
Anand sedang main bersama Lily, tapi bocah laki-laki itu terlihat sedih. "kamu kenapa begitu sedih, apa aku melakukan kesalahan lagi?"
"tidak kok, aku hanya merasa sedih saja," jawab dari Anand.
jenazah dari Nayla, dan kedua orang tuanya sudah bisa di ambil. Aryan membawanya ke rumahnya.
bagaimana pun itu dulu juga rumah Nayla meski mereka memutuskan berpisah secara tidak baik.
Rania kaget mendapatkan kabar sedih itu, dia pun mengajak Anand dan Lily pulang ke rumah kakek neneknya.
mobil Rania harus parkir di kejauhan, karena semua orang sudah ramai berkumpul di rumah Raka.
Anand dan Lily terlihat kebingungan, dua bocah ini seperti tak mengerti apapun.
"ada apa Tante, kenapa rumah Mbah kok ramai," tanya Lily.
gadis itu tak pernah melepaskan kera putih kecil miliknya, Anand melihat ada bendera putih yang terpasang.
Anand langsung berlari karena dia tau arti dari bendera itu, ternyata di ruang tamu sudah ada tiga peti jenazah.
"ayah.... siapa yang meninggal?" tanya Anand dengan sedih
Aryan pun hanya memeluk putranya itu, Lily terdiam melihat tiga peti jenazah itu di ruang tamu.
Arkan langsung mengendong putri kecilnya itu, mereka juga baru datang setelah tadi mandi sebentar.
"ya sabar ya anand, mereka adalah bunda, eyang Prapto dan Mbah dok," kata Aryan pada putranya.
"apa.... bunda..."
Anand menangis di pelukan Aryan, dia tak mengira ibunya sudah meninggal menyusul bayi kecil adiknya itu.
Anand tak bisa berhenti menangis dan memeluk peti jenazah itu, pasalnya Aryan tak mengizinkan putranya melihat kondisi dari Nayla yang sudah begitu buruk.
Faraz mengendong keponakannya itu, dia tau perasaan dari anand yang harus kehilangan ibu di usia muda.
akhirnya ketiga peti di berangkatkan menuju ke makam desa, Raka dan Wulan juga ikut dalam memakamkan jenazah besan dan menantunya itu.
Anand kini berada di pelukan Wulan, akhirnya pemakaman selesai dan mereka kini memilih tinggal di sana dan mendoakan ketiganya.
setelah itu mereka pun pulang, dan menyiapkan untuk pengajuan nanti malam.
__ADS_1
di rumah sakit Tasya tak menganggu suaminya sana sekali, tapi dia masih bingung menentukan nama untuk Putranya.
"Linga Harayudha Arkana," kata tuan Alan pada seorang suster.
pasalnya dia sudah dapat pesan dari Arkan agar memberikan nama untuk Putranya itu.
dia pun dengan senang hati menamai cucu laki-lakinya itu, dan nama itulah yang terpilih.
"bagaimana pemakaman dari mbak Nayla dan orang tuanya Daddy, apa Daddy sudah dapat kabar dari mas Arkan?" tanya Tasya lirih.
"sudah selesai, dan Anand sangat sedih sedang putri mu ya Tuhan,kata Faraz dia malah berkenalan dengan semua arwah di pemakaman," jawab tuan Alan.
"apa, Lily..." kata Utami kaget.
"ha-ha-ha jangan syok gitu mbak, bocah itu memang persis ayahnya yang kadang suka lupa menyembunyikan kemampuannya," kata Tasya tersenyum.
"ya Tuhan mungkin kalau aku bisa jantungan mungkin kalau tau putriku seperti itu," kata Utami ngeri
"bagaimana putri mu ingin lahir, suami saja tak punya," ledek tuan Alan.
"hei anda tuan mister, anda menghina ku, terus apa kabar dengan anda yang juga seorang duda, jadi jangan sok ya," jawab Utami kesal.
melihat keduanya saling ledek Tasya tertawa pasalnya keduanya seakan tak terima satu sama lain.
"Daddy bagaimana jika Daddy berhenti dan mulai menikmati hidup, biarkan semua pekerjaan di handel oleh kak Van dan suamiku, jadi Daddy temani aku di sini dan carilah istri dan berbahagialah, cukup Daddy terus bekerja dan bekerja selama ini, ini waktunya Daddy menata hidup," kata Tasya.
"tapi Daddy sudah tua, cukup hanya melihat kedua cucu ku, aku sudah bahagia, lagi pula tak ada orang yang bisa menggeser posisi mama mu," kata tuan Alan sedih.
"bukan mengeser Daddy, tapi bersanding, tidak ada yang meminta Daddy melupakan mama, tapi cobalah cari wanita yang bisa menyentuh hatimu, buat dia sebagai kebahagiaan mu, aku ingin melihat Daddy bahagia," kata Tasya memohon.
"baiklah aku mengerti sayang, sekarang Daddy mau cari makanan dulu, ses Utami mau juga?" tawar tuan Alan dengan wajah menyebalkan.
"anda menawarkan atau mengajak ribut sih," kesal wanita itu.
"ha-ha-ha aku benar-benar menawarkan ses, jangan marah gitu lah, nanti cepet tua loh, aku belikan seblak ya, katanya wanita Indonesia suka pedes,"
"tidak Semuanya, saya tidak kok," kata Utami sinis.
Tuan Alan makin menjadi menggoda wanita itu, dia pun pergi setelah Tasya menegurnya.
di pemakaman tadi, Lily terus melambaikan tangannya pada sesuatu hingga membuat para orang heran.
__ADS_1
"sayang jangan terus bergerak, kamu dari tadi sudah menakuti semua orang," kata Arkan
"habis banyak anak kecil lari-larian gak pakai baju, ada Tante yang terus melambaikan tangan, terus itu om Azam dan Ki item duduk di pohon jambu monyet papi!!!" teriak Lily yang membuat arkan kaget sampai kupingnya berdenging.
dia tak mengira jika putrinya itu bisa seaktif ini, "iya tapi jangan berteriak," kata arkan.
"maaf deh papi, tapi itu Anand kasihan ya papi, dia terus nangis dari tadi, sampai wajahnya bengkak," bisik Lily.
"itu Lily harus bantu adiknya, hibur dong, biar bisa senyum lagi itu anand nya," kata Arkan.
"oke oke," jawab Lily yang ingin menghampiri Anand tapi tangannya di pegang oleh Rania.
"Lily mau kemana?"
"mau main sama anand Tante Rania yang cantik." jawab gadis itu.
"Lily sebelum itu ayo mandi dulu yuk,tadi habis dari makam," kata Rania menarik gadis itu.
Lily pun pasrah dan akhirnya mandi, setelah mandi gadis itu malah ketiduran, dan ternyata anand juga tidur di samping Lily.
Aryan melihat putranya yang begitu tertekan melihat kematian ibu dan kakek neneknya.
tapi mau bagaimana lagi, malam itu pengajian di adakan setelah sholat magrib.
rumah Raka terlihat begitu ramai, kedua bocah itu pun di paksa bangun karena tak baik tidur saat magrib.
Lily menyuapi anand agar mau makan, Lily yang notabene lebih kecil dari anand.
malah mengurus bocah itu, terlebih Lily terlihat begitu aktif mengajak anand berbicara dan bercanda.
Faraz menghampiri keduanya, "anand, jangan sedih ya, jika anand seperti ini pasti mereka juga sedih di sana, anand mau melihat bunda, Mbah kung dan Mbah dok sedih,"
anand mengeleng pelan, "kalau begitu anand harus ikhlas, anand tidak sendiri,ada ayah besar, ada papi, ada ayah anand,dan juga mami Tasya, terus ada Mbah kung dan Mbah uti juga, belum lagi ada Mbah de, Mbah lek, dan masih banyak lagi," kata Faraz
"iya ayah besar," jawab bocah itu yang mulai tenang.
Lily yang senang langsung memeluk anand hingga terjatuh. melihat itu Faraz dan Arkan kaget.
"Lily, itu anand bisa gepeng," kaget keduanya.
*********
__ADS_1
maaf ya hari ini semua novel ku up cuma satu, karena hati gak mood dan lagi aku sibuk di dunia nyataðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜