
Arkan sampai di rumah, dia melihat Tasya yang masih mengendong bayi Linga.
"kamu belum tidur?" tanya arkan yang masuk rumah.
"bagaimana aku bisa tidur, orang kamu saja belum pulang, memangnya ada apa mas?"
"tidak ada, sudah tidurlah, aku masih ada urusan," jawab Arkan yang nampak tak ingin di ganggu.
Tasya menidurkan putranya di ranjang, dan kemudian keluar rumah, ternyata suaminya sedang melakukan sesuatu.
"kamu ingin mengirimkan ilmu santet mas?" tahta Tasya
"bukan ilmu santet, tapi kutukan," jawab Arkan sekilas.
dia langsung mulai membaca setiap mantra, dan mulai memberikan tanah yang tadi di ambil pada beberapa makhluk yang susah siap menyebarkannya.
Kong pun membantu, dia menancapkan sebuah bambu di rumah bekas milik Adit dan keluarga.
bahkan dalam semalam itu, rumah itu sudah di penuhi pepohonan bambu yang melingkar dan menutup ke rumah itu.
"kamu mau kemana mas?" tanya Tasya.
"aku harus menyebarkan ini semua," kata Arkan.
"tak usah, kita bisa melakukannya dari jauh," kata Tasya mengeluarkan panah ghaib miliknya.
setelah itu, mengerikan benda itu pada Arkan dan di gunakan untuk mengirimkan kutukan itu.
dan benar, panah itu melesat dengan kawalan dari Ki Sesnag, dan tepat mengenai seluruh kampung itu.
akhirnya tugas mereka selesai, Kong pun tersenyum karena baru kali ini dia bisa melihat kekuatan hitam sebanyak ini.
Arkan pun sudah melepaskan semua kekuatan hitam miliknya untuk membuat kampung itu jatuh dalam kutukan tanpa ujung.
malam itu semua warga mulai terserang penyakit gatal dan panas di sekujur tubuh.
perlahan luka karena gerakan menggaruk kulit perlahan mulai menyebabkan luka di tubuh.
__ADS_1
"sudah bukan, sekarang kita istirahat, dan mas Arkan harus istirahat sepenuhnya jangan melakukan hal lain lagi," kata Tasya.
"baik sayang," jawab Arkan.
wanita tua yang kemarin menemui Faraz pun tersenyum, "ternyata kamu mewariskan ilmu mu pada canggah mu gok, tapi dia memang pria yang sangat hebat, bisa menyelaraskan semuanya, dan memiliki keluarga yang tak kalah hebat," gumam wanita itu yang perlahan berjalan melewati rumah Arkan dengan tongkat kayu Cendana sebagai alat bantu.
tak ada siapapun yang mengenal wanita misterius itu, dia bisa datang dan pergi sesuai keinginannya sendiri.
*********
keesokan harinya, semua warga kampung di tempat lama Adit tinggal terkena penyakit aneh.
di tubuh mereka tumbuh luka yang tak akan pernah bisa sembuh, bahkan tercium aroma busuk dari luka-luka itu.
mereka pun berbondong-bondong ke puskesmas dan rumah sakit, bahkan desa itu pun seketika di isolasi dari dunia luar.
mbak Utami yang ingin masuk desa itu karena itu adalah rute dia berjualan pun heran melihat beberapa petugas kepolisian dan satpol PP.
"loh pak,ada apa? saya ingin kesana untuk jualan," kata mbak Utami.
"tidak boleh Bu, lebih baik berputar ke tempat lain, karena di desa ini sedang ada wabah yang belum di ketahui penyebabnya, dari pada anda tertular, lebih baik anda semua jangan mendekat atau bersentuhan dengan semua orang dari desa itu," kata polisi memperingatkan.
dia pun memutar sepeda motornya dan berkeliling ke tempat dan desa lainnya.
perlahan tubuh para warga membusuk dan putus-putus mulai dari jari-jari mereka, para dokter tak bisa menjelaskan fenomena ini, terlebih mereka baru melihat kejadian seperti ini.
Faraz yang mendengar desas-desus yang menyebar begitu cepat pun penasaran.
dia pun masuk desa itu dengan menyusup, dia pun berhasil masuk, dia bisa merasakan aura ilmu hitam yang begitu terasa pekat.
dia melihat semua orang sedang berada di tengah lapangan, dan Faraz mengelilingi desa, tapi dia merasa heran dengan sebuah pohon bambu yang tumbuh semalam karena kemarin dia ingat tak ada hutan bambu seperti itu.
"sebenarnya ini apa, kenapa semua orang bisa seperti, padahal kemarin semuanya baik-baik saja?" bingungnya.
dia tak sengaja melihat beberapa jenglot yang berlarian, padahal ini masih siang hari.
"jenglot itu kenapa berkeliaran saat ini. apa ini? kenapa mereka bisa berlarian seperti ini, padahal masih siang,"
__ADS_1
dia pun mengambil apa yang di tebarkan, dan benar saja feeling Faraz jika ini bukan penyakit normal.
dia pun segera memutuskan untuk pulang, tapi sebelum itu dia Mandi terlebih dahulu.
setelah siap, dia langsung menuju ke area rumah Arkan,terlihat pria itu sedang duduk santai bersama dengan Aryan yang kebetulan main ke sana.
terlebih tadi dia habis mengantarkan anak-anak ke sekolah, "kenapa kamu datang dengan muka jutek begitu, jangan bilang kamu ke tikung orang lagi," kata Aryan meledek kakaknya itu
"bukan urusan mu, dasar pria brengsek,kenapa kamu duduk santai, sedang di sana banyak orang menderita, karena kutukan mu satu desa hampir mati," kata Faraz marah
"kan masih hampir, belum mati juga, jika mati pun itu terlalu enak untuk mereka, sekali-kali nikmati siksaan dong," kata arkan santai
"tapi kenapa kamu begitu jahat, sembuhkan itu akan membuatmu masuk neraka, dosa Arkan," kata Faraz
"dosa bukan kamu yang menghitungnya, kenapa kamu sibuk mengurusinya, sudah tak usah repot karena sudah ada yang mencatatnya sendiri, dan aku hanya menjalankan permintaan dari pak RT, dia bilang jika tak takut untuk menjadi seorang yang menanggung musibah, dari pada membantu keluarga narapidana, jadi aku kabulkan," jawab Arkan membungkam Faraz
"lihat bang, jangan pernah menyalahkan kami terus, terlebih tak semuanya itu salah kami," kata Aryan yang membela saudaranya itu.
"kalian itu sama saja, setidaknya buat lukanya sedikit bisa mengering," mohon Faraz.
"lakukan saja, kamu juga bisa melakukannya, jadi tak usah bingung, kamu tak yakin bisa mematahkan kutukan leluhur kita, asal kamu tau kutukan itu tak bisa di cabut apapun yang kamu lakukan, tapi kamu bisa membantu mereka dengan cara meminta mereka berubah menjadi orang baik," kata Arkan enteng.
"baiklah aku akan mencobanya," jawab Faraz.
dia pun pergi ke kampung itu lagi untuk menjelaskan apa yang bisa meringankan kutukan itu.
Faraz pun akhirnya di izinkan masuk, semua orang sudah makin parah, mereka terlihat kesakitan sambil terus menggaruk tubuh mereka dengan kasar
"kalian semua dengarkanlah!!" panggil Faraz.
semua menoleh tak terkecuali seorang dokter yang sedang membantu mengobati luka dengan baju safety.
"kalian bisa merasa baikan, saat mengatakan apa yang pernah kalian lakukan, jujurlah dan pak RT kamu salah menantang orang, sekarang dia tak ingin membantu kalian sama sekali," kata Faraz.
"apa, aku tak pernah Mengatakan apapun," tanya pak RT
"anda yakin, ah itu bukan hanya kesalahan mu pak RT, semua orang di kampung sini ikut andil, kalian semua menolak membantu memakamkan sepasang suami istri bahkan menghinanya, jadi ini seperti pelajaran untuk kalian, terlebih kalian keterlaluan, sudah ingat pak RT," kata Faraz.
__ADS_1
pria itu diam, dia ingat ucapan dari Arkan, dan tubuhnya sangat lemas seketika.
dia tak mengira jika pria yang nampak biasa itu bisa melakukan ini padanya dan juga semua orang di kampungnya.