
tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan jam sate pak Helmi sudah ludes, dan dia pun memutuskan untuk pulang.
tapi baru juga menginjak tanah luar makam keramat itu, dia di kejutkan oleh sosok kera putih.
"beli..." suara kong mengeram marah.
"ah maaf ... sudah habis," jawab pak Helmi.
kong langsung menghilang dan gerobak pak Helmi hancur berkeping-keping.
pria itu kaget, pasalnya gerobak ini yang dia gunakan untuk menjual sate, terlebih gerobak itu juga sudah di mantrai oleh dukun sakti yang di anut oleh pak Helmi.
pria itu pun memungguti uang-uang yang dia dapatkan dari berjualan tadi.
tapi anehnya uangnya sudah berubah jadi daun kering, karena gerobaknya rusak.
hanya uang dari Faraz yang tak berubah, dan malam ini dia hanya membawa uang itu.
Kong sudah berada di kamar Adit dan bocah itu nampak tidur dengan sangat nyenyak.
sedang di tempat lain, Azam seperti biasa sedang melihat sosok dari Niken yang sedang berada di balkon kamarnya.
Azam terus menatap penuh cinta, entahlah tak ada yang bisa menggantikan sosok gadis itu sepertinya.
"hi-hi-hi.... genderuwo lagi galau cin... hi-hi-hi..." kata kuntilanak lemez yang datang ke tempat Azam yang tengah santai.
"berisik sekali, jika kamu ingin mengganggu ku lebih baik pergi sana," usir mahluk itu.
"aduh aduh... si uwo marah, utu utu utu... jangan ngambek gitu, sini kunkun pijitin, gemes deh..." kata kuntilanak itu dengan gemas sendiri.
mendengar ucapan di kuntilanak, Azam ngeri sendiri, terlebih pria itu tak pernah melihat wanita yang begitu menyebalkan seperti Kunti itu.
"hoi... jangan ganggu dia, kamu itu kuntilanak ganjen ya," marah pocong yang ada di pohon pisang.
"idih... jangan ganggu ya, dasar pocong tukang sembur," saut kuntilanak itu sinis.
"heh.... dasar hantu wanita gila!!!" marah pocong itu.
mendengar perdebatan antara tiga mahluk astral itu membuat Faraz kesal.
pasalnya dia harus mengecek beberapa tugas dari muridnya, tapi karena ulah ketiganya dia tak bisa fokus.
di luar masih sangat bising, karena kesal, Faraz yang langsung mengambil sebuah air yang sudah di campur garam krosok.
setelah itu langsung menyiramkan itu ke antara ketiganya, pocong dan kunti pun langsung teriak kesakitan.
sedang Faraz tertawa melihat Azam yang basah kuyup, pasalnya bulunya yang hitam, tebal dan kaku itu tiba-tiba jadi lepek.
"buhahahaha... genderuwo kok lepek,"
"dasar manusia sialan, awas ya aku kerjain besok," kesal azam.
sedang di sebrang jalan Niken merasa aneh melihat pria itu tertawa begitu keras.
"dasar mas Faraz, apa dia melakukan hal gila lagi," gumam Niken.
__ADS_1
ya dia dan Faraz sedikit mulai mengurangi pertemuan, karena Faraz seperti menjaga jarak darinya.
tapi dia tak kecewa, karena dia terus melihat pria itu setiap saat, dan dia yakin jika cinta itu datang dengan seringnya mereka bertemu.
Faraz pun akan masuk tapi dia menoleh ke arah balkon kamar Niken.
gadis itu melambai kearahnya, Faraz hanya tersenyum dan masuk, sedang Niken meleleh melihat pria itu yang selalu suka bertelanjang dada.
****
keesokan paginya Lily dan Adit sudah siap dengan baju joging mereka.
dan sudah di tunggu oleh tuan Alan dan Arkan, ketiganya memang sedang merencanakan untuk joging keliling desa.
"hei nak, kamu tau desa yang itu gak, sekarang semua pasukan yang menjaga desa itu sudah di tarik, karena ternyata penyakit itu tidak menular, tapi sulit di sembuhkan," kata tuan Alan.
"sudah Daddy tak perlu di bicarakan, mereka juga tak akan bisa keluar jauh dari desa itu," kata Arkan.
"baiklah tapi aku masih tak percaya jika di desa masih ada hal seperti ini," gumamnya.
"opa!!! itu ada penjual bubur!!!" teriak Lily dengan semangat
"aduh gadis ini makannya banyak ya, dan lihatlah Adit hanya ikut dengan patuh seperti itu," kata tuan Alan tak percaya dengan semua yang di lihatnya.
"sudah Daddy, kita ikuti saja," jawab Arkan.
mereka pun pesan bubur komplit empat mangkok, tapi melihat ketan hitam, Adit tak menyukainya.
"papi... aku tak usah yang berwarna hitam itu, aku tak menyukainya," terang Adit.
"baiklah, tolong ya pak," kata arkan.
"makasih mas Adit," kata gadis itu senang
tuan Alan dan Arkan pun senang melihat keduanya, karena Lily memiliki pelindungnya sendiri.
sedang di sebuah rumah, pria itu merasa tubuhnya begitu sakit, sepertinya tulangnya patah jadi ratusan.
"bapak kenapa bangun, bapak tiduran di rumah saja," kata sang istri yang tak tega melihat suaminya.
"tutup mulutmu, aku harus ke tempat guru spiritual ku, lebih baik minta putra kita mengantarkan ku," kata pak Helmi.
"tapi Ayus sedang keluar bersama adik-adiknya, dan di rumah tak ada yang lain," jawab Bu Helmi.
"sialan, panggil adikmu untuk mengantarkan aku pergi," kata pak Helmi
"tunggu sebentar, biar aku panggilkan," jawab Bu Helmi.
Wanita itu pun segera memanggil adiknya, dan kemudian pria itu mengantar kakak iparnya menuju ke sebuah desa yang cukup jauh.
dan sesampainya di sebuah rumah, seorang pria sepuh menunggu keduanya di teras rumah.
"kalian sudah datang, aku sudah menunggu dari tadi, ayo masuk," panggil pria itu.
tak butuh waktu lama, mereka pun langsung masuk dan adik Bu Helmi menidurkan kakak iparnya itu di sebuah dipan bambu.
__ADS_1
setelah itu, pria tua itu membacakan sebuah mantra yang terdengar seperti tembang Jawa kuno.
setelah itu terdengar suara tulang patah yang begitu nyaring, dan pak Helmi langsung bisa duduk setelah itu.
"bagaimana kamu bisa ceroboh dengan membuat gerobak yang sudah di mantrai rusak, terlebih kamu membuat raja siluman kera marah," kata dukun tua itu.
"maafkan aku mbah, aku tak tau jika raja siluman itu akan datang, karena kebetulan sate yang aku bawa sudah habis, terlebih ada seorang pria yang membeli untuk siluman peliharaannya," kata pak Helmi jujur
"baiklah, sekarang aku akan memberikan mantra lagi, dan buat gerobak baru, dan ada syarat penting yang harus kamu lakukan, jika tidak kamu bisa kehilangan semua kekayaan mu,"
"baik Mbah apapun," jawab pria itu.
si Mbah pun memberikan kode pada adik ipar dari pak Helmi untuk keluar agar tak mendengar percakapan rahasia mereka.
pria itu pun keluar rumah dia kaget karena tiba-tiba sudah malam dan gelap padahal dia ingat betul tadi masih siang terang.
tapi dia tak memperdulikan itu dan memilih merokok, baru juga menyalakan rokok miliknya.
di teras rumah itu terlihat dua anak kecil berlarian, "hei bocah, bukannya tidur malah lari-lari gak jelas," tegur pria itu.
tapi dia bocah itu menoleh dan menyeringai, tiba-tiba bola mata mereka hilang dan terlihat berlubang dengan belatung.
melihat itu dia sontak kaget dan bergerak mundur, tapi saat dia ingin masuk kedalam rumah pintu itu terkunci.
"tolong mas, tolong!!!" teriaknya sekeras mungkin.
"he-he-he.... ayo main om," kata kedua bocah itu.
karena kaget, reflek dia tak sengaja menendang kepala salah satu bocah dan langsung putus dan mengelinding.
"wah om mainnya kasar ya," kata bocah yang mengambilkan kepala temannya.
tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih lewat, "hi-hi-hi..." suara tertawa itu sangat nyaring.
dan berhasil membuat pria itu merinding sepenuhnya, dan sosok putih itu kini duduk di teras pagar yang terbuat dari bambu yang tingginya semeter itu.
"ya Allah.... tolong aku..." kata pria itu ketakutan.
pak Helmi yang sudah mendapatkan semua persyaratan yang harus di ikuti pun keluar.
dia pun bingung melihat adik iparnya berteriak-teriak tak jelas, dan kurang ajarnya dia tidur pas di tengah Blandar tengah rumah.
"hei nyok, bangun nyok, masih pagi usah nginggo dasar kamu ini," marah pak Helmi menendang-nendang adik iparnya itu pelan.
Mbah dukun itu mengambil air dan menyiramkan ke wajah pria itu, "tolong mas..... ada Kunti!!!" teriaknya yang terbangun.
"dasar kebo, kamu ini tidur atau mati, sudah ayo pulang, bikin malu saja," kesal pak Helmi.
dia sudah siap untuk melakukan ritualnya malam ini, dan akan menjual daging yang lebih spesial.
karena dia bisa makin kaya jika menjual sate itu, tapi hanya pada bulan-bulan tertentu.
selama perjalanan pulang keduanya tak mengalami kendala yang berarti, sedang arkan dan tuan Alan sedang membantu sebuah kecelakaan yang terjadi.
melibatkan sebuah mobil dan sepeda motor, pengendara motor itu tewas terjepit bodi mobil yang melindasnya beserta sepeda motor yang ditumpanginya.
__ADS_1
Lily melihat arwah itu, tapi Afit mengenggam tangannya, "jangan melihatnya, berpura-pura tak melihatnya, dan jangan dengarkan dia ya dek," kata bocah itu.
"iya mas..."