Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
keras kepala


__ADS_3

Faraz sedang lari pagi saat dia melihat ustadz Arifin yang sedang mengajar beberapa santri beladiri.


"assalamualaikum pak haji," sapa Faraz.


"waalaikum salam le, sedang olahraga ya, bagaimana kabar saudaramu?" tanya ustadz Arifin.


"Alhamdulillah semuanya baik, Anastasya juga sudah sehat, bagaimana pak haji, apa ada murid yang memiliki kemampuan seperti kami, setidaknya kami bisa pensiun dan berhenti dari dunia mistis," tanya Faraz.


"sepertinya belum ke, terlebih mencari orang dengan kemampuan seperti kalian bertiga itu sangat sulit, tapi aku mohon jika ada orang yang meminta tolong, jangan menolak ya le, karena siapa tau pertolongan untuknya itu memang dari kalian," kata ustadz Arifin.


"iya pak haji saya mengerti, kalau begitu saya pamit dulu mau pulang ya," kata Faraz.


"baiklah, jika sudah siap menikah bilang ya," kata ustadz Arifin.


"boleh asal dengan Anna!" jawab Faraz yang tersenyum.


tak sengaja wanita yang namanya di panggil pun tersenyum malu, pasalnya pria yang selalu dalam doanya itu menyebut namanya.


"Anna sedang apa?" tanya ustadz Arifin pada putrinya itu.


"tidak ada Abi, Anna hanya ingin memberikan air minum pada Abi," jawab gadis itu lembut.


ustadz Arifin mengangguk dan langsung meminta putrinya itu untuk kembali kedalam rumah.


Faraz tak ada kepikiran untuk menikah, tapi dia juga tak menolak saat jodohnya datang.


tapi mengharapkan seorang Anna yang hafal Al-Qur'an sebagai istrinya itu sangat berlebihan mungkin.


dia sampai di rumah, tapi sangat kaget saat si kecil Aluna menabraknya cukup keras.


"aduh... kamu kenapa sih dek, kesiangan," kata Faraz menahan perutnya yang ngilu.


"maaf mas, habis itu mbak Husna takutin Aluna dengan kepala lele," jawab bocah itu.


Husna langsung pergi tadi saat melihat Faraz, pasalnya dia takut di omeli dan uang jajannya di potong oleh Faraz.


"sudah pergi anaknya, sekarang kamu sarapan lagi, biar mas mandi nanti mas antar ke sekolah ya," kata Faraz pada Aluna.


"Iya mas," jawab gadis kecil itu


sedang Wulan hanya tersenyum saja, pasalnya Husna selalu takut pada Faraz.


sedang Aluna adalah kesayangan Faraz, tapi Husna kesayangan dari Aryan dan Arkan.

__ADS_1


Faraz datang ke dapur dan menyapa Wulan serta Raka yang masih sarapan bersama dua gadis kecilnya.


sedang dia mengambil roti dan mengolesinya dengan selai, pasalnya dia tak terbiasa sarapan dengan nasi setelah beberapa tahun ini.


Faraz sudah siap pergi bersama dua adiknya, mereka pun pergi dengan sepeda motor lama milik Faraz.


sesampainya di sekolah, Faraz memberikan uang saku pada dua adiknya.


Husna pun memeluk kakaknya itu, "ada apa dek, kamu kok tumben," kata Faraz.


"tidak ada hanya rindu mas saja, semalam aku mimpi ketemu ayah dan bunda, dia bilang jika mas sedang rindu, jadi sekarang aku berikan pelukan bunda padamu," jawab Husna.


"dasar kamu ini, sudah sana masuk ke sekolah sana," kata Faraz.


dia pun segera pergi menuju ke kampusnya, pasalnya dia harus melakukan bimbingan skripsi pada beberapa orang mahasiswa.


ayu dan Aris mengunjungi rumah dari ustadz Arifin setelah mengantarkan kedua putranya di pondok.


mereka berharap pria itu bisa membantunya untuk menemukan putrinya.


karena sudah dua Minggu ini putri mereka tak ada kabar, bahkan hilang tanpa jejak sedikitpun.


"assalamualaikum ustadz," sakan Aris.


"terima kasih ustadz, tapi bisakah saya tau bagaimana dengan hasilnya?" tanya Aris yang terdengar frustasi.


"tidak, belum pak, karena ternyata dunia ghaib yang di tinggali putri anda bukan dunia biasa, saya bahkan belum bisa menemukannya, jawab ustadz Arifin.


"ya Allah, terus bagaimana dengan putriku, bagaimana kondisinya..." lirih Ayu sedih.


"sebenarnya ada dua orang yang bisa menembus sekat itu, tapi apa kalian mau menemui mereka?"tanya ustadz Arifin.


"siapapun itu ustadz, kami siap untuk temui siapa saja demi keselamatan putri kami," kata Aris.


"kalau begitu temui keluarga Rakasa, karena ketiga putra mereka yang bisa menembus alam itu," jawab ustadz Arifin.


"apa..." lirih Ayu.


Aris sudah bisa menebak tak ada yang bisa selain mereka, terlebih setelah apa yang di ambil oleh putri dari Arkan.


putrinya kemudian menghilang, tapi dia juga tak tau apa yang di ambil gadis kecil itu dari Niken.


"baiklah kami akan kesana untuk meminta pertanggung jawaban," jawab Aris.

__ADS_1


"apa maksud mu yah, pertanggung jawaban apa ?" tanya ayu yang memang tak tau apa-apa.


"sebenarnya, sebelum menghilang, aku menemui keluarga mereka, dan entah apa yang di lakukan putri dari Arkan, Niken pingsan dan kemudian hilang sampai sekarang," kata Aris yang terlihat marah.


"kenapa anda marah, seharusnya anda berterima kasih pada gadis kecil itu, pasalnya dia hanya mengambil warisan dari keluarganya, dan menyelamatkan ibunya, sedang putri anda yang juga sudah menikah dan melupakan Arkan, tak baik menyimpan barang warisan keluarga orang lain, itupun terjadi karena kutukan di putri anda," kata ustadz Arifin


"kenapa anda menyalahkan putri saya?" tanya Aris yang mulai terpancing emosinya.


"kenapa? apa kalian tau, karena sikap putri anda yang berpacaran secara berlebihan, barang wasiat yang ada di tubuh putri anda, melukai istri dari Arkan,jadi tak pantas anda menyalahkan keluarga mereka," jawab ustadz Arifin.


"itulah kenapa arkan begitu melindungi Niken," kata ayu.


"iya Bu, jadi saya hanya bisa membantu dengan doa," jawab ustadz Arifin.


"iya ustadz, terima kasih," jawab ayu yang kemudian mengajak suaminya pulang.


sekarang hanya menunggu agar Aris tak keras kepala lagi, terlebih sekarang yang bisa membantu mereka hanya keluarga Rakasa.


sedang Niken makin kurus karena anak yang di kandungnya begitu cepat tumbuh, bahkan tanpa dia sadari perlahan bayi itu menyedot gizi dari tubuh ibunya.


seperti halnya sebuah parasit, perlahan membuat inangnya mati perlahan.


Azam datang membawa sebuah minuman merah yang di wadahi sebuah botol, Niken tanpa curiga sedikit pun langsung meminumnya.


Niken merasa minumannya sangat enak, "sayang apa ini, kenapa rasanya enak tapi begitu kental,"


"oleh ini rasa baru sayang, kebetulan tadi ada yang jual, kamu mau setiap hari, aku pasti belikan, jangan bosan ya ini demi anak kita," kata Azam dengan lembut mengusap perut Niken.


"tentu, toh ini enak," jawab Niken.


Azam pun begitu senang mendengar jawaban dari istrinya, dia pun memeluk Niken dengan lembut.


"sudah, sekarang tolong istirahat sayang, karena kamu begitu lemah," kata Azam.


"baik mas, aku akan istirahat, tapi bisakah mas membelikan daging untukku, tiba-tiba aku ingin memakannya," kata Niken.


"tentu sayang, apapun untuk mu," jawab Azam.


dia langsung pergi untuk menemui semua keluarganya, pasalnya dia harus menjaga Niken dan anaknya agar tetap hidup.


"bagaimana kondisi menantu?" tanya pak Broto.


"kondisinya sedikit membaik, tapi sepertinya dia mulai suka makan makanan mentah dan darah," jawab Azam.

__ADS_1


__ADS_2