
Nino pun menebak jika wanita itu adalah seorang yang memperkerjakan anak-anak sebagai pengemis atau pengamen.
Nino langsung menghubungi timnya untuk melakukan penangkapan bersama Satpol-PP dan Juga dinas sosial.
benar saja saat tim dari Nino bergerak, banyak anak jalanan dan pengemis terjaring padahal sudah di tulis tata tertib tentang ketertiban.
dan mereka semua melanggar Perda itu. mereka pun di bawa ke dinas sosial kota untuk di pantai dan di rehabilitasi.
termasuk wanita yang tadi menyuruh teman Lily untuk mengamen.
Lily pun mengikuti Nino ke dinas untuk menjemput Adit, pasalnya bocah itu hanya korban.
Karena Nino menebusnya, bocah itu pun bisa di bebaskan, sedang wanita yang tadi sudah harus mendekam di penjara karena kasus eksploitasi anak di bawah umur.
Adit terus terlihat sedih, Adit lapar mau makan tidak?" tanya Lily mengulurkan nasi ayam yang tadi di belikan Nino.
"tidak mau," jawab afit yang terus membuang muka saat Lily menatapnya.
"Lily kita antarkan temen kamu spa kita pulang?" tanya Nino.
"pulang saja, biar nanti Lily bilang pada mami dan papi ya om," jawab Lily.
Nino pun menuju ke rumah Lily, Adit tertegun melihat rumah itu, "rumah Lily bagus,"
"itu rumah papi, Lily cuma ikut saja," jawab gadis itu.
Nino hanya tersenyum simpul mendengar ocehan Lily yang persis seperti orang dewasa.
sedang Afit hanya menurut dan mengangguk, bocah itu seperti masih ketakutan.
terlihat Arkan sudah berdiri bersama Tasya menunggu Nino dan Lily, tapi gadis itu malah tersenyum seperti tanpa dosa.
"kalian dari mana saja?" tegur Arkan
"maaf, tadi macet karena ada razia anak jalanan, dan lainnya, oh ya aku bawa seseorang," kata Nino yang membuka pintu mobil.
ternyata Tasya mengenali Adit, "loh Adit kenapa bisa ikut dengan om Nino dan Lily?" tanya Tasya dengan lembut.
"selamat siang Tante, saya tadi di bawa ke kantor polisi tapi om dan Lily yang membantu saya," jawab Adit.
"biar aku jelaskan," kata Nino.
__ADS_1
mereka semua pun masuk, terlihat Adit yang begitu perhatian pada Lily, bahkan bocah sekecil itu tau bagaimana cara makan dengan baik.
Lily yang memang tak bisa memotong bakso miliknya, di bantu oleh Adit.
bahkan kera putih pun nampak langsung akrab dengan bocah itu, Nino menceritakan apa yang terjadi.
Tasya merasa iba dengan bocah sekecil itu yang harus bekerja, dia tau rasanya besar tanpa ibu tapi dia masih di beri kemewahan oleh sang Daddy.
tapi Adit lain, dia hidup dengan kakek nenek yang serba kekurangan, "boleh kita mengadopsinya, setidaknya Lily akan memiliki teman," kata Tasya
"tentu, tapi kita harus menemui wali Adit dan mengurus segalanya, aku juga mengerti jika saat kita sibuk Lily pasti kesepian," jawab arkan.
"terima kasih," jawab Tasya.
Nino tak mengira jika kedua pasangan itu begitu mudah memutuskan sesuatu, bahkan Arkan dan Tasya sama-sama saling mendukung.
"ada apa? kamu cemburu?" tanya Arkan yang melihat Nino.
"tidak, aku hanya senang melihat pasangan yang saling mendukung seperti ini," jawabnya.
"makanya cepet nikah sana, kasihan kelamaan hidup menjomblo," ledek arkan.
"sialan kamu, tapi ngomong-ngomong dimana Faraz, aoa dia pulang?" tanya Nino yang tak melihat batang hidung pria itu.
"baiklah aku istirahat dulu, karena nanti malam aku ada tugas jaga, kapan lagi nebeng molor di rumah juragan kaya ini," kata Nino yang berlari ke kamar paling belakang.
Arkan dan Tasya pun menghampiri dua bocah itu, "Lily... seandainya Adit tinggal bersama kita, kamu mau tidak nak?" tanya Tasya.
"mau dong mami, karena Lily jadi punya temen, iyakan Adit," tanya Lily
"tapi saya tidak mau meninggalkan kakek dan nenek saya," jawab bocah itu.
"kamu tidak meninggalkan mereka nak, kami ingin mengadopsi kamu menjadi kakak Lily, dan menjadi pelindung untuknya, karena om lihat Adit begitu mengayomi Lily," kata Arkan mengusap kepala bocah itu.
"karena Lily itu lemah dan sering di ejek aneh, padahal Lily hanya spesial, dan dua itu istimewa," jawab Adit.
"kita ke rumah kakek nenek Adit, biar kami mengutarakan semuanya, jadi Adit gak usah takut untuk semua biaya pendidikan dan hidup, karena itu akan jadi tanggung jawab kami," kata Tasya.
bocah kecil itu tak mengerti tapi hanya mengangguk saja, tapi dia tau jika dia di ijinkan untuk menjaga Lily.
terlihat Lily begitu senang, kini mereka pergi meninggalkan dua pria yang sedang tidur itu.
__ADS_1
Arkan sempat menitipkan penggilingan pada pak Sugeng karena dua terlalu sibuk begitupun Tasya.
mereka menuju ke rumah gubuk itu, mobil Arkan tak bisa masuk lagi karena harus melewati jalan sempit di antara rumah warga.
mereka pun berjalan mengikuti Adit hingga menemukan sebuah rumah yang hampir roboh di paling ujung dari jalan itu.
terlihat ada seorang nenek yang sudah begitu renta, bahkan untuk berdiri saja sudah menggunakan tongkat.
"assalamualaikum..." sapa Tasya.
"waalaikum salam," jawab nenek itu.
"embah..."kata Afit memeluk wanita tua renta itu.
"loh le, kok sudah pulang, bukannya kamu ikut bude biar di sekolahkan, jika kamu di sini, Mbah gak bisa sekolahin kamu, orang embah Nang juga sakit," kata nenek Adit itu.
"Allahuakbar!" kata Arkan yang terdengar marah.
pria itu bahkan langsung masuk kedalam rumah itu dan melihat seorang pria tua yang begitu kurus sedang terbaring di ranjang yang terbuat dari bambu.
"embah, maaf saya bukan kasar, tapi embah harus ke rumah sakit," kata Arkan yang langsung mengendong pria itu.
bahkan tubuh pria itu sudah sangat ringan bagi Arkan, "loh mau di bawa kemana," bingung embah uti dari Adit.
",mau di bawa ke rumah sakit Mbah, Monggo panjenengan ikut juga, biar sekalian di cek, Adit ayo nak," panggil Tasya.
mereka pun langsung menuju mobil, semua tetangga kaget melihat Agit yang tanpa jijik mengendong embah Nang dari Adit.
bahkan Tasya membantu embah uti untuk berjalan, "jika anda semua tak ingin membantu, setidaknya tak usah memandang seperti itu," tegur Tasya
mereka semua langsung melengos mendengar perkataan dari Tasya, "dasar wanita-wanita jahat, lihat itu mereka temen setan, ayo Adit," kata Lily yang mengandeng tangan Adit.
Tasya hanya menghela nafas, pasalnya Lily akan persis Arkan saat marah, selalu mengatakan hal buruk.
mereka pun menuju ke rumah sakit, sesampainya di sana, embah Nang dan embah uti di periksa oleh dokter.
dan ternyata mereka harus rawat inap, Arkan pun menurut kepada dokter agar kedua orang itu sehat.
"terima kasih om, Adit harus bagaimana membalasnya," kata bocah itu di depan arkan.
Arkan pun berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Adit, "tolong jaga Lily sampai kapan pun, karena dia adalah hidup om dan Tante,"
__ADS_1
"baik,aku berjanji untuk terus menjaga Lily, aku berjanji pada om dan Tante," kata Adit dengan penuh keyakinan.
Tasya dan arkan pun merasa senang mendengar janji yang di ucapkan oleh bocah kecil itu.