duduk menghadap lima pria dan mulai melihat masa lalu mereka.
ternyata mereka semua sakit setelah minum dan makan sesuatu yang di bawakan oleh Bu Edi.
energi tubuh mereka seperti tersedot hingga tak memiliki tenaga lagi bahkan untuk bergerak keesokan harinya.
tak butuh waktu lama Arkan Faraz sudah dapat jawaban atas.misibah yang kesepuluh orang itu alami.
__ADS_1
"sudah tak perlu dendam pak, yang terpenting anda semua sudah sehat dan tak perlu pusing, sekarang anda semua ingat selalu untuk berdoa dan selalu bersedekah untuk menghindari santet dan kiriman penyakit, terutama pada anak yatim, dan khusus untuk mu pak Kardi, tolong jangan terus menyiksa istri anda, anda tak ingat bagaimana dia merawat anda saat sakit, dan tolong bersikaplah dengan baik, jika tidak mungkin Tuhan yang kan menghukum mu sendiri," kata Arkan yang mengingatkan semu orang itu.
"baik mas..." jawab semuanya.