
Faraz mengendong Lily, Arkan tau jika wanita tua itu memberitahu tentang apa yang di miliki Arkan.
"kenapa masih berdiri di sana, mau tau maka masuklah," kata Arkan pada Faraz
"baiklah, tapi sebenarnya kamu ini siapa?" tanya Faraz heran.
"tenang bung aku hanya makhluk biasa, jika sekarang kamu membunuhku pasti aku mati," jawab Arkan ingin sekali tertawa.
"kamu memang tak pernah serius memang," kata Faraz yang memukul saudaranya itu gemas.
keduanya pun masuk, terlihat Tasya yang masih khawatir, "ada apa Pi?"
"tenang saja, hanya orang tanya, tapi Faraz sudah membuatnya pergi, dan mengingatkan tentang Ari-ari bayi yang belum seminggu," jawab Arkan duduk di sebelah Tasya.
"owh... bukankah sudah di jaga, tapi kenapa masih ada yang ingin menganggunya?" tanya Tasya.
"orang jaman dulu menyakini, jika ari-ari bayi itu sangat di sukai makhluk halus, itulah kenapa di kasih lampu yang terang," kata Ayu.
"iya, Tante benar," jawab Faraz yang menurunkan Lily.
"baiklah, sekarang kami harus pulang, karena sudah cukup lama di sini," pamit juragan Aris.
"baiklah juragan, terima kasih ya sudah mau menjengguk bayi Linga," kata Tasya.
"iya nak, kalian semua sudah sangat membantu keluarga kami, terima kasih," kata Ayu yang juga pamit.
Niken pun akhirnya ikut pulang sedang Faraz masih duduk santai karena dia tak ingin pulang.
dia ingin menginap di rumah ini terlebih dia ingin melihat kondisi dari Azam yang terluka.
karena burung milik Faraz yang mengerti akan tugasnya, karena dia jarang di rumah.
"kamu mau ke belakang?" tanya Arkan.
"iya aku ingin melihat kondisinya, terlebih dia terluka parah bukan, padahal dia sudah ku ingatkan berkali-kali," kata Faraz terlihat marah
dia langsung menuju ke area belakang, tapi saat dia sampai malah melihat Azam yang sedang diam di pojokan dinding.
"kamu mau sedih mau ceria muka mu sana, jangan di buat buruk begitulah,"
Faraz menghampiri makhluk itu, "Azam bagaimana kondisimu, dan kenapa kamu nekat menyentuh tubuh Niken, padahal kamu tau jika kamu menyentuhnya kamu bisa bahaya, seperti saat ini,"
"aku hanya tak ingin melihatnya terluka, terlebih dia jatuh dari lantai dua rumah, jadi aku nekat menyentuhnya, maafkan aku membuat kalian semua takut dan khawatir," kata Azam.
"tak masalah, oh ya bisa tolong jangan kemana-mana beberapa hari untuk menjaga kondisi mu, agar membaik secepatnya," kata Faraz.
"baiklah aku mengerti," jawab Azam.
Niken masih belum percaya dia tak terluka saat kemarin jatuh dari lantai dua, dia berada di tanah dengan selamat.
__ADS_1
"kamu kenapa Niken, kenapa terlihat begitu diam dan termenung seperti itu?" tanya juragan Aris.
"tidak ada ayah, aku hanya sedang berpikiran, bagaimana keadaan dari mas Azam, bagaimana pun dia pernah menjadi bagian hidupku," kata niken.
"hentikan Niken, jangan menyebut nama itu, bunda tidak mau mendengarnya," kata Ayu yang tak suka nama itu di sebut.
mobil pun berhenti, sosok pocong itu tersenyum sedang mbak Kunti di atas pohon juga tak mau kalah.
"ganteng ya, meski udah berumur, hi-hi-hi,"
"Halah udah jadi setan aja masih tau makhluk ganteng," ledek pocong buruk rupa.
"dia cemburu, hi-hi-hi.... dasar pocong jelek .." kata mbak Kunti yang terbang.
tapi tak terduga malah jatuh tersungkur karena belum pemanasan.
brugh....
pocong itu kaget melihat kuntilanak jadi-jadian itu,pasalnya dia satu-satunya setan yang paling tak berguna menurutnya.
pocong itu pun tertawa melihat kuntilanak itu berjalan kaki, "buhahahaha kuntilanaknya kehabisan baterai, pakai cas dong biar canggih," ledek pocong.
"dasar hantu bungkus, mending aku bisa jalan meski belum lancar terbang, timbang situ cuma lompat-lompat doang, hi-hi-hi," saut kuntilanak itu.
Niken pun kini memilih untuk mandi dan merebahkan dirinya di ranjang, entahlah malam ini suasana rumah terasa begitu gerah.
Faraz pun pamit pulang karena di terlalu lama meninggalkan rumahnya, bahkan dia sampai tak memikirkan apapun karena beberapa kejadian ini.
bukan dia tak mau memenuhi tanggung jawabnya, tapi dia mementingkan keluarganya dulu.
Faraz sampai di rumah, dia sempat melihat rumah juragan Aris yang di lantai dua hanya ada Niken yang sedang melamun.
Faraz mencari batu kecil dan melemparkannya pada gadis itu. dia tak ingin Niken kembali kemasukan atau bahkan mengalami hal seperti dulu.
Niken tersadar karena lemparan batu itu, dia melihat Faraz yang sedang berdiri di sebrang jalan.
"ada apa!" teriak Niken pada pria itu.
"nunggu nasi goreng lewat," jawab Faraz.
Niken pun turun, dia sebenarnya masih kesal, tapi kasihan jika Faraz menunggu sendirian.
"aku temani, tapi jadi orang jangan terlalu menyebalkan, kamu begitu mudah berpindah suasana hati, aku bahkan sampai bingung," kesal niken.
"sudah ngomelnya, duduk dulu aku ingin berbicara sesuatu padaku," tarik Faraz.
Niken pun hanya duduk dengan patuh, keduanya pun duduk di sebuah tempat yang sengaja di buat tinggi untuk duduk.
"kamu tau Arkan memiliki ilmu warisan keluarga kami bukan?"
__ADS_1
Niken hanya menganggukkan kepalanya, pasalnya itu memang benar.
"memang kenapa?"
"kamu tau jika ilmu Arkan tak sembarangan?"
"iya tau, jangan muter-muter bikin pusing," kata Niken kesal.
"dia memiliki emosi yang tak terkendali, terlebih setelah kejadian terakhir yang membuat mu hilang ingatan, terlebih kamu juga mengalami hal buruk bukan," kata Faraz
"iya semua orang juga tau, tapi apa maksudnya?"
"kamu tak bisa lagi mengharapkan orang yang bukan jodohmu, jadi ikhlaskan semua itu," kata Faraz menoyor kepala Niken.
"pak Faraz... ucapan mu gak jelas sekali, dari tadi cuma muter-muter ujung-ujungnya sama!!!" marah Niken yang kesal
sedang Faraz tertawa melihat hal itu, terlebih Niken yang sudah terlalu serius untuk mendengarkan.
tak lama ada penjual sate lewat, tapi pria itu buru-buru mendorong gerobaknya.
"bang beli sate," panggil Niken yang terlanjur kesal.
"habis neng," jawab pria itu yang langsung menuju ke area gelap.
"habis, itu sate banyak di bilang habis, kenapa semua orang nyebelin," kata Niken menghentakkan kakinya.
"bukan semua orang, tapi kamu aja yang lagi sensitif, lagi hamil ya?" kata Faraz.
"aduh mulutnya, bukan hamil aku lagi pm-" kata Niken terhenti karena mulutnya di bekap oleh Faraz.
"jangan ngomong hal itu, itu adalah hal kotor, ingat itu," kata Faraz mengingatkan.
Niken pun mengangguk, akhirnya nasi goreng langganan Keduanya lewat, "mang Pur, nasi goreng mawut pedes pakai banget ya," kata Niken.
"aku sama mang, lagi pingin yang pedes-pedes nih," kata Faraz.
"aduh kalian ini kompaknya,"
"huwek..." reaksi keduanya mendengar ucapan penjual nasi goreng itu.
di rumah Adit, bocah itu sedang kebingungan karena kondisi yang nenek dan kakek yang tak mau bangun padahal sudah di panggil dari tadi.
Adit meminta bantuan tetangga tapi tak ada yang mau menolong, akhirnya bocah itu menelpon Tasya.
di rumah, Tasya masih bersama dengan Arkan yang berbincang santai,dia melihat ponselnya berdering ternyata itu telpon dari Adit
"assalamualaikum Adit, ada apa nak?" tanya Tasya lembut.
"mami... tolong Adit, Mbah kung dan Mbah uti Afit gak mau bangun, para warga aku mintai tolong tak ada yang mau menolong," jawab bocah itu terdengar panik dan sedih.
__ADS_1
"tenang nak, papi segera kesana bersama opa," terang Arkan yang langsung menyahut.
tuan Alan dan Arkan berangkat menuju ke rumah Adit membawa sepeda motor.