
sudah tujuh hari dari kematian ustadz Arifin, dan Faraz juga sudah pindah ke rumah keluarga dari istrinya.
bagaimana pun kini Kalila dan umi Salamah adalah tanggung jawabnya, terlebih hari ini ada hal penting yang harus di lakukan.
pagi ini Faraz akan ke rumah sakit untuk menjemput pasangan suami istri itu, terlebih beberapa hari ini dia belum bisa menjenguk mereka.
"kamu yakin tak mau ikut dek?" tanya Faraz pada Kalila.
"ngapunten mas, hari ini adek ada kelas, terlebih adek juga baru masuk kuliah, mas gak keberatan?" tanya wanita itu dengan nada suara takut.
"insyaallah tidak, sudah sekarang mas antar, kamu tentu tak nyaman berangkat dengan ojek online," tawar Faraz.
"terima kasih mas, kalau begitu adek pamit ke ibu dulu ya," kata Kalila dengan sopan.
meski seminggu ini sudah tinggal bersama, Faraz benar-benar tak memaksa Kalila yang masih butuh waktu.
terlebih dia juga harus nyaman dengan wanita itu, jika tidak akan terjadi masalah besar saat Faraz memaksa istrinya itu.
umi Salamah keluar yang Faraz pun pamit pada sang mertua, Keduanya pun berangkat menuju ke kampus Kalila terlebih dahulu.
"mas apa yakin rumah yang di depan rumah juragan Aris mau di jual, apa tidak sayang, karena itu rumah sangat nyaman sepertinya?" tanya Kalila dengan lembut.
"tidak dek, tapi ngomong-ngomong kamu kok tau aku punya rumah di sana?" tanya Faraz
"ah dulu tak sengaja Abi pernah mengajakku main ke rumah juragan Aris, terus Abi bilang kalau rumah calon menantunya di depan rumah juragan Aris," jawab Kalila.
"benarkah? wah... sepertinya Abi begitu berharap aku jadi menantunya ya," kata Faraz tersenyum percaya diri.
"inggeh mas, Abi selalu bilang, beliau dulu punya perjanjian dengan dua sahabatnya untuk menikahkan anak mereka nanti, sepertinya anak Abi tak berjodoh dengan dua anak laki-laki dari om Raka, jadi pilihan terakhir adalah mas Faraz," kata kalila di balik cadarnya.
"apa? ya Allah ternyata aku bukan pilihan pertama?" kats Faraz yang terdengar sedih.
"ya bukan begitu mas, ya Allah maafkan aku, bukan maksudku begitu mas.... maksudnya karena putra-putra om Raka yang menikah muda," kata Kalila terdengar panik.
"ha-ha-ha maaf ya dek, aku cuma bercanda, sudah tak perlu khawatir, tapi sebenarnya aku sedikit heran, dulu waktu kami mengaji di tempat ustadz Arifin kamu dari kecil sudah tak pernah melepas cadar mu ya?" tanya Faraz.
"iya mas, Abi yang memintanya," jawab Kalila yang tau jika suaminya berhak melihat wajahnya.
__ADS_1
tapi dia takut jika saat melihat wajahnya nanti, Faraz tak suka dan juga membencinya karena bekas luka itu.
"tidak apa-apa jika kamu belum siap, aku bisa memakluminya, Alhamdulillah sudah sampai... maaf ya dek karena hari ini mas gak ada kelas jadi kamu kuliah sendiri, jika nanti pulang tolong kabari mas ya," kata Faraz mengulurkan tangannya pada Kalila.
"inggeh mas," jawab Kalila yang mencium tangan Faraz.
tak lupa Faraz memberikan kecupan di kening istrinya, "kamu tak minta uang saku?"
"tidak usah mas, uang yang mas berikan masih banyak," jawab Kalila.
"iya,uang di ATM bahkan belum kamu sentuh," kata Faraz.
"sudah kok, tiga juta yang waktu itu, untuk acara tujuh harian kemarin," jawab Kalila.
"dasar, ya sudah pakai untuk kebutuhan mu, nanti mas transfer lagi, ingat baik-baik kuliahnya," kata Faraz.
"inggeh mas, assalamualaikum..." kata Kalila
"waalaikum salam, bidadari surga ku," kata Faraz tersenyum manis melihat istrinya yang sudah lari sambil tersipu malu.
mobilnya sampai di rumah sakit bertepatan dengan mobil Aryan yang juga batu sampai bersama orang tua mereka.
"assalamualaikum ayah, Amma..." sapa Faraz yang langsung mencium tangan keduanya.
"waalaikum salam nak, kamu harus datang?" tanya ayah Raka.
"inggeh ayah, baru mengantar Kalila ke kampus, mari masuk kedalam," kata Faraz.
"ya Allah adem ya, lihat pria yang biasanya wong edan, awak mu kie adek cap opo? sekarang Monggo ayah... berubah tenan jadi pimpinan pondok," goda Aryan.
"owh.... asu." kata Faraz kesal.
"heh... kalian ini kok mesti ya, ketemu malah berantem, sudah sekarang ayo masuk, kasihan pasti semua sudah menunggu di dalam," ajak Amma Wulan.
keduanya pun mengangguk dan berjalan setelah kedua orang tua.
benar saya, di salam sudah ada tuan Alan, Lily dan Adit. tak hanya itu Nino juga ada di sana untuk menjengguk keduanya.
__ADS_1
"wah semuanya kumpul di sini, ada apa ya.." tanya Aryan yang pura-pura heran.
"kamu kumat ya bung, dokter tolong periksa orang ini aku takut dia jadi sedikit depresi karena kelamaan menduda," ledek Nino
"idih... setidaknya aku pernah menikah, lah kamu polisi tak laku," ejek Aryan.
"sudah sama-sama tak laku mending diam," kata Faraz.
"beh nih orang makin bikin kesel setelah menikah, iya ustadz Sarfaraz yang Sholeh," kata Aryan dengan nada mengejek.
"minta di tempeleng tuh orang," kata Arkan yang memanas-manasi Keduanya.
"susah deh, lama deh, ayo pak kita pulang kasihan putraku sudah seminggu kekurangan asi,"kata Tasya yang lelah mendengar pertengkaran ketiga pria itu.
"aduh jangan ngambek dong, ya sudah ayo pulang," ajak arkan.
mereka semua pun menuju ke rumah Arkan, ternyata sudah banyak warga yang datang menyambut mereka.
mereka pun terlihat begitu senang banyak yang menunggu kepulangan mereka ternyata.
Adit dan Lily sekarang seperti anak-anak seusia mereka bermain bersama yang lain.
sedang Aslan tersenyum dan membahas masalah RT bersama para bapak-bapak.
Raka pun tersenyum melihat istrinya, "ada apa ayah memandangi Amma seperti itu?"
"terima kasih, berkat kehadiran mu keluarga kita sangat bahagia sekarang, mulai dari anak-anak hingga para cucu yang sehat dan ceria, terima kasih bidadari surgaku, dan juga istri Sholeha ku," puji ayah Raka.
"iya ayah, ayah juga suami Sholeh dan idaman semua wanita, selalu menjaga perasaan istri dan pandangan dari wanita lain," kata Amma Wulan.
Aryan pun mengambil foto keduanya yang sedang berdiri berdampingan,"aduh mesranya Amma dan ayah ini, terima kasih sudah menjadikan kami keluarga yang seperti ini, aku ikut bahagia melihat semua saudara ku,"
"iya nak, kami yang juga bangga serta bahagia melihat kalian semua," jawab Amma Wulan.
mereka pun ke depan dan bergabung dengan yang lain, terlebih mereka semua orang bahagia.
bahkan Adit sudah benar-benar seperti keluarga yang tak nampak berbeda, padahal bocah itu sudah sangat terkenal membantu orang tuanya.
__ADS_1