
Tasya menghela nafas panjang setelah menyelesaikan membuat sarapan.
dia tak mengira pagi ini sedikit kacau karena ulah Lily yang tiba-tiba menjerit.
semua sedang duduk di meja makan, saat Adit melihat Tasya yang ingin melayani Semuanya.
"biar Adit bantu mami!" kata bocah itu sedikit keras.
"terima kasih ganteng," kata Tasya.
setelah selesai, semuanya akan makan, Lily terlihat di bantu Adit memotong lauk miliknya.
"Lily... kenapa kamu begitu manja sama mas Adit, belajar nak..." kata Tasya pelan.
"tidak apa-apa mami, Adit yang tak mau baju Lily kotor, padahal sudah mau berangkat," jawab Adit.
Lily dengan senyumnya malah memberikan jempol pada Adit, sedang Tasya melirik suaminya.
tapi Arkan pura-pura tak melihatnya, "sudah ayo makan, mami juga ya,"
mereka pun mulai makan dan Tasya ingat sesuatu, "Lily tadi kamu kenapa berteriak, sampai membuat adik Linga dan Tante Utami kaget,"
"ah itu mami, aku kaget karena melihat sosok menyeramkan, dia bermata merah sedang menatap dari luar rumah. aku tak tau wujudnya, tapi matanya besar sekali," terang Lily.
"tenang Lily, tak ada yang bisa masuk ke rumah kecuali itu makhluk yang papi kenal oke, jadi kamu tak boleh takut, karena semakin kamu takut, semakin mahluk itu menjadi kuat," pesan Arkan.
"iya papi," jawab Lily.
mereka berdua pun di antar oleh tuan Alan ke sekolah, dan Arkan memastikan bahwa mbak Utami tak mengingat apapun tentang kejadian buruk kemarin.
di perjalanan menuju ke sekolah mereka sempat berhenti karena Lily yang meminta di belikan cemilan coklat.
"oke nona muda, kamu tak ingin apa-apa lagi, sebelum kita sampai sekolah?" tanya tuan Alan pada cucu tercintanya itu.
"mas Adit..."
"sudah opa, Lily bisa nambah bobot jika terus makan coklat," kata Adit melirik adiknya itu.
sedang Lily langsung cemberut mendengar ucapan dari Adit, tapi itu benar, karena beberapa bajunya mulai tak muat.
__ADS_1
sesampainya di sekolah keduanya pun turun dan melambai ke arah tuan Alan.
"baiklah waktunya pulang," gumam pria itu memutar motornya.
tapi dia merasa aneh saat memilih jalan yang memutar cukup jauh karena ingin ke tempat besannya.
"loh ada apa ini, kok tumben di sini begitu ramai, terus ada mobil polisi dan ambulans segala," katanya heran.
tuan Alan pun menghentikan motornya dan bertanya pada salah seorang warga, "permisi... ada apa ya pak, kok ramai dan banyak polisi?"
"ah itu pak, ada mayat tapi kondisinya mengerikan," kata pria itu sambil bergidik.
"maksudnya mengerikan bagaimana ya pak?" tanya tuan Alan heran.
"itu pak, mereka mati dengan posisi tertusuk di batang tebu, bahkan yang aneh semua organ dalamnya sudah tercabik hewan, Wuh.... pokoknya ngeri deh pak," jawab pria itu.
mendengar itu tuan Alan pun hanya mengangguk dan kemudian pergi, toh dia sudah tau.
saat sampai di rumah tenyata sudah ada ayah Raka dan Amma Wulan, mereka sedang berbincang dengan mbak Utami.
"wah ada besan... ada apa ya?"
"aduh calon pengantin masih jalan-jalan, berhubung dari perhitungan Jawa, lusa adalah hari baik, mau di tanggal itu atau nunggu dua bulan baru boleh nikah?" tanya ayah Raka yang langsung.
sedang di dapur Arkan memeluk istrinya Tasya yang terlihat begitu lelah, "maaf ya beberapa hari ini aku tak memperhatikan dirimu, aku terlalu sibuk mengurusi segalanya,"
"tidak apa-apa... aku belajar terbiasa... tapi maaf... hari ini aku sangat lelah... hiks... hiks..." tangis Tasya pun tumpah.
arkan pun langsung membalik tubuh istrinya itu dan memeluknya erat, tangis Tasya pun makin menjadi.
Arkan tau jika mengurus tiga anak itu tak mudah, terlebih mereka masih kecil-kecil.
"menangis saja sayang kamu bisa menumpahkan semua keluh kesah mu padaku, seharusnya kita memang harus liburan, aku tau aku bukan suami yang pengertian," kata Arkan.
"tidak... aku hanya sedang lelah saja, maaf kan aku yang lemah ini..." Arkan pun mengeratkan pelukannya.
tuan Alan yang ingin masuk pun mengurungkan niatnya, dia tau jika Arkan dan Tasya memang butuh liburan berdua, terlebih mengurus rumah tangga adalah hal besar bagi Tasya.
"ada apa besan, katanya mau ambil barang?" tanya ayah Raka.
__ADS_1
"tidak jadi, aku tak enak harus mengganggu Tasya dan Arkan, sepertinya keduanya begitu lelah dengan aktifitas mereka, terlebih harus mengurus tiga anak sekaligus," kata tuan Alan.
"kalau begitu setelah pernikahan kalian, bagaimana kalau kita satu keluarga liburan, tak usah jauh-jauh, cukup ke pantai saja, dan buat mereka tenang dan kita jaga anak-anak," usul Amma Wulan.
"kamu mau Utami?" tanya tuan Alan.
"tentu, aku begitu menyukai Adit, Lily dan Linga, aku tak keberatan menjaga mereka untuk membiarkan mereka cuma berdua saja," kata wanita itu.
"bagus... nanti biar Faraz dan Aryan juga membantu kita momong anak-anak," tambah ayah Raka.
"oke semua sudah deal, dan untuk urusan menikah mau ramai Natsu tidak?" tanya ayah Raka.
"tidak usah cukup undang tetangga yang penting sah," kata mbak Utami.
di rumah sakit, kondisi dari Niken tak ada perkembangan, karena wanita itu sudah nyaman dengan dunia yang di lihatnya.
terlebih dia sudah nyaman dengan pria yang menemaninya dua hari ini.
hari ini Azam mengajak Niken kembali ke rumah sakit, karena permintaan Faraz.
"kenapa kita ke sini?" tanya Niken sedikit bingung.
"dia ingin bertemu dan berbincang dengan mu," kata Azam yang menunjuk Faraz yang sedang duduk sendirian di depan ruang ICU.
"kok dia sendirian, mana bunda dan ayah ku?" tanya Niken bingung.
Faraz pun tertidur sambil bersandar pada dinding, terlihat Alden datang dan menemani Faraz sambil membaca Alquran.
"mereka ku minta pulang, jadi aku mengantikan sejenak bersama Alden, aku kasihan mereka sudah hampir seminggu tak tidur," kata Faraz yang menemui mereka.
"loh ini... ah aku lupa jika mas Faraz sakti, aku ingin mati saja kenapa harus menyakiti orang tuaku," kata Niken.
"apa maksud mu?"
"sebenarnya aku sudah tau jika usia ku tak lama bukan, setelah hamil umur ku di ambil oleh bayi yang aku kandung itu, aku sudah ingat semuanya, jadi tak perlu menyembunyikan semuanya lagi."
Niken tersenyum, "aku sudah ikhlaskan segalanya, tolong minta orang tuaku untuk juga mengikhlaskan kepergian ku, aku sudah lelah," kata Niken.
"tapi saat kamu sudah mati, kamu harus menyebrang, dan aku tak bisa menemanimu lagi," kata Azam memohon.
__ADS_1
"kalau begitu ikutlah menyebrang bersama ku, kita berdua bisa pergi bersama apa mau melakukannya bersama ku?" tanya Niken.
Azam pun mengangguk, "baiklah kalau itu keinginan dari kalian berdua, aku akan meminta Arkan dan Adit membantu kalian berdua," kata Faraz.