
Niken pun merasa kehilangan sudah beberapa hari ini dia tak melihat Faraz.
pria itu biasanya akan berada di balkon setelah berolahraga sambil menikmati kopi.
tapi ini sudah beberapa hari tak kelihatan batang hidungnya, dia hanya bisa menghela nafas panjang sambil melihat rumah sebrang, "Niken ayo turun nak, kita sarapan," panggil ayu.
"iya bunda," jawab gadis itu.
Niken pun turun dan kaget melihat dua adiknya, "lah kalian pulang, bukannya gak ada hari libur ya?"
"memang gak boleh ya," jawab Alden.
"aduh ketusnya sekarang, makin besar kalian sudah bisa menjawab kakak dengan berani ya," kata Niken yang duduk di kursinya.
"sudah ayo sarapan jangan berantem terus, ayah mau ke tempat arkan untuk setor gabah, barangkali ada yang mau bantu atau ada yang mau ikut?" tawar Aris
"gak ah, aku mau melanjutkan membuat skripsi ku, ya tuhan ... dosen pembimbingku resek sekali, masak skripsi di coret, yang bener saja," kata Niken dengan kesal.
"memang siapa dosen pembimbingnya?" tanya Ayu lembut.
"bapak Sarfaraz Rafasya Noviant, beh... dosen paling killer dan paling judes di kampus, pantes belum nikah di usianya," kata Niken kesal.
"wah padahal para santriwati di pondok sering curi pandang kalau mas Faraz main ke pondok loh," jawab Aiden.
"bukannya kalian yang jadi incaran saat di pondok, siapa sih yang gak mau sama anak juragan kaya dan tampan seperti kalian berdua," ledek ayu.
keduanya memang menurun wajah bule dan mata biru dari keluarga Aris.
itulah kenapa makin membuat dua bocah itu tampan dan terlihat spesial.
"mbak stresnya kambuh ya, kami masih MA baru masuk juga, harus belajar terus sampai jadi orang sukses," saut Alden.
"kalian ini ya, baru juga kumpul sudah protes sana sini, bikin ayah pusing, sudah ayah berangkat dulu ya bunda, baik-baik di rumah," pamit Aris mencium pipi istrinya.
"seharusnya bunda yang bilang, hati-hati ya ayah, jangan nakal jika tidak hilang tuh si Joni," kata Ayu dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"beh, investasi masa depan ku ini bunda," kata Aris yang tertawa.
sedang untuk ketiga anaknya sudah terbiasa melihat tingkah ayu dan Aris yang selalu mesra.
kini Niken duduk di balkon sambil menunggu siapa tau pria tampan itu pulang, karena dia belum bisa beraktivitas normal jika belum melihat Faraz.
ternyata motor pria itu datang, tapi dia terlihat buru-buru untuk mengambil sesuatu, kemudian langsung pergi lagi, Niken merasa aneh dengan tingkah pria itu.
Niken pun memutuskan untuk main ke tempat Tasya dengan alasan kepingin bertemu Lily.
siang itu Niken memutuskan untuk ke rumah keluarga Arkan, tapi dia malah terkejut saat melihat seorang pria asing, tapi Niken lihat wajahnya mirip Tasya, sepertinya itu memang ayah Tasya.
"permisi mister, bisa bertemu dengan mbak Tasya dan si cantik Lily?" tanya Niken sopan karena pria itu sedang melakukan workout.
"mereka berdua sedang berada di rumah Raka, memang ada apa mencari putri dan cucuku?"tanya pria itu
"aku adalah kenalan dan teman mereka, aku hanya ingin main bersama Lily, baiklah jika mereka ada di sana, kapan-kapan saja aku main kesini lagi," kata Niken.
tuan Alan hanya mengangguk, Niken pun buru-buru pulang jika tidak pasti Aris akan berpapasan dengannya.
pasalnya kalau mengingat cara kerja ayahnya itu, Aris akan kirim ke penggilingan beras paling dekan dulu baru paling jauh.
itulah kenapa dia harus segera pergi, Niken pun memutuskan untuk membeli jajanan di SD sebelum pulang.
Niken membeli dadar gulung, cilor dan cilok, entahlah dia selalu kalap kalau melihat jajanan seperti ini.
Niken pun pulang menuju ke rumah dan akan menggangu kedua adiknya saja.
**********
Arkan dan Faraz tak membiarkan mereka hidup tenang setelah menghancurkan Aryan, pasalnya adik mereka sudah menjual dua toko besar miliknya yang ada di kawasan pasar legi.
toko sembako itu adalah penghasilan paling besar dari Aryan, tapi demi wanita seperti Nayla dia merelakannya.
beruntung bengkel mobil dan motor miliknya belum ikut terjual, jika itu sampai terjadi mungkin arkan bisa membuat mereka mati dalam satu malam.
__ADS_1
"kamu siap? dan sudah yakin?" tanya Arkan.
"yakin dong, mereka itu keluarga tak tau malu, setelah menghabiskan uang Aryan mau pergi begitu saja, terlalu enak hidupnya," jawab Faraz.
pasalnya kini di tangan mereka sudah ada perjanjian yang mengatakan jika kedua orang tua dari Nayla menyerahkan sawah mereka pada Aryan.
sebagai jaminan hutang, tapi ke-lima sawah itu tak bisa menutupi dua toko yang sudah di jual oleh Aryan.
bahkan nilainya tak ada separuhnya, itulah kenapa Faraz dan Arkan marah dan berniat mengambil sawah yang mereka janjikan.
jika tidak semua urusan ini akan panjang, saat kedua pria itu duduk, ayah dari Nayla sudah tau saat Faraz meletakkan map di meja.
pria itu langsung mengambil enam surat sawah yang dia miliki, "ini sertifikat sawah, dan sekarang itu menjadi milik nak Aryan, saya berterima kasih sudah mau membayarkan hutang kami yang begitu banyak," kata pria itu.
"seharusnya kalian lebih mengendalikan putri kalian, memang kurang apa adik kami, dia bahkan rela menjual segalanya demi kalian tapi balasan kalian begitu buruk, sebuah luka yang menghancurkan dirinya," kata Faraz yang menatap pria di depannya.
sedang Arkan memastikan jika semua surat-surat itu sah, "oke sertifikat ini kami bawa, maaf aku tak mau melihat adikku miskin karena membantu keluarga yang putrinya tak tau malu," kata Arkan pedas.
keduanya pun ingin pamit pergi tapi tak terduga Nayla menghalanginya. "kalian tak boleh pergi, kembalikan surat sawah milik keluargaku," kata Nayla dengan berani.
"kamu yakin menantang kami, kamu lupa kami siapa?" tanya Faraz dengan nada mengejek.
"aku tak takut, aku memiliki Allah, dan kalian tak mungkin bisa menyentuhku," kata Nayla dengan sombong.
"aku kasih tau oke, ada beberapa orang yang sangat mudah kesakitan meski dengan ilmu santet ringan, satu orang kikir dan sombong, dua orang yang jauh dari Allah, dan tiga orang yang punya hati busuk," kata Faraz.
"dan keluarga kalian memiliki ketiganya," saut Arkan yang menjentikkan jarinya.
kini keluarga mereka pun muntah darah tepat di depan dua pria itu, "jadi jangan lupa siapa kami ya, dan sekali lagi kamu berani muncul di depan wajah Aryan dan anand, ku pastikan bukan hanya muntah darah, kalian semua bisa muntah paku silet dan lainnya, atau mau coba santet Sewu Dino, lumayan aku sudah lama tak mempraktekkan nya," tawar Arkan dengan suara mengancam.
keduanya pun meninggalkan rumah keluarga itu, Nayla tak mengira jika kedua pria itu tak kehilangan kesaktian milik mereka.
padahal Nayla sudah meminta bantuan dukun sakti, "oh satu lagi, sekali lagi kamu berani mengirimkan dukun Abal-abal lagi, aku yang membuatmu mati," kata Faraz.
Nayla pun terduduk lemas, kini hidupnya berakhir, dia dan keluarganya sudah jatuh terjerembab begitu dalam.
__ADS_1
bahkan semua orang sudah mulai mengunjingkan mereka karena Arkan dan Faraz yang terlihat marah setelah dari rumah keluarga itu.