
setelah memastikan semuanya aman, Adi pun perlahan mulai melepaskan pakaian dari gadis itu.
dan setelah itu dia pun melecehkan Anna yang masih belum sadarkan diri baru obat itu.
dia pun merasa bahagia bisa menumpahkan bibit anaknya pada wanita itu.
Kalila yang panik sampai di rumah dan langsung mencari ustadz Arifin yang ternyata sedang berbincang dengan dua pengurus pondok.
"Abi...." tangis Kalila yang langsung bersimpuh di kaki sang Abi.
"ada apa Lila? kenapa kamu menangis seperti ini, bukankah kamu tadi pergi bersama dengan Anna, sekarang dia di mana?" tanya ustadz Arifin.
"Lila tidak tau Abi, tadi aku ke kamar mandi karena harus membersihkan cadar ku dan menggantinya, tapi saat aku kembali dia sudah tidak ada dan hany menitipkan surat ini pada seorang pelayan," kata Kalila tersedu-sedu.
ustadz Arifin menarik surat itu dan langsung membacanya dan dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"assalamualaikum Abi, umi dan Kalila...
ini adalah surat yang Anna tulis dengan kesadaran sepenuhnya, sejujurnya Anna tak mencintai mas Faraz. Anna mau menikahinya hanya karena paksaan dari Abi, dan Anna tak sanggup melewati semua ini lagi dan bertahan, maafkan Anna Abi, tolong jangan mencari Anna, karena sekarang Anna sudah bahagia bersama cinta Anna, yaitu mas Adi jadi tolong jangan pernah cari Anna dan menghubungi Anna selama Abi tak bisa menerima mas Adi,
putrimu yang tercinta Anna." isi surat itu.
ustadz Arifin pun langsung jatuh terkena serangan jantung,Kalila pun panik melihat Abi yang dia sayangi itu.
"Abi ..." tangis Kalila.
"kita bawa ke rumah sakit dulu," panik pengurus ponpes.
Kalila pun ikut bersama Sang umi naik mobil lain, sesampainya di rumah sakit ustadz Arifin langsung mendapatkan pertolongannya pertama.
dan beruntung pria itu tak dalam bahaya, umi Salamah tak mengira jika putri yang selalu dia banggakan bisa melakukan ini dan membuat malu Keluarga mereka.
"umi, apa Lila harus menghubungi mas Faraz?" tanya Kalila yang merasa jika Faraz harus tau segalanya.
"tidak usah nak, keluarga mereka sedang liburan, kita beri kabar saat mereka pulang saja, sekarang kita berdoa untuk kesehatan Abi ya," kata umi Salamah.
"iya umi," jawab Kalila.
setelah selesai dari pantai gemah Tulungagung, rombongan pun berlanjut ke tempat wisata kebun belimbing.
Faraz sedikit heran karena Anna yang tak menjawab pesan maupun telponnya.
bahkan saat dia ingin menghubunginya lagi, telpon wanita itu malah mati.
Adi membuat seorang pelayan restoran miliknya, membuang ponsel Anna ke area kali Brantas.
jadi saat gadis itu di lacak, mereka tak akan bisa menemukan gadis itu.
sedang Adi sedang merokok di dalam ruangan itu, dia sudah dua kali melakukannya pada Anna, dan gadis itu masih belum sadarkan diri.
"sepertinya aku memberikan obat terlalu banyak, tapi tak masalah, sekarang kamu tak akan pernah bisa lari dariku, karena tak akan mau Faraz menerima wanita kotor seperti mu,"gumam Adi.
perlahan Anna membuka matanya, dan merasa jika kepalanya sangat pusing.
__ADS_1
Adi tersenyum kearah Anna, "sudah sadar sayang, bagaimana rasanya malam pertama dengan ku, apa kamu puas?"
"apa maksud mu mas Adi?" tanya Anna bingung.
"lihat saja dirimu," kata Adi yang mendekati dirinya.
Anna kaget melihat dirinya tidak mengenakan apapun, dan ada begitu banyak tanda merah di tubuhnya.
Adi pun langsung memeluk tubuh indah itu lagi ke dalam pelukannya, "sekarang kamu sepenuhnya milik ku Anna, seandainya aku melepaskannya mu pun, Faraz tak akan mau dengan wanita yang sudah kotor seperti mu," bisik Adi.
"kamu bajingan mas, aku membencimu, kamu menodai ku seperti ini, aku salah telah percaya padamu," marah Anna yang berontak dan menangis.
"silahkan saja, kamu memukuli diriku, tapi ingat sekarang kamu milikku," kata Adi yang menampar pipi Anna hingga membuat wanita itu tersungkur.
perasaan Faraz tak enak, akhirnya dia pun mengajak semua orang pulang.
perjalanan pulang juga membutuhkan tiga jam untuk sampai di rumah Arkan.
sesampainya di rumah, Faraz langsung bergegas untuk pergi ke pondok pesantren karena Anna yang dari pagi tak bisa di hubungi.
"assalamualaikum... apa ustadz Arifin ada di tempat?" tanya Faraz pada salah seorang pengurus.
"waalaikum salam... maaf mas Faraz, tapi ustadz Arifin sudah di larikan ke rumah sakit, beliau terkena serangan jantung," jawab pemuda itu.
mendengar itu, Faraz langsung menuju ke rumah sakit tempat ustadz Arifin di rawat, sesamoeiny di sana ternyata dia melihat umi Salamah dan juga Kalila.
"assalamualaikum umi, bagaimana kondisi Abi?" tanya Faraz yang terlihat tergopoh-gopoh.
"waalaikum salam, Abi hanya kaget nak, tapi beruntung tak terjadi yang tak di inginkan pada beliau," jawab umi Salamah.
"umi.. Anna kemana? kok tidak kelihatan?" tanya pria itu.
"Anna..." kata umi Salamah dengan sedih.
dua pengurus pondok menepuk bahu Faraz, dokter pun keluar dan menemui keluarga ustadz Arifin.
"pasien ingin bertemu dengan kalian semua, silahkan masuk tapi tolong apapun yang di minta pasien ikuti, karena kita tak ingin kondisi pasien makin memburuk," kata dokter.
"baik dokter," jawab semua orang.
Faraz masuk terlebih dahulu di ikuti umi Salamah dan Kalila, terlihat tubuh ustadz Arifin terpasang berbagai alat medis.
melihat Faraz, ustadz Arifin mengulurkan tangannya pada pemuda itu, "menikah..." lirih ustadz Arifin.
"iya Abi.... tapi Abi sembuh dulu, setelah itu aku akan menikah dengan Anna, putri Abi," kata Faraz.
"Lila..." kata ustadz Arifin menunjuk putri Keduanya.
Faraz pun kaget mendengar permintaan itu, "Abi ingin melihat nak Faraz menikahi Kalila?" tanya umi Salamah.
"iya.... sekarang...."
Faraz pun nampak bingung, Kalila hanya menangis, tapi Kalila adalah putri yang selalu menuruti semua perintah abi-nya.
__ADS_1
"Kalila mau nak?", tangis umi Salamah.
Kalila mengangguk, karena semua ini terjadi juga karena keteledorannya.
"nak Faraz, umi mohon..." kata umi Salamah.
"bismillahirrahmanirrahim, iya umi..." jawab Faraz yang tak bisa menolak keinginan pria itu.
"pak abu dan pak Ali, tolong siapkan pernikahan sekarang juga, karena suamiku ingin melihat mereka menikah," kata umi Salamah.
mereka pun langsung mengiyakan, Faraz menelpon semua keluarganya.
anak-anak di tinggalkan di rumah bersama tuan Alan dan mbak Utami, sedang yang lain bergegas ke rumah sakit.
"ada apa Faraz, kenapa kalian harus menikah mendadak seperti ini?" tanya ayah Raka saat melihat putranya itu.
"Abi terkena serangan jantung, dan meminta ku menikah dengan Kalila, saat ini... aku ingin meminta restu pada kalian berdua sebagai orang tuaku," mohon Faraz.
"apa? terus Anna bagaimana?" tanya Aryan.
"aku juga tak mengerti, dan dari tadi aku tak melihatnya di sini, dan ponselnya tak bisa di hubungi sedikit pun," kata Faraz.
"nak Faraz, Semuanya sudah siap, mari..." panggil pak Ali.
"baik pak," jawab Faraz.
mereka pun duduk bersama, Raka tersenyum pada ustadz Arifin yang terlihat begitu lemah.
"siapa yang jadi saksi?" tanya pak abu
"Arkan," panggil Faraz.
kini para saksi sudah siap, ustadz Arifin yang bertindak sebagai wali yang akan menikahkan mereka sendiri.
penghulu juga sudah datang, Aryan merekam semua pernikahan yang di lakukan itu.
"nak Sarfaraz, berapa Nagar yang ingin kamu berikan?" tanya pak penghulu.
Faraz membuka dompetnya dan mengeluarkan semua uang yang dia punya, "tidak mas, berikan aku seratus ribu saja, itu cukup," kata Kalila.
"kamu yakin Lila?" tanya Arkan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"mahar pernikahan adalah uang seratus ribu dan kalung emas seberat sepuluh gram dan cincin lima gram, tunai pak," kata Faraz.
ternyata itu adalah kalung yang pernah Amma Wulan berikan pada Faraz, itu adalah peninggalan eyang mereka yang harus di berikan pada istri-istri mereka nantinya.
"baiklah, pernikahan sudah bisa di mulai," kata pak penghulu.
Faraz menjabat tangan ustadz Arifin, "bismillahirrahmanirrahim... ananda Sarfaraz Rafasya Noviant bin Rafasya Noviant, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku yang bernama Kalila Khumaira Arifin, dengan mas kawinnya perhiasan emas, dan juga uang seratus ribu rupiah di bayar tunai," kata ustadz Arifin yang langsung di jawab oleh Faraz dengan satu tarikan nafas.
"saya terima nikah dan kawinnya Kalila Khumaira Arifin binti Muhammad Arifin Hasan, dengan mas kawinnya tersebut di bayar tunai,"
"bagaimana para saksi sah?" tanya penghulu.
__ADS_1
"SAH.." jawab semua orang.
ayah Raka memimpin doa pernikahan, tapi ustadz Arifin lemah, melihat itu Faraz pun memeluk mertuanya itu.