Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
bertemu Anna


__ADS_3

Niken terpaksa berangkat ke pondok karena suruhan dari ayahnya, untuk memberikan uang yang biasanya di berikan pada pondok itu.


"ada apa? kenapa sih aku ayah?"


"sudah Niken, jarang-jarang kamu bantuin ayah, jadi gak papa ya," kata juragan Aris pada putrinya itu.


"baiklah ayah, kalau begitu nanti Niken bawa sekalian berangkat ke sekolah," kata Niken yang sedang sarapan.


dia sebenarnya bukan tak mau memberikan uang itu, terlebih dia tau jika calon istri dari Faraz itu anak dari ustadz Arifin.


Niken pun sampai di pondok pesantren milik ustadz Arifin, dia pun langsung menuju ke area kantor pondok.


"assalamualaikum... permisi apa ada ustadz Arifin," salam Niken melihat semua orang di ruangan itu.


"waalaikum salam... iya mbak ada apa mencari Abi?" saut Kalila yang memang sedang berada di ruangan itu.


"ah, anda siapa? aku hanya di minta ayah ku untuk memberikan ini pada ustadz Arifin," kata Niken.


gadis itu tersenyum, "silahkan masuk, Abi sedang keluar dengan mbak Anna, mau menunggu atau bagaimana?"


"tidak usah, aku harus segera mengajar ke sekolah, tolong bilang ini ada sedikit titipan dari juragan Aris," kata Niken.


dia belum siap bertemu dengan Anna, gadis yang menjadi pilihan dari Faraz.


Kalila pun menerima uang itu dan saat Niken akan pergi, dia malah berpapasan dengan Anna dan ustadz Arifin.


"loh nak Niken," kata ustadz Arifin.


"iya ustadz, halo Anna," sala Niken.


"iya mbak, bagaimana kabar anda, apa Semuanya baik?" tanya Anna sopan.


"Alhamdulillah baik mbak, ustadz Arifin saya di minta Ayah mengantarkan sesuatu, sudah saya titipkan ke putri anda di dalam," kata Niken.


"ah iya, tadi ayah mu juga sudah menrlpon ku, terima kasih ya nak," kata ustadz Arifin.


Niken pun mengangguk dan bergegas pamit, dia tak ingin melihat Anna terlalu lama, terlebih dia takut jika melakukan hal buruk pada wanita itu.


Anna menyadari jika gadis itu seperti menghindarinya, "kamu menghindar dariku Niken?"

__ADS_1


langkah kaki Niken terhenti dan berbalik, "apa? kenapa aku harus menghindari mu mbak, kamu susah ku anggap sebagai saudaraku jadi tidak mungkin aku menghindari mu," jawab Niken tersenyum.


"karena mas Faraz, pria yang mungkin saling kita cintai, pria yang mungkin tanpa sadar telah menyentuh hatimu dengan sikap dan perilakunya, pria yang selalu menolong dirimu," kata Anna.


Niken tersenyum sambil menggeleng, "kamu salah sangka, aku tak mencintai dia, bagaimana bisa aku mencintai pria kaku dan ceroboh itu, aku hanya menganggapnya sebagai kakak ku," jawabnya dengan berbohong.


"terima kasih, sekarang aku yakin jika aku tak akan melukai wanita lain saat aku menikah," kata Anna memeluk tubuh Niken.


sedang Niken tersentak mendengar itu, serasa dia baru saja melakukan kesalahan-kesalahan besar.


kenapa dia tak mengakui saja, apa dia bisa memiliki Faraz seharusnya ucapannya tadi tak dia lontarkan begitu saja.


dia pun pamit pada semuanya karena dia harus segera ke sekolah karena dia tak boleh bolos karena baru mengajar.


ustadz Arifin sebenarnya sadar, tapi ini adalah takdir yang memang tau bisa di bantah karena semua sudah di atur oleh yang maha kuasa.


Niken pun segera menuju ke sekolah, sedang di rumah Tasya, pagi ini Lily sedang ngambek karena Arkan tak menelpon.


"jadi kamu mau sekolah atau tidak?" tanya Adit yang sudah siap dengan seragamnya.


"tidak aku tak ingin ke sekolah, aku ngambek," jawab Lily dengan memasang wajah cemberut.


"baiklah, aku tak akan memaksamu dan ingat aku tak suka orang yang suka bolos sekolah," kata Adit yang berangkat dengan mbak Utami.


selama dalam perjalanan, Adit terus diam tak ingin membuka pembicaraan.


"Adit marah ya le, tapi Lily masih kecil jadi tak apa-apa kaldu bolos," kata mbak Utami.


"kalau bisa jangan Spain hal itu dua lakukan, karena dia bisa menganggapnya sebagai hal yang bisa di maklumi, jika dia kebanyakan bolos dan jadi jodoh itu tak etis," kesal Adit.


mbak Utami serasa di tampar dengan ucapan bocah itu, pasalnya Adit begitu pas saat mengatakan segalanya.


sesampainya disekolah, Adit berjalan dan tak sengaja mobil Niken hampir menyerempet dirinya.


"dasar ceroboh, jika kamu berkendara seperti itu sudah pasti bisa membunuh mu dengan mengenaskan, dasar..." kata Adit dengan kesal melihat mobil itu.


dia sampai di kelas miliknya, dan Niken memarkirkan mobil miliknya, dan langsung ingin menuju ke kelasnya.


botol air minum milik Niken tak sengaja jatuh ke kolong mobil, dan begitupun dengan semua kertas yang berserakan di dalam mobil.

__ADS_1


Adit langsung duduk dan membaca buku untuk mengalihkan semua pikirannya yang entah begitu liar.


bukan memikirkan hal kotor, melainkan dengan pikiran seburuk ini juga tak membantunya belajar dengan fokus,


kelas satu pun mulai masuk bersamaan dengan kelas yang lain. Adit pun mengikuti kelas dengan sangat fokus.


di rumah Lily sedang merasa takut jika Adit tak mau mengajak dirinya untuk berbincang.


terlebih Lily tau bagaimana Adit yang memang memiliki karakter yang keras.


"ada apa Lily?"


"mami... Lily menyesal telah bolos, nanti kalau mas Adit marah pada Lily bagaimana?" tanya gadis kecil itu.


"ini pilihan Lily, jadi Lily harus menerima semua konsekuensinya, memang Adit pernah marah sama Lily?" tanya Tasya heran pada putrinya itu.


"tidak mami, tapi Lily takut saja karena tadi mas Adit terlihat begitu kecewa pada ku," kata Lily yang sudah ingin menangis.


Tasya pun merangkul putrinya itu, "sudah nak, jangan sedih nanti jika mas Adit marah, Lily bujuk saja, karena dua tak mungkin bisa marah terlalu lama dengan mu,"


"iya mami," jawab gadis itu.


mereka sedang duduk dan main di depan rumah, mereka sedang menunggu pedagang yang biasanya lewat.


karena ini adalah jam nyemil siang, dan Lily ingin makan pentol katanya, jadilah sekarang mereka ada di teras.


tak lama ada mbak Utami yang pulang membawa Sempol yang tadi di beli di toko samping sekolah Adit dan Lily.


"kalian sedang apa?" tanya wanita itu.


"hanya sedang menunggu pedagang cemilan, maklum gadis cantik ini lapar dan mau nyemil siang katanya, kok mbak Utami baru pulang jam segini?" tanya Tasya.


"aku tadi ke rumah sebentar dan lihat Tante bawa Sempol, sekarang kita goreng yuk Lily," ajak wanita itu.


"baiklah Tante," jawab gadis itu.


kembali ke sekolah, Adit bisa nrkihat jika wajah dari Bu guru terlihat makin pucat.


Adit yang melihat pun memutuskan untuk bertanya, "apa ibu guru sakit?"

__ADS_1


"tidak Adit, ibu tidak sakit, hanya sedikit gerah saja, baiklah ingat untuk mengumpulkan tugas kalian saat lusa, dan seandainya ada satu yang tidak mengumpulkan maka kalian semua di hukum untuk berlari mengelilingi lapangan sepuluh kali," kata guru itu.


"itu kejam!!!" teriak semua murid.


__ADS_2