
keesokan harinya, Faraz baru selesai sarapan dan bergegas menemui keluarga juragan Aris.
ternyata saat di sana dua melihat tangan Niken yang sudah memar dan juga luka.
"ibu, boleh minta garam dan air," kata Faraz pada Ayu.
"baiklah aku ambilkan, sebentar,"
ayu kembali membawa apa yang di minta pria itu, dan kemudian Faraz mengobati luka itu.
air yang disiram ke luka itu berubah menjadi hitam, dan kemudian perlahan luka itu menjadi samar.
"lain kali kalau mau mandi, ingat baca doa dulu sebelum masuk kamar mandi, dan ingat pakai kaki kiri," kata Faraz.
"iya maaf, semalam aku buru-buru jadi tak baca doa," jawab Niken.
"dasar gadis ini, kamu sudah dewasa tapi kenapa masih seperti anak-anak begini," kata Aris mengacak rambut putrinya itu.
Niken pun berangkat terlebih dahulu karena ada kuliah, sedang Faraz harus mampir ke tempat Arkan untuk mengembalikan rantang.
setelah itu dia baru berangkat ke kampus, sedang Arkan sudah pergi dengan beberapa anak buahnya.
"ada apa mas Arkan kok mengajak kami ke tempat ini, padahal tempat ini sangat angker terlebih tempat ini makin angker saat kemarin di temukan sebuah mayat," kata pak Sugeng
"kapan?" tanya Arkan
"satu tahun yang lalu," jawab pak Sugeng.
"yey... itu bukan satu tahun kali," kata Arkan melihat anak buahnya.
"kan tadi cuma kurang kemarin satu tahun yang lalu gitu saja mas," jawab pak Sugeng.
tempat itu di tanami oleh beberapa semak yang cukup rimbun, hingga mereka tak bisa melihat tanah yang mereka pijak.
pemilik kebun pun datang, dia memang ingin menemui Arkan untuk meminta tolong.
terlebih sudah berkali-kali di jual, tapi tanah itu tak kunjung laku, dan itu membuat pemiliknya frustasi.
"pak Amir, maaf ya mas Arkan memaksa ingin main ke kebun ini," kata pria itu.
"gak boleh, kecuali dia membeli kebun itu," jawab pria itu marah.
"baiklah dua ratus lima puluh juta,aku akan beli cash," jawab arkan yang mengurungkan niatnya.
"baiklah saya setuju," jawab pria itu, terlebih dia tau jika tak akan ada yang mau membeli tanah itu.
__ADS_1
Arkan segera mengajak pria itu ke rumah, dan beruntung karena Tasya sedang menyimpan uang cash yang cukup.
jadi pagi itu di saksikan oleh semua orang, mereka pun melakukan jual beli tanah kosong angker itu.
setelah sudah selesai, Arkan mengajak pak Sugeng untuk membersihkan kebun itu.
sedang penggilingan beras di jaga oleh Tasya yang memang memilih untuk membantu suaminya itu
restoran di pegang oleh Lina orang yang di percaya oleh Arkan, terlebih Tasya juga tau wanita itu.
"loh Bu juragan yang jaga, mas juragan kemana? kok tumben jaga sendirian?" tanya Arkan
"mas juragan sedang mengurus sesuatu, jadi sementara saya yang mengantikan dirinya, ada apa pak Bejo?" tanya Tasya melihat pria itu
"biasa Bu juragan, mau membeli dedek buat minum sapi, jadi bisa beli lima puluh kilo Bu juragan," tanya pria itu.
"baiklah, biar saya lihat dulu ada apa tidak," jawab Tasya.
dia memanggil salah satu pegawai penggilingan beras itu, dan ternyata ada jadi pria itu segera dapat apa yang dia inginkan.
sedang Arkan sedang membersihkan kebun yang batu di beli barisan.
pak Sugeng awalnya takut, tapi Arkan meyakinkan pria itu jika Semuanya akan baik-baik saja.
mereka fokus membersihkan semua rumput dan semak-semak, cukup lama kebun pun terlihat lebih bersih.
pak Sugeng membakar semak-semak itu, Arkan menginjak sesuatu yang tertanam di tanah.
dia pun melihat seperti kotak, dan dia pun mengambilnya, dan ternyata itu adalah kotak perhiasan.
"apa ini," bingungnya.
tapi tiba-tiba Arkan terduduk ke tanah dan tak sadarkan diri sambil duduk.
dia melihat seorang pria yang naik motor dengan wajah bahagia, "akhirnya aku bisa menikahimu sayang, aku sudah siap," gumam pria itu.
tapi saat Arkan akan pergi, tiba-tiba hantu pria itu muncul tepat di depan Arkan.
"anjing kaget!!"
hantu itu cuma berbalik badan dan pergi, sedang Arkan masih memegangi dadanya, karena bentukan hantu itu terlalu seram.
tapi sebuah mobil memepet motor pria itu hingga jatuh, dan kemudian tiga pria keluar dan langsung membacoknya dengan membabi buta.
bahkan tangan putus di buah di selokan, wajah pria itu juga di bacok begitupun dengan kaki.
__ADS_1
pria itu berteriak tapi tak ada yang menolong. dalam keadaan sekarat pria itu di buang di kebun kosong itu.
"hei kampret ya, ya kali aku harus menolong mu tanpa tau bentukan sosok Fifi," kata Arkan kesal.
"Fifi..." lirih hantu itu
"au ah..." kata Arkan yang kembali ke dalam tubuhnya.
dan ternyata pak Sugeng sedang mencoba membangunkan dirinya, "ya Allah juragan, bangun dong ini gimana sih," bingung pria itu.
Arkan langsung berdiri dan mengejutkan pak Sugeng, "Allahuakbar," kaget pria itu hingga terjatuh.
"maaf pak, saya memang begitu kalau kelelahan, pulang yuk sudah selesai ini," jawab Arkan dengan mudah.
pak Sugeng pun di buat geleng-geleng melihat tingkah Arkan.
mereka pun pulang, dan saat sampai di penggilingan dia menemui Tasya.
setelah menyapa istrinya, dia segera mandi dan menjemput Lily, karena setelah dhuhur dia harus menggantikan Tasya.
saat istirahat siang, Tasya bergegas mandi karena tak mau melihat putrinya itu melihat dia yang kotor.
Lily pulang dan langsung masuk kedalam rumah, "mami... dimana? Lily pulang," panggil gadis kecil itu.
"waalaikum salam gadis kecil mami, maaf ya sayang,mami di dalem... sekarang ayo ganti baju dulu," jawab Tasya.
"oke mami," jawab Lily.
Arkan memasak omelette telur untuk kedua wanita cantiknya, dia juga membuat sambal.
"papi mau ayam goreng tepung," kata gadis kecil itu yang sudah lari padahal belum selesai di kucir.
"ya Allah sayang, mami belum selesai itu," kaget Arkan melihat rambut putrinya yang masih berantakan.
"habis mandi muntah di kamar mandi," jawab Lily.
"kenapa? mami!!" teriak arkan.
Lily pun ikut masuk kedalam kamar, ternyata Tasya sudah keluar dari kamar mandi.
"kamu kenapa sayang?" tanya Arkan.
"ah... tidak ada apa-apa, hanya sedikit mual, sini Lily itu rambutnya belum selesai," panggil wanita itu.
Lily pun duduk di ranjang dan Tasya mengikat rambut putrinya dan Arkan kembali ke dapur.
__ADS_1
siang itu mereka makan bersama, Lily begitu manja pada Tasya. dan Arkan sedikit buru-buru karena dia harus ke penggilingan beras milik sang ayah di desanya.
sedang Lily sudah tidur siang dan di jaga oleh kera putih dan Suni, karena Tasya harus kembali mengawasi muat beras yang sudah di pesan oleh langganan.