Suamiku Mahluk Ghaib

Suamiku Mahluk Ghaib
rasa tidak nyaman


__ADS_3

tak terasa Tasya sudah di izinkan pulang bersama baby Linga, bayi pria itu terlihat sangat sehat meski harus lahir prematur.


tak hanya itu, bayi itu juga terlihat nyaman di pelukan sang opa, tuan Alan yang dari tadi mengendong cucu laki-lakinya itu.


Lily merasa cemburu melihat sang opa lebih sayang adiknya, bahkan dia pun terus memasang wajah jutek.


"Lily kenapa?" tanya Tasya.


"kamu kenapa Lily, papi perhatikan dari rumah sakit sampai rumah, kamu terus terlihat jutek," kata Arkan melihat putrinya itu.


"Lily gak suka punya adik, nanti semuanya sayang adik dan gak sayang Lily, terus Lily di lupain," kata Lily sedih sambil memeluk Tasya.


gadis kecil itu pun mulai terisak, Tasya pun merasa bersalah dan mengusap kepal putrinya itu.


"maafin mami ya, seharusnya kami menundanya sampai kamu sedikit lebih besar," kata Tasya.


"tidak sayang, Lily... dengarkan papi, siapa yang awalnya sangat senang waktu mau punya Adik baru, sekarang dia sudah ada, jadi Lily harus menjaga adiknya, gak boleh seperti ini," kata Arkan.


"tapi semua akan lupa pada Lily, dan cuma sayang adik," kata Lily.


"tidak akan, kami janji akan sayang Lily," kata Arkan.


Tasya melihat sang Daddy, pria itu yang baru sadar buru-buru memberikan Linga pada mbak Utami.


"Lily, opa lupa gak beli silet buat cukuran, mau gak Lily yang cantik ini menunjukkan opa jalan ke minimarket," ajak tuan Alan.


"tidak mau, opa lebih sayang adik Linga, di banding Lily," Kata gadis itu kesal.


"maaf ya sayang, opa tadi cuma gendong adik Linga, sekarang opa minta maaf dan tolong antar opa yuk, nanti opa kesasar terus gak bisa pulang... please princess, mau ya..." mohon tuan Alan yang tak ingin cucunya itu memiliki kecemburuan pada sang adik.


"baiklah, Lily mau tapi nanti belikan martabak telur spesial ya," kata Lily.


"baiklah, bukan hanya martabak telur, segerobak-gerobaknya opa belikan untuk Lily."


bocah itu pun mulai mengangguk mau, dan mereka berdua pun pergi menuju ke mini market terdekat.


Lily memilih semua makanan ringan kesukaannya, tuan Alan pun tak keberatan.


saat pulang, Lily mengajak sang opa berjalan-jalan ke kota, dan menagih janji martabak telur itu.


mereka sedang duduk antri, dan Lily menikmati Snack yang tadi di beli, "enak sayang?"


Lily mengangguk, di depannya ada bocah seusianya yang terus melihat Lily, dia pun memberikan Snack miliknya.


bahkan gadis itu memberikan pada semua anak kecil yang sedang ikut antri bersama orang tuanya.


"terima kasih kakak..."


Lily tersenyum dan memeluk tuan Alan, "kakak baik sekali sih, opa jadi makin sayang," kata tuan Alan.

__ADS_1


"terima kasih opa," jawab Lily malu.


mereka pun memutuskan pulang, setelah dapat martabak telur dan tegangan bulan rasa coklat, kacang wijen.


"mami.. papi... Lily pulang," kata bocah itu dengan ceria.


"halo sayang, kamu bawa apa sih kok aromanya enak sekali?"tanya Tasya.


"Lily bawa martabak, dan terang bulan kesukaan mami," jawab Lily.


ternyata di rumah sedang ada tamu, yaitu juragan Aris, ayu dan Niken, Lily hanya menoleh sekilas kemudian ingin lari masuk.


"Lily sapa dulu nak, gak sopan seperti itu," panggil Tasya memegangi tangan putrinya yang ingin lari.


Lily pun mengalami ketiganya, kemudian lari masuk, ternyata dia berada di ruang khusus yang di kosongkan oleh Arkan.


dia mengajak semuanya makan martabak yang dia bawa, Ki Sesnag pun merasa kembali hidup setelah merasakan makanan itu.


Lily pun tak lupa menggambil ayam goreng yang tadi di belikan Arkan saat akan pulang.


terlebih kong sangat menyukai makanan itu, mereka pun sampai selesai makan, Azam yang tak mau makan pun berakhir di jejali oleh Lily.


bocah itu benar-benar tak ada takutnya, bahkan Azam saat ini dalam mode genderuwo yang seram.


tapi berakhir memalukan di tangan Lily, "cepat makan om, atau Lily pakai sekop nih," omel gadis itu.


"makan gak, atau Lily marah ini, cepat!!" teriak bocah itu.


Azam pun makan, Arkan yang melihat sekilas pun hanya tersenyum dan melanjutkan membuat jamu untuk istrinya.


sedang mbak Utami yang melihat Lily ngomong sendiri pun merasa merinding.


pasalnya dia hanya melihat Lily mengomel tanpa ada temannya, "aduh... neng Lily bikin serem ah," kata wanita itu panik.


Lily pun selesai dan memutuskan untuk kembali ke rumah, dia membawa Kong di tangannya.


ternyata ada Faraz juga, Lily pun hanya memeletkan lidahnya pada Faraz.


"dia kenapa lagi Tasya?"


"dia dari tadi lagi sensi, kami sudah kena, tinggal mas Faraz," jawab Tasya.


"aduh lucunya sih, jadi pingin nimang cucu nih," kata Bu Ayu.


"Niken kode keras tuh, bunda mu nah suka latah," kata juragan Aris.


"mau sama siapa, Niken gak punya kekasih tuh, jadi bunda kalau mau lihat anak kecil, mending hamil lagi deh," kata Niken.


juragan Aris kaget mendengar ucapan Niken, tapi Bu Ayu menahan suaminya itu.

__ADS_1


Arkan datang membawa jamu milik Tasya, dia terlihat begitu perhatian pada Tasya istrinya.


"jika kamu ingin pria seperti Arkan, tuh ada yang Bayu bagi duda, lumayan muka mirip, orang tua sama, dan sudah bonus anak kecil," kata Faraz


"mana mau, terlebih dia baru jadi duda, tak mungkin mau menikah, dan lagi aku belum siap jadi ibu," jawab Niken.


"Niken ingat pesan ku, jangan pernah tinggalkan sholat, jika tidak, kamu bisa dalam bahaya," kata Faraz menginggatkan gadis itu.


karena Faraz merasakan aura Niken yang sedikit gelap, terlebih ucapannya dari tadi terus terdengar menyebalkan.


"iya pak Faraz, dan terima kasih sudah menyetujui skripsi saya, dan akhirnya saya bisa lulus dan lanjut pasca sarjana," kata Niken.


"sama-sama,karena skripsi mu sangat bagus, semuanya begitu jelas dalam pemaparannya tanpa ada kekurangan," jelas Faraz.


"terima kasih," Jawab Niken sekilas.


Lily pun kembali masuk membawa bunga kenanga, melihat itu Faraz langsung mengendong bocah perempuan itu keluar.


"Tasya, gendong putra kita sekarang, dan kalian semua jangan ada yang keluar rumah," kata Arkan yang berdiri di depan pintu.


ternyata dari luar terdengar suara anak ayam, Suni sudah bersiap dengan semua bentuk seramnya.


begitu pun Kong yang melompat dan berubah menjadi besar, Lily tersenyum dan melempar bunga itu ke luar rumah.


"dia itu apa ayah besar?" tanya Lily melihat ada sesosok wanita yang sangat tua.


"dia itu pemilik ajian rawa rontek, ada apa Mbah kesini?" tanya Faraz yang mengendong Lily.


entah memang berani atau bocah itu tak bisa membedakan mana yang bahaya atau tidak.


Lily malah melambaikan tangannya pada sesosok wewe gombel yang ada di atas pohon.


"aku ingin mewariskan ilmu ku pada anak itu, dia memiliki tubuh yang kuat untuk ilmu ini," kata wanita tua itu.


"tidak bisa, itu ilmu hitam, dan kami tak mengunakan ilmu seperti itu di keluarga ini," kata Faraz.


"tapi kamu tak tau, jika saudaramu yang berdiri itu pemilik ajian rawa rontek bahkan lebih sakti dari milikku," kata wanita itu.


dia pun terdiam, bagaimana bisa ajian rawa rontek berada di tubuh Arkan.


sekarang semuanya jelas, arkan memang selalu selamat dari Kematian karena dia tau ajian rawa rontek.


"anda jangan becanda, rawa rontek ilmu hitam, sedang dia selalu mengerjakan semua perintah Tuhan," kata Faraz.


"owh... ternyata dia bisa membuatnya berjalan seimbang, atau aku yang salah, Karena melihat auranya yang kuat," kata wanita itu.


"jika anda ingin mati, paling muda adalah gantung tubuh anda dan jangan sampai menyentuh tanah, karena itu kelemahan dari ajian rawa rontek," kata Faraz.


"terima kasih... dan tolong jaga ari-ari bayi itu,karen aromanya sangat mengiurkan untuk para makhluk yang ada di sekitar sini," kata wanita tua itu sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2