
Faraz pun berada di dalam rumah untuk membahas apa yang harus pria itu lakukan selama dia tak ada.
"sepertinya beberapa hari lagi ada sedekah desa, apa tak jadi masalah saat kami melakukannya?" tanya pria itu.
"tentu saja tak masalah, memang acara itu akan di adakan di mana, kalau di adakan dekat gapura desa itu tak berguna, lebih baik tempatnya di titik tengah desa," kata Arkan pada saudaranya itu.
"tapi aku belum tau itu dimana, terlebih, semua orang sudah lama tak melakukan hal itu di desa ini," jawab Faraz.
Arkan pun mencoba melihat, ternyata titik tengah desa ini adalah rumahnya, "sepertinya aku harus meminta mu memotong kambing satu ekor untuk sedekah desa, dan ternyata ruangan ini adalah titik yang paling tepat," kata Arkan.
"apa? pantas saja saat ini semua makhluk milikmu merasa nyaman tinggal di rumah ini," kata Faraz.
"sudahlah, terpenting sekarang kalian harus mulai dan ingat mas, tolong jaga istriku dan anak-anak ku, terutama Adit," pesan Arkan.
"kenapa? bukannya yang memiliki warisan dari keluarga kita itu adalah Lily?"
"iya, tapi Adit lebih berbahaya jika bocah itu tak di awasi dan di beritahu mana yang baik dan buruk," jawab Arkan.
"baiklah, aku berjanji akan menjaga mereka bertiga," jawab Faraz.
Lily dan Adit baru saja pulang dari tempat teman ngaji mereka yang Yafi mengadakan acara ulang tahun.
"assalamualaikum mami...." sapa Lily dengan ceria.
sedang Adit tersenyum sbil mencium tangan Tasya, "waalaikum salam nak, aduh baju mu kenapa Lily?"
"emm..."
"tadi Afit tidak sengaja mengejutkan Lily dan membuat Lily menjatuhkan kuenya, maaf ya mami..." kata Afit melindungi Lily.
"yakin kamu nak, bukan Lily ceroboh," saut arkan yang datang bersama Faraz.
"tidak papi, ini memang salah Adit," jawab bocah itu.
"tuh salah mas Adit, sekarang Lily mau naduk dulu ya," pamit gadis itu berlari mengajak Adit.
Faraz pun mengeleng, "Lily bisa makin manja dan ketergantungan jika Adit selalu melindungi dirinya," gumam pria itu
"iya, tapi aku juga tak mengira jika Afit akan selalu bersikap seperti itu pada Lily, padahal aku sudah menasehatinya," terang Arkan.
"sudah papi, tanpa kalian ketahui Adit bisa membuat Lily menurut dan memiliki kebaikan, mami pernah melihatnya sendiri," kata Tasya.
siang itu keduanya batu saja pulang dari sekolah, Lily yang biasanya tak pernah merapikan sepatunya di rak.
sekarang melakukannya, dan juga sudah mau bertanggung jawab atas semua tugas sekolah tanpa harus Tasya mengingatkan.
"lily... bisa tolong mami belikan garam dan sabun cuci piring di toko Bu Endang,"
"boleh mami," jawab Lily yang menerima uang itu dengan senang hati.
"mami... boleh aku menemaninya, aku takut Lily jatuh atau apapun itu?" mohon Adit.
__ADS_1
"baiklah, dan tolong jaga adik mu ya mas," kata Tasya tersenyum pada Adit.
ternyata Adit mengikuti Lily dari kejauhan, dia hanya mengawasi dan melindungi adiknya itu.
Arkan dan Faraz pun tersenyum, "baguslah, setidaknya Lily bisa bertanggung jawab atas apa yang di minta lakukan, dan keputusan benar mengangkat Adit ya mami,"
"iya papi, kalian ngomong-ngomong mau kemana? ini hampir Magrib loh," tanya Tasya.
"kamu ingin ke tempat pak lurah dulu untuk membahas tentang sedekah desa, kamu baik-baik di rumah ya," pamit Arkan mencium kening Tasya.
"iya, kalian juga," jawab Tasya.
Adit keluar setelah ganti baju dan membawa buku gambar miliknya, "mami duduk di sini, biar Adit coba lukis,"
"benarkah, tapi mami ajak adek Linga dulu ya, sebentar," pamit Tasya.
Adit yang masih melukis di buku miliknya melihat sosok yang tersenyum dari jendela.
"Tante pergilah, jangan membuatku memanggil penjaga rumah ini, kamu bisa menakuti adik-adik ku," kata Adit terdengar dingin.
"tidak mau, aku mau bayi itu," jawab sosok mbak Kunti itu.
Adit pun memanggil Kong, siluman itu langsung membawa sosok itu pergi.
Adit pun berjalan ke dapur mengambil garam krosok dan menaburkannya di sekitar rumah.
"semoga tak ada yang bisa menganggu adek Linga, terutama para Tante-tante berbaju putih itu," kata Adit yang melihat keatas pohon. begitu banyak kuntilanak yang sedang melihat ke arah rumah.
tapi Adit tak ambil pusing dia pun masuk, ternyata Lily sedang membaca buku di temani oleh Tasya.
"aku dari depan sana, sudah mas mau melanjutkan gambar saja," jawab Adit duduk di ruang tengah.
sedang tuan Alan tadi sore pamit untuk membeli semua kebutuhan yang akan mereka bawa ke Singapura,
karena baginya rasa semua masakan sudah cocok untuknya, jadilah dia membeli beberapa jenis makanan instan yang sekiranya di Singapura tidak ada.
tak sengaja tuan Alan menabrak seseorang, "ah maaf.... aku sedikit melamun,"
"aduh mister anda lagi," kata mbak Utami yang juga membeli beberapa kebutuhan dasar.
"sepertinya kita jodoh," kata tuan Alan.
"ha-ha-ha-ha, kau gila ya, bagaimana bisa jodoh lagi pula aku tak suka dengan mister,"
"yakin , padahal aku dan putriku sangat menyukai mu, memang kenapa kamu sepertinya sangat trauma pada laki-laki," tanya tuan Alan.
"aku dulu terluka sangat parah, dan hampir saja meninggal, tapi beruntung keluarga arkan sangat baik,"
"aku akan pergi ke Singapura bersama dengan Arkan, aku harap saat aku kembali kamu bisa menerima ku, aku memang bukan pria yang baik, tapi setidaknya jika aku mencintai dan menyukai seseorang, aku akan menjaganya sampai akhir nafas ku, seperti halnya mama dari Tasya," kata tuan Alan
mbak Utami diam, dia pun melihat kearah pria itu, pria itu terdengar sangat meyakinkan.
__ADS_1
"baiklah, aku akan memberikan jawaban ku tentang semua pertanyaan ini," kata mbak Utami yang tersenyum ke arah pria itu.
seperti ucapan yang di katakan Wulan, semua orang pasti mendapatkan kesempatan kedua.
dan mungkin ini adalah takdir Allah untuk mbak Utami, bertemu dengan tuan Alan.
keesokan harinya, Arkan dan tuan Alan akan berangkat ke bandara Juanda Surabaya.
tapi sebelum itu mereka berpamitan, mbak Utami datang dengan buru-buru.
"tunggu mas, ini untuk mu," kata mbak Utami yang memberikan sebuah bingkisan.
"apa ini?" tanya tuan Alan tersenyum.
Tasya dan Arkan tak mengira jika panggilan itu berubah, "hanya kue kering kesukaan ku dan juga ada goreng kentang ya setidaknya untuk Arkan agar tak kesulitan makan di sana," kata mbak Utami.
"ha-ha-ha, tenang mbak aku tak mungkin kelaparan, tapi sambel goreng kentang kering itu kesukaan Daddy," terang Arkan tertawa.
mbak Utami pun malu, "baiklah aku tunggu jawaban mu saat aku kembali," bisik tuan Alan.
mbak Utami tersenyum malu, dan melihat Keduanya pergi dengan di antar oleh Faraz dan Aryan.
"jadi langsung tidur di sini, atau mau ambil baju dulu ibu?" tanya Tasya tersenyum.
"aduh jangan panggil begitu, kebetulan aku sudah bawa baju," jawab mbak Utami yang menunjuk sepeda motornya.
"baiklah kalau begitu ayo masuk," jawab Tasya mempersilahkan.
Adit dan Lily di sekolah, mereka juga sudah pamitan tadi dengan papi dan opa.
di sekolah terlihat begitu terik, hari ini memang panas, Lily terlihat begitu lemas.
"kamu sakit dek?" tanya Adit.
"aku tidak sakit mas, hanya haus dan malas beli keluar kelas karena panas," jawab gadis kecil itu.
"baiklah biar mas belikan, jus jeruk atau minta apa?" tanya Adit dengan lembut.
"mau es pop rasa leci," kata Lily dengan semangat.
"baiklah, aku berangkat beli dulu ya, kamu duduk manis di sini ya dek," kata Adit.
semua siswi terlihat iri dengan perlakuan dari Adit yang begitu manis pada Lily.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
halo semuanya...
maaf ya beberapa hari ini author memang sedang sibuk dan ide sedikit ngeblang...
hati sedang lelah, tapi insyaallah sebisa mungkin author kasih crazy up ya...
__ADS_1
tapi jangan lupa, ayo like, komen dan vote semua karya author ya...
love you 😘😘😘😘