
pak RT masih bersikap angkuh, dia seperti tak percaya dengan apa yang di katakan Faraz.
"tidak mungkin pria biasa seperti dia bisa mengirimkan santet yang menyasar satu desa, ini pasti penyakit medis, karena aku tak percaya dengan apa yang kamu bicarakan," kata pria itu.
"terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi yang pasti semua keturunan dari desa ini akan memiliki penyakit yang sana, dan kalian akan dikucilkan dari dunia luar sana.
Faraz yang awalnya ingin membantu pun mengurungkan niatnya, akhirnya pria itu membuat semua anak-anak memiliki sedikit pengecualian.
pak RT pun meninggalkan Faraz yang dia rasa juga mengatakan omong kosong.
Faraz memanggil beberapa makhluk yang berada di tangannya, dan meminta mereka untuk mengambil kutukan dari para anak kecil yang terdengar terus menangis merasakan siksaan ini.
Arkan sudah menunggu saudaranya itu, dia tersenyum kejam pasalnya orang sombong seperti warga di desa itu memang tak tau diri.
Faraz pun bisa meringankan luka yang di isap para anak balita sampai anak-anak berusia sepuluh tahun.
luka mereka tiba-tiba mengering dan mulai sembuh, pak RT yang melihat itu segera berlari mencari Faraz.
tapi dia tak menemukan pria itu, Arkan bertepuk tangan, "lihat kebaikan juta itu tak selamanya bisa mengubah orang bukan, lebih baik berjalan mengikuti Aris dan jangan suka mencampuri urusan orang lain,"
"kamu berubah Arkan, kamu seperti orang lain?" kata Faraz menahan bahu dari saudaranya.
"aku tidak berubah, tapi lingkungan yang mengubahku, aku akan baik dan segan pada orang yang memperlakukan ku sama, tapi untuk orang seperti mereka yang tak punya hati nurani, maaf aku tak bisa melakukannya," kata Arkan yang kemudian pergi.
Faraz termangu melihat saudaranya itu, seorang nenek berjalan tertatih di belakang Faraz, "kamu bukan tandingannya, karena dia sudah terpilih dari keturunan terdahulu,"
mendengar suara itu, Faraz kaget melihat nenek yang dia temui beberapa hari lalu.
wanita itu terlihat tersenyum pada Faraz, "kalau kamu mau, aku bisa membantumu tapi kamu harus mau menerima ilmu milikku, dan di saat itu kalian berdua akan sepadan," kata wanita itu lagi.
"maaf aku tak berminat," jawab Faraz yang kemudian langsung pergi.
pak RT di kambing wabah itu sadar jika ucapan Faraz benar, dia pun meminta tolong keluarga istrinya untuk mencarikan dukun yang hebat.
mereka memanggil dukun dari daerah timur Jawa timur, dia bernama Ki Baidhowi, biasa di panggil Mbah Bai.
__ADS_1
pria itu berjanji akan datang jika sudah pacek dari ilmu itu, karena akan efisien menghilangkan kutukan pas mantra itu lemah.
Arkan di rumah sedang bermain bersama putra putrinya, dan juga bayi mungil itu.
terlebih Tasya sedang membuat sesuatu di belakang, "Lily... lihat itu opa mau kemana? dia begitu tampan, coba tanya dan ikutlah," kata Arkan.
"siap pak," jawab bocah perempuan itu.
Lily langsung memeluk kaki dari sang opa, "mau kemana opa, kenapa begitu wangi... Lily ikut ya..."
"tidak boleh ah kamu doyan makan, terus kalau kamu ikut kasihan dong Adit sendirian," jawab Tian Alan.
"kak Adit gak sendirian, ada mami dan papi, lagi pula dia ada les untuk membantunya belajar bahasa Inggris karena permintaan mu, jadi boleh Lily ikut, Lily nisan opa, ya... boleh ya.. boleh ya ..."kata Lily tanpa putus.
tuan Alan sampai geleng-geleng mendengar ucapan cucunya itu, "aduh kamu begitu berisik dan cerewet, tapi baiklah, tapi jangan membuat teman opa kabur ya nanti," kata tuan Alan.
"siap opa, Lily ambil tas dulu dan jilbab," jawab gadis kecil itu.
Lily kembali dengan jilbab kaos kesukaannya, dan juga kaca mata dengan frame hello Kitty.
"kenapa aku merasa kamu begitu mirip mami mu terlebih mata kalian yang begitu jernih," kata tuan Alan.
mereka pun berangkat, Adit masih memegang bukunya, karena bocah itu ingin bisa seperti Arkan yang sangat hebat dan menjadi panutannya.
"Adit berhenti nak, kamu juga perlu bermain, dan jangan terus belajar, kamu harus menikmati masa kecilmu juga," kata Arkan yang tak ingin bocah itu terlalu fokus pada pelajaran yang bisa menyita waktunya.
Arkan tau rencana dari para orang di kampung itu, Tasya datang dengan kue pie apel di tangannya.
"cemilan datang, loh mana si cantik nan cerewet kesayangan mu papi?" tanya Tasya tak melihat putrinya.
"ikut dengan Daddy, hei... kenapa kamu lebih menyayangi Adit di banding aku," tanya Arkan melihat Tasya yang menyuapi Adit.
"habis kamu menyebalkan sih sayang, dan ingat lusa pacek dari ilmu mu, ingat wow yang harus kamu lakukan papi," kata Tasya mengingatkan.
"aku sudah tau sayang, dan tenang saja, aku akan membuat mereka tau siapa yang mereka lawan ini," kata Arkan.
__ADS_1
"papi... ilmu seperti papi itu warisan ya?" tanya Adit.
"iya sayang, dan kamu harus menjaga Lily ya, karena adik mu itu mewarisinya dari papi," kata Arkan pada Adit.
"siap papi," jawab Adit.
Tasya heran melihat bocah itu yang begitu semangat, bahkan dia meminta di masukkan ke padepokan silat untuk belajar ilmu pertahanan diri.
Lily sedang berada di sebuah restoran dengan tuan Alan, bocah itu sedikit tak fokus karena terus melihat ikan di samping saung tempat mereka duduk.
tak lama datang seorang wanita yang begitu cantik dan langsung menyapa tuan Alan.
"selamat sore, apa kalian lama menunggu?" tanya wanita itu.
"tidak kok, perkenalkan cucu perempuan ku," kata tuan Alan menepuk pelan punggung Lily.
"Lily itu tantenya di sapa dulu, nanti lihat ikan lagi," kata tuan Alan.
Lily menoleh dan kaget melihat wajah seram wanita itu, wajah wanita itu pucat dengan lingkaran hitam di mata dan darah yang keluar di sudut bibirnya.
Lily langsung menangis keras sambil memeluk tuan Alan,"ayo pulang opa ... Lily takut... tantenya serem..."
"kamu ngomong apa, orang tantenya cantik gitu, kan tadi Lily janji gak buat malu, kok sekarang begini," kata tuan Alan.
"gak mau... Lily takut, Lily mau pulang... mas Adit...." teriak Lily yang langsung turun sambil berlari keluar dari restoran.
"maaf nanti aku hubungi lagi," kata tuan Alan yang mengejar Lily.
sedang wanita itu menyentuh wajahnya, "tuh bocah buta mungkin, orang cantik gitu di bilang jelek dan seram," kata salah satu pengunjung.
tapi wanita itu tak senang, karena hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat sosoknya yang memakai susuk dengan tumbal.
tuan Alan sekarang masih di mobil dengan Lily yang terus menangis tanpa mau berhenti.
dia sendiri bingung melihat cucunya itu, sesampainya di rumah Arkan langsung mengusap wajah putrinya itu dan gadis kecil itu langsung diam.
__ADS_1