TAK SANGGUP BERBAGI

TAK SANGGUP BERBAGI
Perubahan Sang Mertua


__ADS_3

21.


Rio kebingungan mendapati istrinya yang tengah tidak berdaya di sampingnya—tentu saja karena aktivitas barusan yang menguras isi perutnya. Rasa bersalah kembali hadir karena lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk sekadar meringankan beban yang di alami oleh istrinya.


“Andai aku bisa menggantikan kamu bekerja di luar, pasti sudah aku lakukan,” katanya menatap istrinya. “Sepanjang hari, aku hanya bisa melihat kamu sibuk. Melompat ke sana-ke sini untuk mencari uang, belum lagi harus mengurusku, Feby dan Dirly.”


“Makanya cepat sembuh... biar kamu bisa bantu aku.” Rahma memegang tangan suaminya dan menempelkan di pipinya untuk membuatnya merasa nyaman. “Aku sayang kamu, Kak... sangat.”


“Aku juga,” balas Rio dengan mata mengembun. Keduanya berpelukan dan bertangis-tangisan selama beberapa lama. Sebelum akhirnya terdengar kedua orang tua mereka masuk ke dalam rumah.


“Yo!” panggil ibunya langsung memeluk sang anak dengan begitu eratnya. “Akhirnya kamu pulang. Maafkan Ibu, ya, Yo. Maafkan Ibu. Kamu pasti pergi karena tertekan sama Ibu....”


Rio tak membantah tapi juga tak mengiyakan. Dia membiarkan saja ibunya beranggapan demikian agar beliau sadar dengan sikapnya selama ini—dengan harapan, beliau perlahan-lahan mulai berubah.


“Ibu janji akan lebih menyayangi kamu dan menantu Ibu.” Wanita ini meraih tangan Rahma setelah merenggangkan pelukannya, “Lima tahun pertama pernikahan adalah masa terberat, aku paham karena aku pernah mengalaminya—tapi Ibu berharap kalian akan tetap bertahan sampai kalian bisa melewati masa-masa sulit ini....”


Rahma tersenyum dengan mata yang basah. Namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata keharuan yang luar biasa. Dia pun mendekat dan ikut memeluk mereka berdua.


Kusuma yang melihat interaksi mereka berdua lantas melepas kaca matanya karena terlihat mengabur.


“Ibu akan bantu rawat kamu sampai sembuh, Yo. Ibu akan datang ke sini setiap hari untuk menjengukmu. Aku tidak peduli kalian akan muak melihat wajahku.”


“Ya jelas bosanlah kalau kamu cerewet,” sahut Ayah sangat berterus-terang. Membuat sang istri sontak menatapnya sangat horor. “Berkatalah jujur walau itu menyakitkan.”


“Tapi kejujuranmu bisa mengguncang dunia, Yah...” kali ini Rio ikut berkomentar sehingga ketiganya lantas tertawa renyah. Hilang sudah kekakuan di antara mereka, berganti dengan perasaan yang bahagia.


🌺🌺🌺


Sepulang Rio dari rumahnya, Yudha langsung menuju di ruang tengah. Dia bukan hanya mendapati istrinya di sana, tetapi ada Umi dan juga Dara. Ada pun suster dan ketiga anak-anaknya, namun mereka berada di depan televisi yang agak jauh dari mereka duduk.


“Tumben pada kumpul di sini?”


“Kami semua sedang mengawasimu, Mas. Takut ngomong aneh-aneh sama dia yang minta istrinya dinikahi lagi,” celetuk Dara.


“Ya, mana mungkinlah,” sahut Yudha.


“Mungkin saja, kamu itu patut diwaspadai, soalnya suka ringan tangan. Buktinya, di saat kita sedang kesulitan seperti ini saja—kamu malah bantu mereka,” kali ini Vita ikut berkomentar, “biaya pengobatan kanker keluar negeri itu lumayan lho, Mas. Apalagi Singapura... tahu sendirilah, biaya penginapannya saja berapa di sana. Belum lagi untuk makannya sehari-hari.”


“Daripada nikah lagi.” Pria itu tersenyum menyebalkan seperti biasa.


“Awas nanti malam tidur di luar lho, Nak.” Umi Ros mengingatkan.

__ADS_1


“Tidur di luar tidak masalah asalkan berdua.”


“Ada saja jawabanmu,” kata Umi beranjak dari tempat duduknya, “Umi mau ke kamar dulu, antar istrimu ke kamar, ya. Jangan terlalu nyenyak tidurnya nanti malam. Soalnya tadi istrimu sempat kontraksi.” Usai berkata demikian, Umi Ros masuk ke dalam kamarnya, sebab tadi Abah memanggil meminta dibuatkannya minum. Dikabarkan beliau sedang sakit gigi.


“Kontraksi?” Yudha menatap istrinya yang tengah mengelus perutnya.


“Tadi ... bukan sekarang. Sekarang  sudah biasa lagi,” ujar Vita yang sudah tampak lebih relaks dari sebelumnya. “Aku kaget tadi pas dengar Pak Rio menyuruhmu untuk menikahi Rahma. Bikin sebel.”


“Serius kamu kontraksi?” tanya Yudha memastikan, “atau kamu mau periksa ke dokter, mumpung belum terlalu malam.” Pria itu melihat jam di tangan kirinya.


Dara menyahut, “Iya, Ta. Mending diperiksakan saja. Supaya kalau ada apa-apa kalian bisa tahu lebih awal.”


“Aku tahu kondisiku seperti apa, aku baik-baik saja, okay?” Vita menatap keduanya secara bergantian, “yang paling penting kamu Mas, jangan bikin huru-hara lagi. Aku percaya kamu bantu mereka karena kamu mampu. Sudah... selesai.”


“Itu Maimunah masih gerak-gerak ‘kan?” tanya Yudha masih terlihat panik. Sebab pria itu pernah mengalami trauma pada kehamilan mantan istrinya. Tidak bergerak dan di duga meninggal dari semalam, tapi tidak disadari olehnya.


“Izh, ganti lagi namanya,” gerutu sang istri.


“Mana mantan pacarmu, Ra?” Yudha bertanya kepada perempuan yang saat ini tengah menggelengkan kepala melihat interaksi mereka berdua, “tumben hari ini belum kelihatan batang hidungnya. Sibuk?”


“Lagi punya kerjaan baru,” jawab Dara setengah kesal karena selama seharian ini, dia belum sekalipun di suntik vitamin oleh suaminya.


“Kerjaan apa?”


“Mau jadi afiliator?”


“Astaga,” Dara menepuk keningnya, “korban lambe tuwir sepertinya suamimu, Ta.”


“Kan lagi viral sekarang, beritanya di mana-mana ada.” Lelah membuat pria itu duduk bersandar di bahu sang istri sambil mengendus harumnya. Beruntung mental Dara sudah sangat terlatih sehingga tak merasa terganggu sedikit pun dengan pemandangan ganjil tersebut. 'Untung aku punya Alif ba ta sa.'


“Aku jadi ingat Doni salah makan,” ujar Dara tertawa setelahnya, “tapi jangan sampai deh, Alif kerja kaya gitu, Mas. Kalau lagi kurang mending jadi kang cilok, kang gorengan, kang pecel, kang rujak....”


“Apa trading itu halal, Mas?” Vita bertanya.


“Banyak perbedaan pendapat di sini. Tapi kalau mau aman, lebih baik di jauhi saja. Toh, masih banyak pekerjaan lain.”


“Iya, sih, baiknya seperti itu,” kata Dara menanggapi.


Saat mereka sedang serius mengobrol, terdengar suara tangis dari ketiga anak yang sedang bermain di bawah tangga. Sehingga membuat Yudha segera beranjak menghampiri.


“Mauza yang nangis,” ujar Vita sangat mengenali suaranya, “dia cewek sendirian, jadi kalau nangis agak drama. Kadang cuma ke sentil sedikit saja, dia langsung ngadu sama papanya. Untuk kakaknya sudah lebih tahu sekarang.”

__ADS_1


“Anak perempuan memang lebih manja ke papanya, Ta. Sama kayak aku.”


“Tapi kalau Mauza berlebihan, Dar. Dia itu kalau nangis nyarinya cowok-cowok ganteng. Sebab kalau dibujuk aku sama Mbak Ratih suka lama sembuhnya.”


Lagi-lagi Dara tertawa terbahak sampai sudut matanya berair.


“Ma...” panggil Rayyan mendekat dan langsung memeluk Mamanya.


“Apa sayang?” jawab Vita mencium si sulung. “Kenapa Adek nangis, Ka?”


“Moza rebutan mainan sama Umar, Ma. Padahal mainannya sudah dikasihkan, tapi Mozanya tetap nangis,” jawab Rayyan mengadukan apa yang dilihatnya barusan.


“Benar apa katamu, tadi,” sahut Dara.


“Itu ‘kan Mamanya Moja!” tiba-tiba suara gadis kecil penuh drama tersebut datang bersama papanya untuk menggeser posisi kakak pertama.


“Ini Mamanya Kaka juga, De. Kamu ini gimana, sih. Ade jelek!” ucap Rayyan akhirnya kesal dengan adiknya yang satu itu.


“Kakak yang delek. Kaka bau kentut,” celetuk Mauza.


“Eh ... sudah-sudah, jangan berebut. Kalian semua anak-anak Mama. Mama punya Mauza, punya Umar, punya Kaka Ray juga.” Vita meraih kedua anaknya, Mauza dan Rayyan untuk dia peluk.


Belum lima detik mereka berpelukan, datang lagi satu anak laki-laki tertangguh, “Umal mau peluk sama Onti aja,” bocah itu mendekati Dara dan gegas naik ke pangkuannya. Tidak ada kata iri pada anak ini. Umar selalu lain daripada yang lain.


“Oh, iya, sama Onti juga boleh. Boleh banget.”


“Nah, kebetulan kamu datang, jadi aku punya pasangan,” ujar Yudha begitu melihat adiknya masuk.


Alif melihat satu persatu semua orang yang ada di sana secara bergantian, tidak butuh lama sampai dia paham maksud dari lelaki ini. “Ih, mang Gue cowok apaan?” pria itu bergidik geli. “Gue, pelukan sama Elo? Hoeeek.”


Namun begitu, Yudha tetap tidak peduli. Dia tetap memaksa Alif untuk menerima pelukannya sehingga mengundang gelak tawa bagi semua yang melihat.


Mereka baru berhenti ketika Abah muncul dari dalam kamar dengan koyo yang menempel di pipi kanan-kiri ciri khas orang lanjut usia.


“Kalian membuat gigiku tambah berdenyut,” ujarnya merasa terganggu dengan suasana gaduh semua anak dan cucu-cucunya.


🌺🌺🌺


Bersambung.


Kalau kalian menemukan keanehan, sila di komentar paragraf aja, ya.

__ADS_1


Soalnya aku nggak cross check ulang.


Selamat membaca, jan lupa likenya di setiap bab ya.


__ADS_2