Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
liburan atau apa ini?


__ADS_3

keesokan harinya, semua sudah siap saat Arkan, Faraz dan afit masih lelap tidur.


"ya Tuhan... papi, Adit ayo bangun dan mandi kita harus berangkat ke Bali sekarang untuk liburan," panggil Tasya.


"hah.... kenapa ke Bali sih? bukannya kemarin rencananya ke malang saja ya?" tanya Arkan yang bangun.


"eh iya ya, ya Taulah mau liburan kemana, ikut saja sih," kata Tasya tersenyum.


"baiklah biar aku mandi bersama Adit sebentar," kata arkan yang langsung mengendong putranya itu ke kamar mandi.


Adit masih terlihat lelap, entah apa yang di lakukan Arkan hingga putra mereka pun terbangun dari tidurnya.


Adit masih kedinginan begitupun dengan Arkan, mereka pun naik ke atas Elf.


kini mereka menuju ke area pantai gemah, Tulungagung. karena mbak Utami ingin pergi ke sana.


selama dalam perjalanan menuju ke tempat itu, Faraz merasa ada yang tidak beres, tapi dia tak tau apa yang akan terjadi.


Amma melihat Faraz yang begitu banyak pikiran pun mengejutkan pria itu, "apa yang sedang kamu pikirkan?"


"tidak tau Amma, ada sesuatu yang mengganjal tapi aku tak tau apa itu," jawab Faraz.


"sudah berdoa saja, dan lihatlah baby Linga begitu nyaman di pelukan mu," kata Amma Wulan.


"iya amma, aku sedikit heran ini kenapa malah pengantinnya yang bukan pergi cuma berdua malah mengajak kita semua pergi," kata Faraz heran.


"ini cuma liburan biasa, karena mereka berdua ingin menghabiskan waktu bersama kita semua, oh ya semalam kalian pulang jam berapa? kenapa Adit dan Arkan terlihat begitu lelah, lihat dari tadi mereka tetap tidur seperti itu?"


"ya pantes Amma, kami pulang pukul dua pagi, mungkin mereka kelelahan," jawab Faraz.


Amma Wulan pun mengangguk, setelah tiga jam perjalanan, mereka pun sampai di pantai itu.


ternyata cukup ramai, Aryan dan Faraz membantu mengelar tikar yang mereka bawa.


setelah di gelar, mereka pun segera duduk bersama, Lily, Husna dan Aluna sudah tak sabar ingin main.


sedang Adit yang baru bangun masih duduk diam bersama Anand.


"mas Adit ayo main," ajak anand.


"aku mau makan dulu, aku tadi belum sarapan," kata Adit.


"ya maafkan papi ya sayang, tadi kamu jadi terpaksa mandi karena papi mu," kata Tasya yang memberikan nasi pada Adit.


"tidak apa-apa mami, karena ini juga salah Adit yang tidak bisa bangun," jawab bocah itu.


mereka pun makan dulu, Aryan sudah membawa para anak gadis bermain duluan.

__ADS_1


"Tasya, dan Arkan kalian main saja, biar amma dan ayah yang jaga di sini bersama baby Linga, karena ini liburan untuk kalian," kata Amma Wulan.


"tapi Amma, nanti merepotkan," kata Tasya tak enak


"tidak apa-apa, lagi pula kapan lagi kalian bisa main di pantai begini, biar kami yang menjaga Linga," tambah ayah Raka.


"baiklah ayah, jika itu mau kalian," kata Faraz.


Adit dan Anand sudah melepas pakaian mereka dan mulai berlari ke laut bersama Faraz yang juga sudah berganti baju.


tak lupa mereka semua memakai pelampung yang memang baru di beli.


jadi mereka berenang tanpa takut, Aryan pun sejenak melupakan segalanya begitupun dengan Aryan dan Arkan.


kenapa bocah itu pun berlarian di pinggir pantai, edan Tasya juga bermain air bersama Arkan.


sedang mbak Utami duduk di pinggir pantai sambil menikmati ombak bersama tuan Alan.


"istriku. apa kamu ingin naik kapal?" tanya tuan Alan dengan suara lembut


"aduh mas, panggilan mu membuat ku gemetar, tentu mau ajak mereka juga," kata mbak Utami


"kalian semua, ayo kita naik kapal, biar bapak yang sewakan," panggil tuan Alan.


"terima kasih opa!!" teriak mereka berlima.


sedang ayah Raka dan Amma tengah membahas tentang masalah Faraz dan Adi.


"jadi Amna, kita ini seharusnya bagaimana, kita teruskan saja, tapi mungkin Adi bisa berbuat nekat, atau kita urungkan niat untuk melanjutkan pernikahan Faraz dan Anna, karena mungkin ini bukan jodoh mereka," kata ayah Raka.


"tapi ayah, kasihan Faraz yang harus terluka lagi, setelah semua yang dia alami," kata Amma Wulan.


"tapi aku tak ingin kehilangan putra ku itu Amma, kamu tau bahkan Adi berani meminta bantuan Ki Arya untuk menyantet Faraz, tapi beruntung keluarga kita masih baik-baik saja," kata ayah Raka.


"sudah ayah, kita ikuti alur yang berjalan saja," jawab Amma Wulan.


di pondok pesantren milik ustadz Arifin, Anna sedang berada di perpustakaan untuk melihat beberapa buku yang akan di gunakan untuk mengajar.


sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, ternyata itu adalah pesan dari Adi.


'bisakah kita bertemu untuk terakhir kalinya? aku ingin memberikan sebuah hadiah ucapan selamat, dan tentunya ini harus aku serahkan sendiri padamu,' isi pesan itu


'baiklah, kita bertemu di tempat biasa ya,' balas Anna.


dia tak menaruh sedikitpun kecurigaan terlebih Adi juga sepupu dari calon suaminya.


dia pun berangkat bersama adiknya Kalila, gadis itu pun kaget saat di ajak ke kafe dan menemui Adi.

__ADS_1


"mbak... kenapa malah ke tempat begini, nanti kalau ketahuan Abi, beliau bisa marah terlebih menemui mas Adi," kata Kalila panik.


"sudah Kalila, selama kamu tidak memberitahu Abi, beliau tak akan tau, jadi diam dan jangan panik seperti itu," kata Anna.


mereka pun duduk bertiga di meja restoran, Adi tak mengira jika Anna akan membawa adiknya itu.


"assalamualaikum mas, ada apa meminta ku ke sini, tolong cepat karena aku tak ingin terjadi kesalahpahaman," kata Anna.


sedang Kalila terus menunduk karena tak berani melihat pria di depannya itu.


"ini hadiah untuk mu, oh ya ini aku sudah pesankan makanan untuk kalian, dan Anna maaf karena ketidakmampuan ku membujuk Abi mu, hingga kamu harus terpaksa menikah dengan Faraz," kata Adi.


"maaf mas Adi, anda salah, aku tidak terpaksa, ini keinginan ku terlebih setelah sholat istikharah yang aku lakukan yang membuat ku mantap memilih mas Faraz sebagai imam ku," kata Anna yakin.


"kamu begitu percaya diri, padahal beberapa bulan lalu kamu masih meminta ku untuk berjuang lagi, tapi ya... aku memang tak sebaik Faraz, ah sudahlah sekarang kalian makan saja dulu," kata Adi.


Anna dan Kalila pun makan, tapi jilbab dan cadar Kalila terkena saus hingga gadis itu undur diri.


"permisi ke toilet sebentar,"


saat Kalila pergi, Adi melakukan rencananya, dia melihat Anna yang pingsan setelah makan.


dia pun membawa tas dan dan wanita itu naik ke lantai tiga ruko itu.


ya restoran ini adalah milik Adi, dan dia sengaja melakukan ini demi bisa memiliki Anna, terlebih dia juga sudah mundur dari kesatuannya.


Kalila yang keluar dari kamar mandi heran tak menemukan kakaknya dan juga Adi, apa dia di tinggalkan,apa Anna sengaja menjebaknya.


pikiran-pikiran itu terus berputar di kepala Kalila, "permisi mbak, dimana pengunjung yang ada di meja itu?" tunjuk Kalila pada meja kosong bernomor lima itu.


"mereka sudah pergi, ini pesan untuk anda," kata pelayan itu memberikan secarik kertas.


Kalila pun membuka kertas itu dan kaget melihat isinya, yang ternyata sebuah pesan untuk dia pulang sendiri.


"mbak Anna, kenapa kamu membawaku dalam masalah seperti ini..." tangis Kalila lirih.


dia takut untuk pulang, terlebih itu adalah sebuah surat yang menyatakan jika Anna kabur bersama dengan Adi karena mereka saling mencintai.


Kalila pun langsung bergegas pulang untuk mengatakan semuanya pada sang Abi.


sedang di lantai tiga itu, Adi tersenyum melihat Kalila yang sudah pergi.


sekarang di kamar itu hanya ada dia dan Anna, bahkan jilbab wanita itu sudah terlepas dan nampak wajah yang begitu cantik dan indah.


"hari ini, kamu milikku Anna, aku memang tak bisa memiliki mu karena Abi mu menolak diriku, tapi dia tak akan bisa menolak ku saat kita sudah melakukan hubungan suami istri bukan, maaf karena aku memilih jalan ini demi menahan mu tetap di sisi ku, bukan di sisi sepupuku," kata Adi yang tersenyum menyeringai.


dia pun menutup tirai dan menyalakan lampu, dan meminta para anak buahnya tidak naik.

__ADS_1


dan yang lebih menguntungkan kamar itu dengan sengaja di buat kedap suara.


__ADS_2