
makan siang itu berjalan biasa saja, meski Arkan terlihat tak suka dengan ucapan dari Niken, tapi Arkan terlihat menikmati masakan istrinya.
sedang Niken merasa jika masakan dari Tasya tak seenak yang terlihat, bahkan baginya rasa masakan itu sedikit aneh, tapi kenapa semua orang terlihat begitu lahap.
bahkan Faraz yang juga biasanya memilih makanan juga terlihat begitu menikmati.
bahkan si kecil pun juga, Lily bahkan terus memakan ayam goreng yang bentuknya tak karuan yang di buat oleh sang mami.
"ada apa Niken, apa masakannya tidak enak, maaf aku memang baru belajar, jadi harap maklum ya," kata Tasya yang melihat Niken nampak tak suka.
"tidak masakan mu enak kok, terlebih sambal cumi asinnya, lihat tuh suamimu sampai nambah nasi karena kalap begitu," kata Faraz.
"maaf mbak bukan gak enak, aku sedang diet, karena timbangan ku sedang naik,"jawab Niken yang berbohong.
"kamu sudah mulai pintar membuat sambal, belajar dari siapa?" tanya tuan Alan
"dari mbak Utami, penjual sayur tadi Daddy," jawab Tasya.
"rasanya mantap, oh ya Lily mau ikut opa ke tempat kakek mu tidak, karena opa ada janji di sana," kata tuan Alan.
"atau mau ikut papi sama mami ke rumah Adit?" tawar Arkan melihat putrinya itu.
"emm ... aku ikut ke rumah kakek saja, akun ingin bertemu dengan Anand, papi," jawab Lily.
"baiklah berarti aku dan Niken akan pulang," kata Faraz.
"baiklah, maaf bukan mengusir tapi rencana kami memang sudah lama," jawab Arkan.
"tak masalah, kami memang seharusnya pergi," kata Faraz.
"baiklah Papi tunggu dulu biar aku menyiapkan semua untuk di bawa ke rumah Adit dan kakek neneknya ya," kata Tasya yang di angguki oleh arkan.
dia menunggu di luar sedang Lily dan tuan Alan sudah berangkat, sedang Faraz dan Tasya masih di luar.
"Niken tadi adalah hal terakhir yang kamu ucapkan sebagai omong kosong, jangan pernah ingat masa lalu atau jangan pernah menginjakkan kaki mu di sini lagi," kata arkan dingin.
"kamu berubah Arkan," kata Niken
"apa? aku berubah, memang karena aku sudah mengubur semua masa lalu buruk itu, tak perlu di ingat juga, dan sekarang aku hidup bahagia bersama istri dan putriku, tolong jangan lampaui batas karena selama ini aku bersikap biasa karena Faraz yang masih mengobati mu, jika tidak aku tak akan pernah mau kamu di sekitar Tasya dan Lily, jadi ingat itu," kata Arkan dengan dingin.
__ADS_1
"apa kamu sudah benar-benar melupakan ku, atau ini hanya ucapan mu saja karena yang sebenarnya kamu tak bisa melupakan aku, karena bagaimanapun aku lebih baik dari istrimu itu," kata Niken dengan nada mengejek.
"Niken!!!" teriak Arkan mengangkat tangannya.
ingin sekali Arkan menampar pipi gadis itu, "argh..." teriak Arkan memukul tiang di depan rumahnya dengan keras.
"jika bukan karena kamu wanita dan putri dari om Aris, aku pasti sudah membunuh mu dari lama, dari kamu menjadi istri dari genderuwo itu!!" marah Arkan yang tak bisa menahannya lagi.
Faraz yang sedari hanya diam pun tak tahan lagi, "kamu sudah keterlaluan jadi lebih baik sekarang kamu pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki mu di sini, atau aku pastikan kami semua tak ingin membantumu lagi, cukup kami bersabar dengan tingkah mu itu," marah Faraz yang langsung menarik wanita itu dan memaksanya masuk kedalam mobil.
"pergi!!" teriak Faraz.
Niken pun merasa malu, dia tak mengira jika dia tak ada lagi di hati arkan.
"dasar konyol, kamu bertanya pada orang yang salah, sudah tau dia tak mungkin masih mencintaimu karena ia sudah memiliki Tasya, dasar gadis bodoh," kesal Niken saat menyetir mobilnya.
Faraz sudah membeli rumah yang dia tempati secara full, dan kini dia Mengantikan semua password dari rumahnya, terlebih dia tak ingin ada seseorang yang keluar masuk secara sembarangan.
Niken sampai dan langsung menuju ke kamarnya dan menangis, dia merasa hidupnya begitu konyol.
sedang Faraz juga memilih untuk mandi dan kemudian menuju ke pondok pesantren milik ustadz Arifin.
jika tidak mereka berdua bisa melakukan hal yang mungkin akan melukai pria itu.
Anna terlihat sedih, Faraz pun mendekati gadis itu tapi tetap dengan batas aman, "kenapa begitu sedih, apa kamu tak bisa melepasnya?" tanya Faraz pada wanita itu.
"bukan dia tapi putrinya, aku yang selama ini menjaganya," lirih Anna.
"kenapa bingung, buat sendiri saja, gitu aja kok repot, pasti putrimu nanti akan secantik dirimu," jawab Faraz tersenyum menggoda Anna.
"dasar tukang gombal," kata Anna yang kemudian pergi meninggalkan pria itu.
Faraz hanya tertawa melihat wanita itu, sedang Anna sedikit merasa malu.
karena Faraz begitu terbuka dan biasa membahas pernikahan, bahkan tentang seorang anak dengan begitu santai.
Anna terus melihat kearah Faraz hingga sang umi mengejutkan putrinya itu.
pria itu akhirnya pergi meninggalkan pondok pesantren itu, sedang di mobil Tasya masih terus diam selama perjalanan menuju ke rumah Adit.
__ADS_1
"kamu mendengar semuanya bukan, tolong jangan marah ya sayang, kamu Kan tau jika dia memang mantan kekasihku," kata Arkan yang bingung mau menjelaskan bagaimana lagi.
"aku mengerti papi, aku hanya tak mengira jika mbak Niken bisa mengatakan hal seperti itu, tapi aku beruntung karena suamiku ternyata sangat mencintaiku," kata Tasya tersenyum.
"bagaimana tidak, aku bahkan rela menunggu lima tahun untuk bisa bersama mu lagi, dan terbukti kita itu top cer loh jadi tak mungkin tergantikan, ini bukti cinta kita lagi masih di sini," kata Arkan yang mengusap perut istrinya yang mulai membuncit.
"dasar papi ini, sudah ayo kita masuk dan segera bertemu dengan embah Nang dan embah uti," ajak Tasya.
Arkan pun turun dan segera berlari untuk membuka pintu mobil untuk istrinya itu.
Arkan membawa sembako dan makanan yang tadi di masak oleh Tasya karena tadi masak cukup banyak.
mereka pun menuju ke rumah dari Adit, ternyata bocah itu sedang duduk bersama kedua kakek neneknya.
"assalamualaikum..."
Adit terlihat begitu senang saat melihat kedua orang tua angkatnya itu datang.
"waalaikum salam, mami papi datang," kata bocah itu langsung mencium tangan kedua orang itu.
"bagaimana keadaan mu nak, dan kakek nenek mu? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Tasya.
"Alhamdulillah mami kami semua baik, mari silahkan duduk," ajak Adit.
Arkan dan Tasya sudah menyalami kedua orang yang selama ini menjaga Adit.
"Alhamdulillah nduk... Mbah sehat," jawab embah uti.
mereka pun berbincang dengan hangat, terlebih tentang perkembangan dari Adit.
sebenarnya Tasya dan Arkan ingin mengajak bocah itu tinggal bersama mereka di rumah.
tapi bocah itu menolak karena masih ingin menjaga kedua kakek neneknya jadilah Tasya dan Arkan mengalah dan tetap memantau dari jauh.
jadilah Tasya dan Arkan akan mengunjungi mereka seminggu sekali atau bahkan sedikit lebih lama karena kesibukan dari keduanya.
mereka pun duduk menikmati singkong rebut yang di tanam di sekitar rumah itu.
Arkan tertawa senang terlebih dia sudah sangat dekat dengan sosok Adit.
__ADS_1
mereka berbincang hingga tak sadar jika waktu sore hari, mereka pun pamit untuk pulang takutnya Lily marah karena mereka belum sampai rumah.